Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Berpura-Pura


Aku berusaha menenangkan hatiku dan menghapus air mataku hingga tetes terakhir -- demi memenuhi panggilan Angga yang melengking dan terdengar jelas sampai ke lantai atas. Dia lapar. Aku pun lekas-lekas keluar dari kamar dan menuruni tangga. Mengambil alih ia dari gendongan sang ayah yang baru hendak membawanya ke kamar untuk menyusulku.


"Cup, cup, cup... Sayang... Anak Mama... diam, ya...."


Reza tertegun. "Kok suaramu serak? Kamu menangis?"


Aku menggeleng. "Ssst...," desisku. "Jangan berisik."


Sesuai janjiku, aku akan menjaga rumah tangga ini supaya tetap utuh. Sesakit-sakitnya hatiku saat teringat video itu tatkala aku melihat Reza, aku mesti menahannya. Terutama di depan ibuku. Keluargaku hanya boleh melihat keharmonisan di antara kami. Meski sakit, harus kutahan. Meski pahit, harus kutelan.


Dan hari itu bertepatan dengan kedatangan Raline. Kulihat dia sudah duduk santai di tepi kolam sambil merendam kakinya. Raline ada praktik di suatu klinik kesehatan yang lokasinya di dekat rumah Ihsan. Sebenarnya, Raline dan teman-temannya berencana untuk mencari tempat kost atau rumah kontrakan, tapi kata Ihsan biar mereka menempati rumah Ihsan saja selama mereka praktik di Jakarta. Sedangkan Ihsan betah tinggal bersama kami. Dia takut kesepian katanya kalau tinggal di sana sendirian. Ihsan itu tipe lelaki yang sulit melabuhkan hati, tapi bukan berarti dia lelaki yang sulit move on. Karena baginya tak mesti buru-buru dalam mencari pengganti, apalagi buru-buru melabuhkan hati. Sama sekali bukan seperti itu.


Raline yang sejatinya sudah sampai di Jakarta sejak tadi pagi dan sudah menempatkan teman-temannya di rumah Ihsan -- sengaja mengunjungi kami untuk membawakan kami oleh-oleh. Terutama rujak untukku yang tak pernah ia lupakan.


"Terima kasih, ya, Sayang. Mbak senang kamu tidak pernah lupa membuatkan rujak spesial untuk Mbak."


Dia nyengir. "Ya dong... Mbak kan kesayangannya Raline. Ini sengaja Raline buatkan bumbu ekstra banyak. Mbak bisa simpan di kulkas. Lihat ni, pasti ngences."


"Uuuh... tidak sabar deh mau cicip. Buka dong...."


Tentu saja, dia langsung membukakan tutup tupperware itu untukku dan menuangkan bumbu rujaknya untukku.


"Nanti...," protes Reza. "Fokus susui Angga dulu...."


"Memang apa salahnya, Mas? Bisa kali makan sambil menyusui."


Kusunggingkan senyuman terbaik. "Pintar kamu, Dek. Terima kasih sekali lagi, kamu pro sama Mbak. Nah, yang tua, dengar, kan?"


Sakit. Di depan orang lain aku bisa berpura-pura bahagia dan seolah semuanya baik-baik saja. Tapi aku tidak bisa membohongi hati dan perasaanku. Sakitnya semakin terasa. Melihat Reza, serasa melihat Salsya dan semua kenangan di antara mereka.


Tenang, Nara. Ikhlas itu memang sulit. Butuh waktu. Tapi yakinlah kamu pasti bisa.


"Iya deh...," kata Reza. Dia mengambil alih rujak itu dari tangan Raline dan duduk di sampingku. "Buka mulut, aaa...."


Tahan... tidak boleh menangis....


"Uuuh... romantis...," seru Raline ketika melihat Reza menyuapiku. "Gimana aku nggak kepingin cepat menikah coba? Kalian romantis begini...."


Lagi-lagi aku hanya berusaha tersenyum. "Ya, Dek. Semoga setelah kamu menikah nanti kamu akan bahagia dan mendapatkan suami yang super romantis." Dan tidak berhubungan dengan mantan pacarnya di belakangmu.


"Aamiin...," ucap kami semua kompak.


Yeah, aku berusaha selalu bersikap baik dan menunjukkan keharmonisan kami. Aku tidak ingin memberitahu siapa pun, apalagi menunjukkan kenelangsaan hatiku pada semua orang. Pun di depan Reza. Jadi, di malam itu ketika aku masih santai -- selonjoran di sofa kamar dan Reza tahu-tahu membuka pintu, aku langsung pura-pura tertidur. Aku takut kalau aku mendadak mewek, emosi, atau apa pun itu ketika kami hanya berduaan. Terlebih, aku harus menghindar dulu untuk berhubungan suami istri dengannya. Aku sedang tidak siap. Hatiku sedang tidak bisa kukendalikan. Tak punya pilihan dan tak ada waktu untuk pindah ke tempat tidur, aku langsung memejamkan mata di atas sofa.


"Ya ampun, kasihan kamu, Sayang. Pasti kecapekan," gumamnya. Dia pun menghampiriku, menggendongku, memindahkanku ke tempat tidur plus menyelimutiku. Dan dia juga tidak lupa membelai dan mencium keningku. "Selamat tidur, Sayang. Mimpi yang Indah."


Selamat tidur juga, Mas. Maafkan aku. Beri aku waktu untuk bisa mengikhlaskan semuanya. Aku pasti bisa menjadi Nara-mu seperti sediakala. Hanya butuh waktu. Entah kapan. Tapi yang pasti, aku sangat mencintaimu. Hatiku hanya sedang terluka. Di sini. Di dalam hatiku ini.