
Setelah berpamitan pada semua orang, kami langsung pulang ke Jakarta sore itu. Ihsan sudah pulang duluan sewaktu kami ke kantor polisi, dan kutebak, mungkin dia sudah putus dengan Aarin setibanya mereka di Jakarta. Kuharap itu tidak membuat hati Ihsan patah. Untuk apa menangisi gadis yang bermental gesrek seperti itu, ya kan? Yeah, segesrek-gesreknya aku, aku tak pernah berniat sedikit pun menyakiti hati orang-orang yang kusayangi.
"Bunda perhatikan, sepertinya Ihsan ada masalah dengan Aarin," komentar ibuku sewaktu kami dalam perjalanan pulang. Ia duduk di depan, di samping Reza. Sementara aku dan kedua bayi kembarku santai di belakang, di kasur mobil.
Aku mengedikkan bahu. "Biasa, Bund. Namanya juga anak muda, kan? Kalau putus ya cari ganti. Yang sudah menikah saja bisa bercerai, ya kan?"
"Ya, seperti kalian berdua. Ribut lagi, ribut lagi. Awas saja kalau kalian berpikir pendek. Bunda tidak mau kalau kalian sampai berpisah dan mengorbankan cucu-cucu Bunda."
Hmm... wanita yang kucintai ini sangat peka terhadap keadaan anak-anaknya. "Nara masih sama, kok. Nara tidak akan minta cerai selagi suami Nara setia. Tapi sayangnya...."
Ibuku mengangkat alis. "Sayangnya apa?" Lalu ia menoleh ke suamiku.
"Reza tidak selingkuh, Bund. Nara cuma salah paham," katanya, sambil fokus menyetir dan sesekali menoleh.
Aku berdeham sedikit. "Jangan diajak bicara, Bund. Nanti bahaya, kan lagi nyetir."
"Kita harus membahas ini di rumah nanti."
"Tidak ada yang mesti dibahas, Bund."
"Maksudmu tidak ada yang mesti dibahas dengan Bunda? Tapi cukup di antara kalian berdua saja, dan ujung-ujungnya nanti emosimu tidak terkendali, begitu?"
"Kami akan bicara sesampainya di rumah nanti, Bund. Nara juga tidak akan bertindak gegabah. Nara akan usut dan mencari buktinya. Tapi seperti kata Bunda dulu, ya. Kalau dugaan Nara benar dan Nara dikhianati, Nara boleh minta pisah. Nara boleh mengambil keputusan seperti yang Bunda lakukan dulu. Iya, kan?"
Membisu. Ibuku tidak bisa menyahut. Tapi aku tahu ada kesedihan mendalam di hatinya. Tapi aku juga tak bisa menampik, seandainya terbukti suamiku tidak setia, berarti dia sudah menjatuhkan talak atas diriku. Dan aku tak bisa menutup mata akan hal itu, bila kuteruskan dan aku masa bodoh, sama saja aku berzina dengannya kalau kami masih menjalani hidup selayaknya suami istri. Meskipun nantinya aku memutuskan untuk bertahan, dia mesti menikahiku ulang. Aku tidak ingin menjalani hidup dalam keraguan. Aku tidak ingin yang kukira berbuah pahala -- malah ternyata merupakan dosa berjepanjangan untukku. Walau bagaimanapun juga, aku tidak akan pernah ikhlas kalau aku dikhianati.
"Bunda tenang saja. Reza jamin tidak akan ada perpisahan, apalagi sampai mengorbankan anak-anak."
Aamiin... kuharap kamu benar-benar akan jujur, dan apa yang dikatakan Aarin itu seratus persen salah.
Jauh di dasar hatiku, aku menyadari bahwa aku bisa memaafkan Reza jika ia sekadar memenuhi keinginan terakhir Salsya: mencium, memeluk dan menyatakan cinta padanya. Toh, selama ini aku sudah merasakan yang lebih pahit tiap kali Reza memenuhi keinginan Salsya semasa ia masih hidup. Dan sekarang, Salsya sudah tiada. Aku bisa menganggap kalau Reza sekadar ingin mengantarkan Salsya dalam ketenangan -- sekadar mempermudah perempuan itu melewati detik-detik sakaratul mautnya.
Tapi tidak tentang pernikahan.
Aku tidak akan pernah menerima seandainya suamiku benar-benar terikat pernikahan dengan wanita lain, baik sebelum dia menikahiku atau pun setelah ia menikahiku. Aku tak ingin berstatus sebagai yang kedua, apalagi diduakan. Meski dengan dia yang sudah terbaring di alam kuburnya. Tidak akan pernah.
Detik itu, dari kaca spion, aku menyadari Reza memerhatikanku. Matanya menatapku, sementara air mataku menggenang dan mengaliri pipi.
Katakanlah aku bodoh, tapi di dalam hatiku, aku masih menaruh harapan untuk rumah tangga kita -- keutuhan cinta untuk kedua buah hati kita. Meski aku harus menelan rasa pahit....