Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Selamat Datang Buah Hatiku


Bibiku berlari ke arah ibuku dan Ihsan yang baru datang ke ruangan rumah sakit tempat aku melahirkan. Wajahnya berseri-seri dan memerah. Keduanya tampak tegang.


"Sudah lahir!" sengalnya begitu ia meraih tangan ibuku. "Kembar! Sepasang, perempuan dan laki-laki. Keduanya normal, dan Nara juga sehat."


Ibuku dan Ihsan meraup wajahnya dengan kedua tangan. "Syukurlah...," seru ibuku, lalu ia mengelus dada, sangat lega. "Aku khawatir prosesnya sulit, soalnya perut Nara besar sekali."


"Bunda...," rengekku lemah, protes dikatai perut besar.


Semua orang nyengir. "Ya, bayinya monto*-monto*," kata bibiku semringah. "Nara hebat. Persalinannya lancar. Berhasil melahirkan normal."


Ihsan celingak-celinguk. "Bayinya mana?"


"Sedang dimandikan," sahut Reza. Ia duduk di samping tempat tidurku dan tak pernah melepaskan genggaman tangannya dariku semenjak proses persalinan berlangsung.


Kalau mengingat keberadaannya yang menemaniku selama proses persalinanku tadi -- di mana ia berusaha menenangkan kesakitan dan kehisterisanku, aku sangat berterima kasih dan senang dia terus berada di sampingku. Tapi bila mengingat perdebatan kami yang menyebabkan aku keram dan jatuh, bahkan ketubanku sampai pecah, aku jadi sangat membencinya. Tetapi, demi tidak menimbulkan kericuhan, aku membiarkan saja Reza terus di sampingku dengan sikapnya yang manis. Lagipula aku tidak punya kekuatan lagi untuk bertengkar. Aku terbaring, lemah, tapi bahagia dan sangat lega.


"Bund," panggilku begitu ibuku menghampiriku. Ia langsung memelukku. "Rasanya sakit sekali. Maaf, ya, Nara dulu bikin Bunda sakit sewaktu melahirkan Nara."


Ibuku tersenyum. "Dulu kamu sangat menyiksa Bunda, tahu! Kamu bikin Bunda nangis dua puluh jam. Ujung-ujungnya tetap saja harus operasi cesar."


"Makanya itu Nara minta maaf. Nara sudah merasakan sakitnya. Serasa hampir mati."


Seandainya hubunganku dan Mas Reza segera membaik.


"Nah...," seru Ihsan girang. "Jagoan-jagoan Oom sudah bersih...."


Dua orang suster menggendong dua bayiku yang masih merah. Aku langsung ingin duduk, tetapi Reza menahanku. Kedua suster itu tersenyum sambil perlahan menaruh masing-masing bayi di dadaku, kemudian mereka pamit keluar.


Aku, Reza, ibuku, bibiku, dan Ihsan, kami semua menatap mereka berdua dengan takjub dan bergiliran ingin menciumnya. Kedua bayi itu luar biasa mirip, seperti aku dan Ihsan bayi dulu, padahal kami tidak kembar. Mata mereka sama-sama hitam pekat, warisan mata Reza. Tulang hidung yang tinggi dan agak mancung, bibir juga alis yang benar-benar replika Reza, kecuali warna kulit yang agaknya cendrung menyamai warna kulitku.


"Mereka mirip sekali dengan ayahnya," kata ibuku seraya membelai kedua cucunya.


Reza mengangguk. "Mereka luar biasa," katanya, mengamati bayinya hati-hati.


"Cepat azankan, setelah itu mereka mesti disusui."


Di saat itulah aku terenyuh. Ada kebahagiaan melihat ayah dan kedua anaknya itu, dan berharap Reza akan menjadi sosok ayah luar biasa untuk mereka. Aku tidak ingin anak-anakku bernasib sama sepertiku. Ditelantarkan oleh ayah kandung. Rasanya aku tidak ingin kedua tangan itu berbagi dengan bayi lain, seperti ayahku dulu yang menggendong anak dari istri sirinya, mengabadikan momen bahagia mereka dalam kenangan-kenangan foto keluarga, sementara aku dan Ihsan tak ia pedulikan. Aku tak ingin anak-anakku kehilangan hak mereka sepertiku dan Ihsan dulu.


Maaf kalau aku jahat, Tuhan. Tapi Aulian punya ayah kandungnya sendiri. Sekarang aku tak salah, kan, jika aku menginginkan suamiku hanya fokus memerhatikan anak kandungnya saja tanpa ada bayang-bayang yang mengingatkannya pada cinta masa lalunya? Aku ingin ia hanya fokus pada kami. Apa aku salah?