
《 Terima kasih sudah bersedia menghubungiku. Tapi kamu tahu dari mana tentang kalimat ijab itu? Kamu punya videonya?
Ya ampun, tanpa sadar -- aku masih saja mencari bukti asli itu. Padahal mestinya aku sudah mengubur dalam-dalam soal itu mengingat janji yang sudah kuucapkan kepada ibuku.
》 Aku tahu sebab aku yang merekam video itu. Aku ingat, waktu itu sebenarnya Reza berusaha menjelaskan ke Salsya tentang rencana pernikahan kalian yang akan digelar di Palembang, dan Reza meminta Salsya supaya dia mengerti bahwa dia harus melepaskan Reza. Tapi, kita sama-sama tahu, kan bagaimana Salsya? Dia tidak bisa menerima hal itu dan dia nekat melompat ke kolam padahal dia tidak bisa berenang. Dan kamu tahu sendiri bagaimana baiknya Reza, dia mengiyakan lagi saat Salsya memaksanya untuk menikahinya, bahkan dia memenuhi keinginan Salsya yang minta disebutkan namanya dalam ijab. Agak konyol, tapi aku juga sama konyolnya yang diam-diam merekam momen itu. Itu yang terjadi, Ra. Kalau kamu mau lihat video aslinya, coba cek di akun fb-nya Salsya: salsyadinata11@gmail.com. Dia selalu menyimpan momen kenangannya di akun itu. Tapi maaf, aku tidak tahu password-nya.
Kuhela napas dalam-dalam. Ada banyak beban yang dilalui Reza demi Salsya dan dia tidak menceritakan hal itu kepadaku. Dan kenangan, Salsya menyimpan memori-memori itu sebagai kenangan. Apa saja? Aku penasaran. Dan mencoba membuka akun pribadi Salsya.
Password... apa password-nya? salsyadinata11. "Sebelas? Sebelas Januari? sebelasjanuari? Pasti itu."
Dan wow! Benar.
Dan saking hebatnya, rasa penasaranku itu justru menjadi boomerang yang menyakiti diriku sendiri. Video seperti yang disebutkan oleh Kayla itu memang ada -- dan persis sama. Tapi malang bagiku, ternyata di akun itu ada begitu banyak video lain yang membuat hatiku melesak. Diantaranya: video ketika Reza mengusap perut Salsya yang tengah hamil besar. Video bagaimana Reza berusaha membujuk Salsya untuk makan dan minum supaya dehidrasinya membaik. Video ketika Reza menyuapi Salsya. Video bagaimana Reza menenangkan Salsya yang histeris. Video ketika Reza menemani perempuan itu sebelum dia lahiran. Video ketika Reza mengazani Aulian dan menggendong bayi itu -- menyerahkannya untuk pertama kali kepada sang ibu. Dan masih banyak lagi video lainnya.
Ya Tuhan... aku tahu itu semua perbuatan baik. Aku tahu Salsya sudah tiada. Aku tahu meski yang dilakukan Salsya itu salah, tapi dia sosok perempuan yang mengalami depresi berat. Reza hanya sosok lelaki yang baik, yang berperikemanusiaan terhadap ibu dan anak itu. Dia hanya ingin menolong mereka. Tapi kenapa? Kenapa aku tetap saja cemburu? Kenapa begitu sakit melihat suamiku memperlakukan perempuan lain dengan sebegitu baik? Bahkan padahal sekarang Salsya sudah tiada, kenapa aku masih saja cemburu padanya -- pada sosok yang sudah meninggal dunia?
Ya Tuhan, apa sebenarnya hatikulah yang jahat?
Bodoh! Kenapa aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri? Kenapa aku tidak bisa mengalahkan rasa penasaranku? Tak semestinya aku melihat video-video itu. Tapi ini sudah terlanjur, harusnya aku bisa mengenyahkan rasa sakit dan cemburuku itu.
Tapi tak bisa. Aku tidak bisa. Cemburu itu membuat hati dan perasaanku begitu sakit. Ya Tuhan....