
"Bentuk badanku jadi jelek," gumamku pada keesokan paginya.
Reza tersenyum, kemudian mengecup keningku. "Kamu wanita paling cantik di dunia. Aku selalu mencintaimu. Lagipula, badanmu pasti segera langsing. Walaupun sekarang berat badanmu berlebih, yang penting kan anak-anak kita monto*-monto*. Mereka lucu dan gendut."
"Kamu sih, Mas," kataku, "mencekokiku makanan terus."
Reza nyengir. "Aku hanya ingin istri dan bayiku sehat, Sayang." Lalu ia menatap lagi pada dua jagoannya, ia menggelitik hidung-hidung mungil itu dengan pelan. Mereka tersenyum, tangannya bergerak-gerak dan menguap. "Mereka sangat menggemaskan, sepertimu. Apalagi Anggi, dia mewarisi kecantikanmu, Mamanya."
Masa sih?
Aku tersenyum. "Kamu memang pandai merayu."
"Hebat, dong, aku?"
Iyuuuh.... dasar... ya. Kami berdua pun cekikikan. Lalu, di saat yang bersamaan, suara ketukan di pintu menarik perhatian kami. Ibuku dan Ihsan sudah datang rupanya.
"Bunda bawakan makanan. Kalian belum sarapan, kan?"
Reza menggeleng. "Belum," sahutnya, sementara aku tidak menjawab. Yeah, sebenarnya aku sudah sarapan hidangan dari rumah sakit, tapi tidak apa, kan, kalau mau icip-icip lagi? Ibu menyusui butuh asupan makanan yang banyak. Benar, kan?
"Suapi aku, ya."
"Duuuh... manja, ya, mamanya si kembar."
"Ya... kapan lagi bisa manja-manja." Aku nyengir. "Mumpung dede-dedenya ada yang gendong."
Tok! Tok!
Ayahku berdiri di ambang pintu.
"Masuk," kataku, walau sebenarnya aku ragu.
"Em, terima kasih, Yah. Terima kasih juga oleh-olehnya."
Dia mengangguk, lalu menoleh ke jagoan kecilku dalam gendongan neneknya. Ibuku yang mengerti langsung memberikan bayi itu kepadanya. Hmm... sungguh, raut bahagia terpancar jelas di wajah ayahku saat menggendong cucu laki-lakinya itu. Tetapi...
Tidak dengan ibuku. Bukan, ibuku bukannya tidak bahagia, hanya saja masih ada luka yang menganga. Aku tahu ia teringat masa lalu, lelaki yang saat ini ia tatap -- dulu, dia hampir tidak pernah menggendong anak lelakinya. Bahkan saat ibuku sibuk dengan pekerjaan rumah tangganya dan menitipkan Ihsan pada sang ayah, yang harusnya ia timang-timang dengan sayang, tapi bayi itu malah ia taruh di atas kakinya yang bersila, sementara mata dan jari-jarinya sibuk dengan ponsel di tangannya. Ibuku pernah menceritakan tentang ini kepadaku, satu hal buruk yang dilakukan mantan suaminya itu dan tidak akan pernah bisa ia lupakan. Kala itu ibuku langsung mengambil Ihsan dari kaki ayahnya yang tak pernah sayang padanya.
Merasa tidak kuat, ibuku langsung beranjak ke pintu dan hendak keluar dari ruang rawatku. Tetapi...
Tidak jadi. Ia tidak jadi keluar. Ia justru berbelok dan bersandar ke pintu.
"Kenapa, Bund?"
Dia menggeleng. "Tidak apa-apa," katanya, tapi suara paraunya justru menjelaskan bahwa ada sesuatu di luar sana yang membuatnya tersentak kaget.
"Ada siapa di luar?" tanyaku.
Ayahku langsung cemas. "Di luar...."
Ihsan menaruh Anggi ke tempat tidur, lalu beranjak ke luar pintu. Dia berada di luar selama satu atau dua menit. Lalu kembali masuk. "Silakan pergi," katanya pada ayahku.
"Nak."
"Jangan panggil saya, Nak."
"Tolong?"
"Silakan keluar, bawa pergi wanita murahan itu dari sini."
Aku langsung mengerti, pasti salah satu istri siri ayahku. Dia memang tidak akan pernah bisa memahami luka hati kami -- luka yang tak akan pernah sembuh.