
Brak! brak! brak!
"Hei anak tolol, alarm mu sangat berisik!"
Teriakan dan gebrakan dari luar kamarnya membangunkan Seira yang masih tertidur. Seira terkesiap dan terbangun dari tidurnya dia langsung mematikan alarmnya.
Seira panik dan langsung bersiap-siap untuk pergi kesekolahnya. Seira tampak berantakan hari ini. Untungnya tadi dia sempat mengejar bus terakhir menuju kota dan sekolahnya. Seira juga tidak sempat sarapan.
"Apakah hari ini aku akan telat?" Gumam Seira sepanjang perjalanan.
Mengingat hari ini hari senin semua murid harus datang cepat karena upacara. Dan yap benar, Seira telat dua puluh menit dan dia hanya baru sampai gerbang. Upacaranyapun sudah akan selesai hanya tinggal penutupan.
Seira menyalahkan dirinya sendiri. Kenapa dia bisa lupa kalau hari ini adalah hari senin. Sudah pasti satpam tidak akan membuka gerbangnya.
Dan lagipula dia lupa tidak memakai dasinya. Seira berdiri didepan gerbang lama sekali. Harap-harap gerbang sudah akan dibuka dan satpam akan merasa iba. Tak lama gerbang dibuka bukan oleh satpam tetapi seseorang.
"Ayo masuk cepat, sebelum tertangkap!" Ucapnya sambil membuka gembok.
"Eh kak Ravan. Terima kasih kak!" Ucap Seira berbinar dan berlari dengan cepat masuk kedalam.
Ravan tadinya sedang berjaga kemudian dia melihat Seira adik kelas manisnya itu berdiri sendiri didepan gerbang. Karena merasa kasihan dia mengambil kunci gembok dipos satpam. Beruntung satpam tadi sedang kebelakang. Dengan cepat dia membukakan gerbang itu untuk Seira.
"Kau pergi saja dulu ke UKS bilang tidak enak badan dan tidak bisa ikut upacara." Ravan memberi saran agar Seira tidak ketahuan terlambat.
"Baik kak. Sekali lagi terimakasih kak Ravan." Ucap Seira sambil tersenyum manis sekali dan berlari.
Dan Ravan?
Dia tertegun nyaris diabetes karena disenyumi oleh gadis manis itu. Dia berdiri disana lama sekali melupakan kenapa dia bisa berdiri disana. Tapi tak bertahan lama, karena seperti biasa Alina disebrang sana sudah meneriakinya.
...*****...
Dandy tidur dengan nyenyak sekali semalaman hingga tidak ingin bangun saja rasanya. Tapi suara ibunya menyadarkanya menyuruhnya cepat bangun karena sudah pagi. Dan dengan cepat Dandy bangun. Alasanya karena untuk bisa bertemu dengan Seira.
Perempuan itu sangat cepat mendapat respon positif oleh otak Dandy dan sebentar lagi pasti hatinya. Selama ini banyak sekali gadis yang mengincarnya, namun kenapa hanya Seira yang mampu membuatnya cepat sekali meresponya?
Dandy pun bingung dia tak tahu alasanya apa. Padahal baru sehari kenal dan dua kali berpapasan. Kenapa dia sudah sangat nyaman? Walau hanya berbiacara sedikit denganya dan mengantarkanya pulang sudah membuat hati Dandy menghangat.
Apakah ini yang dinamakan cinta pandangan pertama?
Kalau iya Dandy berharap Seira juga merasakanya. Dia bertekad akan mendekati Seira dengan meminta bantuan dari teman-teman uniknya mungkin. Haikal yang duduk disebelah Dandy merasa risih karena dari tadi Dandy senyum-senyum tidak jelas.
Waktu upacara juga begitu. Bahkan ketika guru matematika yang terkesan sangat galak Bu Irina memberiakan tugas yang banyak, dan membuat murid-murid tidak terima malah Dandy tersenyum dengan bahagia.
Apa temanya itu sudah tidak waras kah?
Apakah Dandy salah minum obat?
Atau mungkin jin yang ditubuh Jerendra pindah ke tubuh Dandy?
Haikal menempelkan tanganya kekening Dandy. Dan mengerutkan dahinya. Temanya baik kok semuanya normal. Tapi Dandy masih tersenyum-senyum sendiri. Haikal bergidig ngeri, benar jinnya sudah merasuki Dandy.
"Dandy..."
"Dan..."
"Dan..."
"Dan..."
"DANDY ATMAJAYA!" Teriak Haikal dengan suara yang lantang. Anak kelas langsung menengok kearahnya. Untung ini jam kosong, jika tidak berakhirlah Haikal untuk menyapa sang mentari yang sedang terik-teriknya.
"Kenapa Kal, tida usah berteriak aku dengar kali." Ucap Dandy dengan polosnya.
Ingin sekali Haikal menjedotkan kepalanya ke tembok. Dengar apanya daritadi dipanggil hanya senyum-senyum tidak jelas.
"Kal, mau tanya."
"Apa!" Jawab Haikal cuek masih kesal karena hal tadi.
"Gimana caranya kita tahu perasaan seseorang yang kita suka?"
Haikal langsung tersenyum, melupakan kekesalanya dengan Dandy, ah rupanya temanya itu sedang jatuh cinta toh.
