
Kuhela napas dalam-dalam dan berusaha tenang. "Sebelum kamu cerita, aku mau tanya dulu. Dan tolong, jawab pertanyaanku dengan jujur. Hmm?"
"Oke, silakan. Apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Jujur, apa aku masih istrimu? Apa akad kita belum terputus sampai detik ini?"
"Ya," kata Reza, ia mengangguk. "Kamu masih istriku. Kita masih pasangan yang sah, halal, dan akad kita sama sekali belum terputus."
Aku mengangguk dan sedikit lega. "Lalu apa, Mas? Apa yang ingin kamu jelaskan?"
Sekarang giliran Reza yang menghela napas dalam-dalam. Dia membuatku bergidik. Sepertinya, apa yang ingin disampaikan oleh suamiku itu benar-benar sesuatu yang berat.
"Hal ini tergantung bagaimana caramu memandangnya. Akan terasa kecil kalau kamu berpikirnya seperti itu. Dan sebaliknya, ini akan menghancurkan kalau kamu menyikapinya seperti... kamu mengerti, kan? Seperti karaktermu yang biasanya. Seperti Inara yang selama ini -- yang seringkali emosi dan meluap-luap. Jangan seperti itu. Please, jangan seperti itu. Kumohon?"
Aku mengangguk, aku paham. "Aku akan berusaha tenang," kataku.
"Ini menyangkut kejadian malam itu. Ihsan sudah menjelaskannya padaku, dan kami sama sekali tidak tahu dari mana Aarin mendapatkan informasi. Karena kata Ihsan, malam itu Aarin bersamanya. Berarti Aarin mendapatkan informasi dari seseorang yang waktu itu ada di tempat kejadian. Jadi, kemungkinannya ada dua: mungkin ada saksi mata atau bisa jadi pelaku itu sendiri yang menyaksikannya, atau, Aarin hanya menebak-nebak dan asal karang cerita -- yang kebetulan persis seperti cerita di malam itu. Aku tidak tahu."
Aku berpikir sejenak dari apa yang kutangkap berdasarkan penjelasan Reza. Andai pelakunya Kayla dan dia masih ada di sana sewaktu Reza datang, itu berarti Kayla menceritakan apa yang ia lihat kepada Aarin. Tetapi, rasanya mana mungkin Kayla teledor. Jika dia menceritakan hal itu pada orang lain, itu sama saja dia memberikan petunjuk pada orang lain bahwa dialah pelakunya. Dan jika dia menceritakan apa yang dia tahu kepada Aarin, kenapa kemarin Kayla malah menjelekkan Aarin? Kenapa dia membuka kebobrokan Aarin kepadaku? Apa Aarin dan Kayla juga dekat, seperti Aarin yang dekat dengan Salsya? Puzzle ini belum ada titik temu, pikirku.
Aku mengangguk. "Ya. Lanjutkan."
"Oke. Asal kamu tetap tenang. Dengar, menurutku kemungkinan Aarin hanya asal karang cerita dan kebetulan karangannya itu sesuai dengan cerita malam itu. Kita anggap saja begitu. Tapi...."
Aku mengernyit melihat Reza yang tiba-tiba terdiam. "Apa?"
"Aku mengaku, kalau malam itu aku memenuhi keinginan Salsya. Aku mencium keningnya dan memeluknya. Aku minta maaf."
Itu hanyalah pembukaan, aku yakin. Tentu saja aku mengatakan bahwa aku tidak mempermasalahkan hal itu. Sebab, dengan perasaan atau tidak, pastilah Reza melakukannya demi -- supaya Salsya tidak berlama-lama menderita dengan sakaratul mautnya. "Aku memaafkanmu untuk hal itu. Walaupun kamu terpaksa mengatakan kalau kamu mencintainya, aku juga bisa memaafkan hal itu."
Tapi Reza menggelengkan kepala dengan mata berkaca. Dia membuatku kembali cemas.
"Kenapa kamu menangis?" tanyaku. "Kamu tidak mengatakan itu karena terpaksa? Iya? Apa... apa memang begitu perasaanmu yang sesungguhnya pada Salsya? Kamu benar-benar mencintai Salsya, Mas?"
Lagi, dia menggeleng. "Bukan. Bukan itu. Tapi aku... aku ingin menjelaskan... kalau ikrar cinta yang dimaksud adalah... aku menyebutkan namanya dalam ijab--"
Plak!