
《 Hai. Bagaimana kabarmu? Baik, kan?
Whatsapp iseng. Aku tahu adik lelakiku itu pasti baik-baik saja.
》 Apaan sih... aku baik-baik saja. Masih hidup. Masih bernapas. Masih sehat walafiat. Aman terkendali.
Aku terkikik. Mana mungkin juga dia kenapa-kenapa hanya karena disakiti oleh seorang perempuan. Dia kan kuat. Dia terlahir sebagai kesatria untuk kami. Pelindungku dan ibuku, sekarang juga untuk kedua bayiku. Dia tidak hanya berperan sebagai anak yang baik dan saudara yang sempurna, ia sekarang juga sudah berperan sebagai paman yang baik bagi kedua anakku. Ah, aku merindukannya.
《 Kamu tahu, kan, kalau kami sudah pulang ke Jakarta? Main ke sini, ya....
Ting!
》 Ya, pasti. Nanti, ya... tunggu senggang. Aku sudah mulai sibuk. Ada banyak pekerjaan di kantor yang mesti kuselesaikan. Kalian jaga diri baik-baik. Oke?
Uuuh... kedengarannya dia sedang menyibukkan diri. Biasalah, cara lelaki menata hati.
Semoga engkau bahagia adikku sayang.
Tok! Tok!
"Sayang, aku boleh masuk, ya?"
Srettt... kutarik selimut dan pura-pura tidur. Karena tak ada jawaban, Reza menarik turun handle pintu. Dia pun masuk setelah pintu terbuka.
"Ya ampun... dia ketiduran," gumamnya, lalu ia menutup pintu di belakangnya sepelan mungkin.
Aku memang tidak pandai berbohong, tapi aktingku tak pernah payah.
Sebelum naik ke tempat tidur, Reza menghampiri boks tidur Angga dan Anggi lebih dulu untuk mengecek keadaan mereka dan memastikan mereka tidur nyenyak dan nyaman. Setelah itu barulah dia menghampiriku. Ia merapikan selimutku, lalu membelai rambutku. Sebelum menciumku, dia berbisik, "Selamat tidur, Sayang. Mas sayang Nara."
Emmmmm... kenapa cara ngomongnya mesti begitu, sih? Aku bisa meleleh, tahu...! Euw!
Ceklek!
Tapi tidak jadi. Suara tangis Anggi menahan langkahnya dan ia kembali menutup pintu.
"Ssst... Sayang... Anak Papa kenapa nangis? Lapar, ya, Sayang? Cup cup cup... kita bangunin Mama, ya...."
Hiks... kamu kesannya sayang sekali pada keluarga. Tapi kenapa kamu suka sekali berbohong?
"Ma... Mama, bangun. Anggi lapar."
Hoaaa... aku merasa seperti butiran gula yang meleleh dengan temperatur panas yang pas. Manis dan krenyes-krenyes.
Pura-pura menguap, aku pun membuka mata, lalu beringsut duduk. "Sini," kataku hendak menyambut bayi perempuanku dari gendongan ayahnya. Ayahnya yang tampan dan masih sangat kusayangi.
"Jangan lihat-lihat," kataku ketika membuka ritsleting gaun tidurku. "Bukan muhrim."
Ah, aku berkata begitu tapi bibirku tak bisa menahan senyum.
Reza tidak menyahut. Dia juga tersenyum -- maksudku balas tersenyum. Manis sekali -- membuatku semakin meleleh. Ya ampun... aku kangen dengan keharmonisan kami.
Ayo, Nara... fokus... Anggi lapar. Jangan mikirin bapaknya terus!
Kuposisikan Anggi senyaman mungkin di dada kananku. Bayi perempuanku ini miminya banyak. Dia bisa mengosongkan tampungan asiku dalam sekali mimi. Pun Angga, dia juga begitu. Dan...
Tak lama, Angga ikut menangis karena lapar. Reza menghampiri boks-nya, menggendong putra pertama kami itu dan membawanya kepadaku. Agak rempong kalau keduanya ingin mimi susu di saat yang bersamaan seperti ini. Apalagi aku sedang tidak menyetok ASI di lemari es.
"Sini, biar kubantu," kata Reza. Dia naik ke tempat tidur, lalu membantu memosisikan Angga di dada kiriku. "Anak-anak yang pintar," gumamnya. "Nanti kalau sudah kosong -- giliran Papa, ya."
Iyuuuh....
Tidak tahan, aku pun cekikikan. Dasar suami sableng!