
Beberapa puluh menit kemudian. Yap, dia lama sekali, bahkan rasa kantuk malah menyergapku lebih dulu.
Ceklek!
"Kamu kenapa? Kedinginan?" tanya Reza begitu ia melihatku terselubung selimut.
Wew! Dia panik. Boro-boro pikirannya menjurus ke sana. Padahal tubuhku sudah polos sepolos-polosnya di bawah selimut.
Huh! Malu! Sekalian kuselubungkan selimut sampai menutupi kepalaku.
"Sayang...," panggil Reza. Dan... dia cekikikan begitu melihat tubuhku yang polos meringkuk di bawah selimut yang baru saja ia sibakkan itu. "Kamu kenapa?" tanyanya.
Dasar sok polooooos....
Ah, sudah kepalang. Kutarik saja dia sampai dia tertelungkup di atas ranjang bersamaku. "Jangan sok polos! Jangan banyak tanya! Cusss, ayo ngegas!"
"Sayang, maaf. Tapi aku tidak suka melihatmu terpaksa--"
Kugelengkan kepala cepat-cepat. "Aku tidak terpaksa," kataku. "Entah aku masih ragu ataupun tidak, tapi... kalau bukan sekarang, kapan lagi? Please... bimbing aku, Mas. Jadikan aku sosok istri yang taat -- yang mampu menjalani semua kewajibanku sebagai seorang istri."
Reza terdiam sejenak, lalu ia membelai wajahku sambil menatap mataku dalam-dalam. "Aku malu. Aku saja tidak becus menjadi suami. Tidak becus menjaga perasaanmu."
"Ssst... biarkan itu menjadi bagian masa lalu kita. Yang terpenting sekarang kita bersama. Kita mulai lagi -- menata ulang rumah tangga kita sebaik-baiknya. Bahkan kalau perlu, aku tidak akan membiarkanmu jauh-jauh dariku. Hmm? Aku minta maaf."
Reza tersenyum. "Aku yang minta maaf. Semuanya bermula dari aku. Dan... terima kasih karena kamu berkenan memberikan aku kesempatan lagi." Kemudian dengan agak kikuk ia mulai mendekat, menciumku dan mengulu* bibirku.
"Aku menginginkanmu," bisikku.
Reza beringsut. Dengan sekali anggukan, ia memberikanku akses untuk membuka pakaiannya. Yeah, tubuh itu -- tubuh yang kurindukan. Kami sudah sama-sama polos, menikmati pemandangan satu sama lain, dan kemudian saling menyentuh, mencicipi dan saling menikmati sesuatu yang sudah lama terlewat di antara kami.
"Aku kangen kamu, Sayang. Kangen sekali."
Dan dengan perlahan, kami pun memulai dan akhirnya menggila. Reza mencumbuku dengan rakus, tanpa menahan apa pun. Bibirku, leher, hingga ke dada. Semua terjamah dengan ekstra. Merah, panas, dan menggelora. Tak satu pun luput dari cumbuannya. Ia sukses membuatku tak henti-hentinya mengeran*. Nikmat!
"Aku ingin turun, boleh?"
Aku mengangguk, menekuk lutut dan memberikannya akses mencicipiku. Tentu saja, Reza langsung membenamkan bibirnya di sana. Lidahnya yang sensua* turut menggelitik dan menyapu dengan liar.
"Nikmat, Sayang?"
"Aku...."
"Masuklah. Jangan ragu."
"Terima kasih." Dia tersenyum.
Lalu...
"Auw!"
"Kenapa?"
"Sakit, Mas...."
Hah! Aku meringis macam anak perawan yang baru diunboxing.
"Tahan, ya...."
"Pelan-pelan, Mas...."
"Iya. Kamu rileks."
Tahan, Nara... diunboxing keperawanan saja sanggup. Masa ini nggak? Ingat, salah satu alasan ayahmu selingkuh karena kurang kepuasan. Tahan sakitmu. Tahan!
Tapi sakit sekali...! Sumpah demi apa pun, sakit sekali. Dan...
"Eummmmm...," aku mengeran* sekaligus meringis menahan sakit saat ia menekan dan membenamkan diri, dan...
Akh!
Ya Tuhan, sakitnya sungguh luar biasa, perih, ngilu, pula!
Reza cengengesan. "Huh! Berhasil, Sayang," serunya. Bahagia sekali dia kendati menyadari mataku memerah. "I love you. Tahan, ya... nanti sakitnya pasti hilang. Boleh lanjut, kan?"
Aku mengangguk, dan Reza pun kembali mencumbuku dengan cinta, lalu ia berbisik, "Terima kasih. Malam ini aku sangat bahagia. Karenamu... hanya karenamu."