"Kamu lagi suka sama siapa memang?" Tanya Haikal penasaran.
"Wah! Beneran! Dia teman Melisa kan!"
Dandy mengangguk, Haikal tidak percaya ternyata selera Dandy seperti itu. Walau Seira memang kelihatan tidak seperti gadis-gadis kota lainya yang sangat memperhatikan penampilan dan terlihat pas-pasan, tapi tidak bisa dielak jika Seira sedikit popoler.
Karena berhasil mendapat beasiswa disekolah itu juga merupakan murid cerdas, sangat ramah, dan juga manis. Bahkan kakak kelas yang biasa membuli anak-anak miskin yang sekolah disana karena beasiswa mereka tidak pernah membuli Seira.
Entah apa yang dimilikinya karena setiap berjalan dia selalu tersenyum ramah, dan mau tidak mau mereka juga balik tersenyum. Seira seperti membawa keceriaan dimana saja orang melihatnya.
"Gimana Kal?" Daniel merengek kearah Haikal yang langsung tersadar dari lamunanya.
"Oke-oke ku bantu pendekatan, tapi kalau mau dapatin dia pake cara kamu sendiri. Aku juga belum bisa dapat Melisa." Ucap Haikal sambil tersenyum miris.
"Oke makasih Mas Haikal!" Dandy berucap alay sambil memeluk lengan Haikal yang membuat Haikal bergidik ngeri.
Oke fiks! Ini jin yg ditubuh Jerendra sudah pindah ke tubuh Dandy.
...*****...
Kring!
Bel istirahat berbunyi murid-murid berhamburan untuk pergi ke kantin setelah menghadapi jam yang membosankan. Begitu pula dengan Seira dia pergi kekantin dengan Melisa. Karena Milka dan Ayunda sudah kekantin duluan.
Tadi mereka berdua sempat menghampiri Seira dan Melisa namun mereka menyuruh untuk duluan saja. Sedangkan Yura, dia sudah pergi karena ada urusan osis.
Ketika baru memasuki kantin, Seira melihat Dandy dan Haikal sudah duduk bersama dengan Milka dan Ayunda. Dandy yang melihat kedatangan Seira dan Melisa langsung tersenyum dan menyapa mereka.
"Seira, Melisa duduk sini gabung bareng." Ucap Dandy mengajak mereka berdua untuk bergabung.
Semua disana menoleh, Milka dan Ayunda berpandangan heran. Dandy kan belum kenalan dengan Seora, tapi kenapa sudah kelihatan seperti akrab.
Haikal yang disebelah Dandy menatapnya memperingatkan. Seakan lupa Dandy hanya cengengesan menanggapi. Seira dan Melisa ikut gabung setelah memesan makanan mereka. Tidak lupa balasan sapaan Seira yang tersenyum manis.
"Kalian udah saling kenal?" Tanya Ayunda penasaran.
"Iya baru kemarin." Jawab Dandy santai dan Seira mengangguk mengiyakan. Mereka ber oh ria menanggapi.
"Arbie kemana Ka, tumben nggak ikut gabung?" Tanya Melisa yang mendapati tidak ada Arbie disana.
"Ya biasa lah urusan osis. Sama Yura juga tadi." Jawab Milka dan Melisa mengangguk.
"Lah si gembel satu mana, kok ngilang juga?" Tanya Melisa merasa tongkrongan ini sepi.
"Nggak masuk beb lagi kondangan." Jawab Haikal asal yang tentu saja langsung ditabok oleh Melisa.
"Bab beb bab beb! Aku bukan bebek!" Balas Melisa dengan galak. Haikal cuma cengengesan sudah biasa digalakin sama gebetan. Seira tersenyum dengan tingkah mereka.
Dandy yang daritadi curi-curi pandang ke Seira langsung deg-degan melihat senyum manis Seira. Lah perasaan Seira sudah tersenyum dari tadi deh.
"Ingin sekali berbicara terus terang tapi apalah daya diriku." Ujar Dandy dalam hatinya.
Flashback!
Dandy dengan seksama sedang mendengarkan apa kata Haikal yang katanya ingin membantunya.
"Gini nih Dan. Mending kalau kalian ketemu, kamu dibikin biasa aja coba. Kalau memang Seira ada rasa juga sama kamu pasti bakal kelihatan kok!"
"Hah maksudnya Kal. Nggak paham ih!" Ucap Dandy dengan polos.
Beginilah kalau dihadepin sama bocah TK. Batin Haikal tapi masih menjelaskan dengan Sabar.
"Yaaa...Emm...Gini! Nanti kan Istirahat Seira pasti kekantin tuh. Kamu bersikap biasa aja. Kayak enggak terjadi apa-apa sama kalian kemarin. Katanya kemarin habis kenalan sama jalan-jala—aduh!"
"Nggak sengaja ketemu!" Ralat Dandy sambil menyubit lengan Haikal.
"Iya iya! Nggak sengaja ketemu, nah jangan kelihatan banget kalau kamu itu udah suka sama dia!" Jelas Haikal dan Dandy mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ya pokoknya gitu. Jaim lah!"
Flashback end.
Dan sekarang Dandy disana jaim didepan Seira. Tapi kenapa malah Seira kelihatannya biasa-biasa saja.
Wah ini tidak ilmiah!