Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Perdebatan


Hari demi hari berlalu. Hasil tes DNA pun keluar. Aku tidak ikut ke laboratorium. Hanya ayahku dan Nicholas yang pergi ke sana untuk mengambil hasil print out-nya. Tetapi, meski demikian, aku pun sudah mendapatkan informasi dari lab yang dikirim via email.


Hasilnya positif.


Persentase kecocokan DNA Nicholas dan Aulian mencapai sembilan puluh sembilan persen. Jujur, ada kelegaan di dalam hatiku -- terlepas dengan semua kesalahan Nicholas di masa lalu, aku senang karena ternyata anak itu masih memiliki keluarga kandung. Dan sesuai perjanjian di antara kami, Nicholas tidak boleh bertindak seenaknya, dia tidak boleh mengambil Aulian sebelum aku membahas perihal tes DNA itu dengan Reza. Aku meminta waktu, maksimal sampai aku melahirkan. Nicholas pun memaklumi dan ia bisa bersabar.


Tetapi, justru aku yang tidak sabar. Aku tidak tenang menyimpan hal sebesar itu lebih lama lagi dari Reza.


Hari itu, tanggal 14 Juni, dua hari menjelang waktu harusnya aku melahirkan. Aku dan Reza tengah berpelukan di dalam selimut dengan tubuh kami yang polos dan lengket karena peluh, hari sudah menjelang jam sepuluh malam, tapi hatiku gusar dan aku merasa -- aku tidak ingin merahasiakan kebenaran tentang Aulian lebih lama. Aku ingin, sebelum anak-anakku lahir, Aulian sudah memiliki nama keluarga Nicholas, dan tidak lagi menyandang nama Dinata. Egois? Yeah, aku mengakuinya. Aku egois.


Aku menghela napas dalam-dalam setelah napas kami stabil dengan posisi tubuhku yang miring -- meringkuk memeluk Reza, satu tanganku melingkar di pinggangnya. "Ada yang ingin kuceritakan," kataku.


"Apa, Sayang?"


Aku kembali ragu dan diam sesaat.


"Katakan saja."


Aku mengangguk dan buka suara, "Kamu kenal Nicholas?" tanyaku.


"Nicholas...." Reza nampak berpikir sejenak.


"Mantan tunangan Kayla."


"Oh," katanya manggut-manggut. "Mantan?"


"Yeah, sekarang sudah mantan. Kamu kenal?"


"Em, ya... aku kenal. Kamu juga kenal?"


"Kenal, dia temannya Kam Rizki."


"Oke. Jadi, kenapa kamu--"


"Dia ayah kandungnya Aulian."


Prank! Prank! Prank!


"Dia ayah kandungnya Aulian. Tes DNA-nya cocok. Dan dia... ingin mengambil alih hak asuh atas Aulian."


Reza melongo, tapi kepalanya menggeleng. "Tidak bisa," gumamnya.


"Tapi dia ayah kandungnya, Mas. Dia berhak atas hak asuh Aulian," ujarku datar.


Tapi Reza tetap menggeleng penuh penolakan. "Aku tidak akan membiarkan dia mendapatkan hak asuh atas Aulian."


Aku tercengang. Reaksi Reza bahkan di luar batas pemikiranku. "Kamu memang sudah mengadopsinya, tapi Nicholas lebih berhak atas anak itu."


"Dia tidak pernah mengurusi anak itu sedikit pun," katanya agak sengit. "Bahkan dia tidak pernah peduli pada Salsya, ya kan?"


Aku mengernyit, lalu beringsut duduk sambil menahan selimut menutupi dada. "Kenapa, Mas? Kamu tidak rela? Kenapa? Karena Aulian anaknya Salsya? Hmm?" masih dengan nada datar, tapi mataku mulai berkaca.


"Sayang...." Ia ikut duduk.


"Ayahku bahkan lebih parah."


"Sa--"


"Dua puluh dua tahun."


"Jangan--"


Dadaku bergemuruh. Penolakan Reza membuat emosiku terpancing. "Kamu minta aku memperbaiki hubunganku dengan ayahku. Tapi sekarang? Kamu aneh!" Aku memalingkan wajah dari tatapannya. "Pokoknya aku akan bantu Nicholas untuk mendapatkan hak asuh Aulian. Terserah kamu setuju atau tidak."


"Jangan berbuat lancang!" singitnya.


Reza berdiri, meraih celana dan kausnya, lalu mengenakannya dan keluar dari kamar. Disaat yang bersamaan aku mencoba melerainya, aku turun dari tempat tidur dan mengenakan kembali gaun tidurku. Tetapi...


"Auw!"


Perutku keram dan seketika tubuhku ambruk. Otomatis, aku panik menyadari cairan bening merembes dari kakiku.


Ya Tuhan, ketubanku pecah.