
Aku sudah mencoba membuat akun baru demi mencoba menghuhungi Kayla via messenger. Aku tidak ingin gegabah dan membuatnya dicari-cari oleh masyarakat se-Indonesia. Dan meski kesal, Ihsan memberikanku waktu selama satu minggu untuk menunggu balasan pesan dari Kayla. Tapi sialnya, Kayla memprivasi akunnya dengan sangat ketat, bahkan aku yakin -- pesan messengerku pasti masuk ke sistem filter di messenger-nya. Sehingga satu minggu berlalu begitu saja dan Ihsan tak ragu lagi menyebarkan foto Kayla dengan tajuk "DICARI: ORANG HILANG" dengan nama Kayla terpampang nyata di selebaran offline itu, bahkan foto itu juga tersebar secara online.
Tetapi, nihil. Memang banyak telepon masuk yang menghubungi Ihsan, tapi bukan untuk memberikan kabar baik tentang keberadaan Kayla yang sudah berada dalam genggaman tangan si penelepon, melainkan ia hanya mengatakan bahwa dia melihat Kayla berada di suatu tempat yang ia sebutkan namanya, kemudian ia minta bayaran atas informasi itu.
Ihsan seringkali geram dengan penelepon yang seperti itu. "Woy, dengar, ya. Silakan tangkap dan bawa ke sini. Dijamin Anda akan mendapatkan imbalan cash. Paham?" berangnya. Ya ampun, sudah berapa kali dia hilang kesabaran seperti itu?
Beruntung, ibu kami yang perhatian dan pengertian itu acap kali membuatkannya susu cokelat dingin dan menepuk-nepuk punggungnya dengan pelan. "Sabar... semakin kamu sabar, kamu semakin tampan. Percaya deh pada Bunda."
Dia tersenyum kecut. "Kesal, Bund," katanya. "Hampir seminggu, tapi sama sekali tidak ada hasil. Nihil!"
Aku tahu kenapa Ihsan sampai sebegitunya --sebegitu usaha ia mencari Kayla dan sebegitu juga rasa kecewanya karena tidak bisa menemukannya. Jelas ia dirongrong rasa bersalah yang disebabkan oleh Aarin -- yang dia rasa itu karena kebodohannya yang membawa gadis itu masuk ke dalam ruang lingkup keluarga kami.
"Omong-omong, apa Joe sudah memastikan -- apa Kayla sudah pergi ke luar kota atau ke luar negeri sebelum dia memblokir akses Kayla di bandara atau di pelabuhan? Mungkin Kayla sudah ke luar negeri sebelum aksesnya diblokir. Dan mungkin sekarang dia sudah tidak di Indonesia. Bisa jadi, kan?"
Ihsan diam saja, dan itu sudah cukup untuk menjawab pertanyaanku.
"Tidak apa-apa, kok. Santai saja. Kayla mungkin sudah tahu kalau fotonya tersebar. Meski mungkin dia sekarang di luar negeri, dia pasti bakal capek juga bersembunyi terus."
Dia mengangguk. "Aku tahu, tapi aku tetap tidak enak. Kalau masalah ini cepat kelar, kalian juga cepat kembali bersama."
"Jangan dipikirkan," sela ibuku. "Mulai besok mereka juga sudah bisa bersama lagi. Kan sudah empat belas hari. Hari ini terakhir, kan?"
Reza mengangguk, tapi hanya sebatas itu -- membenarkan masa isolasi dalam tanda kutip itu -- masa empat belas hari yang sebentar lagi akan berakhir. Sedangkan untuk kebersamaan kami sebagai suami istri, kami tidak bisa memberikan respons apa-apa. Yeah, lebih baik diam karena terkadang diam itu emas. Meski sebenarnya Reza sudah wanti-wanti terhadapku. Biar hanya kami berdua yang tahu katanya -- apa yang sebenarnya terjadi di antara kami berdua. Sebab, dia kasihan pada ibuku yang menurutnya pasti ikut terbeban.
"Kalau bisa, tunjukkan pada Bunda dan Ihsan kalau hubungan kita baik-baik saja. Aku tahu kamu menelan rasa pahit, dan memang tidak adil bagimu untuk berkorban perasaan, padahal ini bukan salahmu. Tapi demi Bunda, aku harap kamu bersedia berkorban. Aku mohon?"
Dan pertanyaan yang bersifat global, kenapa perempuan yang seringkali berkorban perasaan? Terutama demi anak -- atas nama anak. Kenapa?
Yeah, tidak ada gunanya menanyakan hal itu. Karena semakin hal itu berkutat dalam pikiranku, maka semakin banyak pula pertanyaan lain yang bermunculan. Pada akhirnya aku mengangguk dan mengiyakan nasihatnya yang merupakan permintaan dari lubuk hatinya yang terdalam. Hingga empat belas hari itu benar-benar sudah berakhir.
Tok! Tok! Tok!
"Sayang, kamu sudah bangun?"
"Em, ada apa?" tanyaku yang baru melek.
"Aku boleh masuk, ya?"
Ceklek! Dia sudah membuka pintu meski aku belum mengiyakan.
"Sudah empat belas hari. Aku sudah boleh masuk, kan?"
Ya ampun, baru jam empat pagi. "Anak-anak masih tidur, Mas," sahutku sambil beringsut duduk.
Tapi dia keukeuh. Dia masuk dan malah berjongkok lutut di depanku, menggenggam tanganku dan menciumnya dalam-dalam. "Anak-anak masih tidur. Tapi Mamanya sudah bangun, kan?"
"Mas...."
Dia menggeleng, lalu membenamkan wajahnya di atas pangkuanku dengan tangan yang melingkar erat memelukku. "Tolong, jangan siksa aku lebih lama. Aku tidak sanggup lebih lama tanpamu. Please... aku sangat merindukanmu, Sayang. Aku kangen sekali padamu. Jangan menyuruhku pergi. Please...?"