Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Where Are You, Kay?


"Mana kuenya?" tanya Ihsan saat makan malam di malam itu. Dia mau mencicipi kue buatanku.


Dan, untung saja aku membuat dua loyang. Untuk kue ulang tahun yang dipasang lilin, sengaja aku menggunakan loyang ukuran kecil, kue khusus untuk Reza. Sedangkan kue dengan loyang cukup besar untuk dipotong dan dimakan bersama-sama. "Silakan dihabiskan," kataku setelah mengeluarkan kue itu dari lemari es untuk mempercepat lelehan cokelatnya mengeras.


"Jadi, apa ada hasil dari perjalanmu ke Bogor, Nak?" tanya ibuku.


Reza menggeleng. "Tidak ada, Bund," katanya. "Rekaman dari kamera Nara yang disita polisi tidak ada petunjuk apa-apa. Rekaman itu mati setelah kameranya jatuh. Di situ cuma ada Nara dan Salsya. Tidak ada orang lain yang tertangkap kamera."


Sengaja aku berdeham sedikit, lalu bertanya, "Hari itu kamu jadi ke pemakaman Salsya?"


Ia mengangguk. "Jadi, Sayang. Tapi nihil juga. Kata penjaga makam, mereka tidak pernah melihat peziarah yang datang ke sana. Sekali pun." Dia berhenti sejenak untuk minum beberapa teguk air. "Aku juga sempat ke panti, mau tanya-tanya ke Bu Nurul, mungkin ada yang dia tahu tentang Salsya. Nihil juga. Nicholas pun sama, dia tidak tahu apa-apa. Satu-satunya orang terdekat Salsya, Kayla, dia malah tidak ada di rumah. Tetangganya tidak ada yang tahu dia ke mana. Jalan bun-- tu."


"Mungkin dia sudah pindah ke Jakarta juga," sela Ihsan. "Aku sering melihat dia di sekitar Taman Anggrek."


Aku tertegun, tepatnya sedikit terkejut. "Serius? Dia di sini?" kataku refleks. "Kok...?"


Semua orang menatap ke arahku. "Kenapa?" tanya ibuku. "Memangnya kenapa kalau dia ada di sini? Kamu kira dia ke mana?"


Fix, aku jadi gugup dan sedikit salah tingkah. "Tidak, kok. Maksudku, emm... mungkin dia sedang ada urusan di sini. Bisa jadi, kan?"


"Sayang?" Tatapan khas penyidik terpancar dari mata ibuku. "Ada apa dengan Kayla? Kamu menutupi sesuatu?"


Aku menggeleng, tapi belum sempat aku menyahut Ihsan sudah lebih dulu menyela, "Apa jangan-jangan Kayla pelakunya? Dia yang membunuh Salsya?"


Aku diam sejenak, kebingungan. Tapi aku masih berusaha mengelak, "Mana mungkin," kataku. "Mereka bersahabat baik, malah sudah seperti saudari kandung. Mustahil Kayla pelakunya."


"Terus, maksud sikap heranmu tadi, apa? Kamu mengira dia ke mana?"


Ya ampun... ibuku kalau sudah bermain insting, dia membuatku kesulitan mengelak. "Emm... e... anu, dia bilang kalau dia ke New York. Mungkin... dia sudah balik ke Indonesia kali, ya."


Ihsan menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Ada yang aneh," ujarnya. "Coba kita bilang ke polisi--"


"Ihsan...." Aku terpancing.


"Kenapa? Ada kemungkinan kalau pembunuh--"


"Tapi, Sayang," Reza bersuara, "permasalahan kita ada kaitannya dengan pembunuhan itu."


"Aku tahu. Tapi kita cuma butuh rekaman asli yang disimpan Aarin, kan? Bukan mau membuktikan siapa yang sudah membunuh Salsya. Tolong... aku dan anak-anakku masih hidup. Bersyukurlah karena nyawa kami tidak ikut melayang. So, please, stop mencari pelakunya. Bisa, kan?"


Ihsan geram. "Bagaimana mau mencari rekaman aslinya kalau kita tidak tahu siapa yang merekamnya? Aku sudah cek ponsel dan laptop Aarin, tapi nihil. Tidak ada rekaman aslinya. Dia juga tidak mau mengakui apa pun. Kalau bukan karenamu, sudah kulaporkan juga dia ke polisi."


Kuhela napas dalam-dalam dan berusaha tenang plus berpikir jernih. "Begini," kataku, "kita cari Kayla. Terserah bagaimana pun caranya asal jangan dikaitkan dengan kasus pembunuhan. Mungkin dia tahu sesuatu."


"Kalian punya kontaknya?"


"Whatsapp-nya sudah tidak aktif, Bund."


"Aku biasanya chat via messenger. Tapi sepertinya dia tidak mau lagi diganggu. Akunku sampai diblokir."


"Well," Ihsan mengangguk-angguk pelan, "kalau dia tidak bisa dicari, kita buat dia yang datang ke sini. Hmm?"


Kami saling melempar pandang. "Caranya?"


"Kita buat selebaran dan sayembara berhadiah: imbalan beberapa juta bagi yang bisa membawanya ke sini. Dan nanti aku minta tolong ke Joe untuk memblokir akses Kayla di bandara dan pelabuhan. Dia tidak akan bisa pergi ke luar pulau, apalagi ke luar negeri."


Ibuku menggeleng. "Repot, ya," komentarnya. "Bagaimana kalau hasilnya nihil juga? Semisal Kayla tidak mau mengakui apa pun?"


"Reza akan tetap mencoba, Bund. Karena cuma dengan bukti itu Nara tidak akan meragukan pernikahan kami lagi. Reza tidak ingin bercerai, juga tidak ingin ada pernikahan ulang."


Yap, Ihsan pun ikut menggeleng. "Kalian berdua itu sama -- sama-sama ribet!"


"Mau bagaimana lagi? Pernikahan ulang itu hanya membuat Nara tidak meragukan pernikahan kami lagi. Tapi tidak dengan kepercayaannya terhadapku. Dia akan tetap ragu."


Merasa tersindir, aku pun berdeham. "Makanya jadi suami itu jangan suka bohong. Itulah akibatnya. Tidak enak, kan?"


Euw!


Syukur, enak, kan, disindir balik? Nara dilawan.