
"Mas... hati-hati, jangan terlalu ngebut...," jeritku.
Jangan sampai ada kecelakaan susulan. Dia membuatku cemas. Sepanjang perjalanan, pikiranku kalut. Pun Reza, pasti sama. Bella dan Claudya tak hentinya menangis, mereka bahkan menjerit, bukan hanya karena rasa takut, tapi juga karena sakit plus perih luka-luka yang mendominasi. Mereka pun tak hentinya meneriakkan "papa mama" di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Pun Ehan, yang tak kalah histeris, aku tidak bisa mendekapnya karena bajuku yang basah, aku tidak ingin handuk kering yang membungkusnya turut basah. Aku hanya bisa menggendongnya di lenganku. Kekalutan itu tak memberikan aku waktu yang cukup untuk mengganti pakaianku.
Sesampainya di rumah sakit, Bella dan Claudya langsung disambut tenaga medis dan dibawa ke UGD. Tak lupa Ehan, kami takut kalau dia mengalami luka dalam. Reza yang kalut masih bisa berpikir sedikit jernih, dia segera menelepon Erik supaya cepat-cepat datang ke rumah sakit untuk membantunya. Lalu ia menelepon Mayra, dan mengatakan hal yang seperlunya, dan dengan pesan terakhir, "Please, kamu jangan menyetir sendiri."
Setelah sambungan telepon terputus, barulah ia menyadari akan keberadaanku, tepatnya kondisiku. "Ganti pakaianmu, Sayang," katanya -- dengan kekhawatiran yang masih membuncah. Jelas kekalutannya sama sekali tidak bisa hilang di dalam jiwanya. Dia masih berdiri di sana, bersandar di pintu mobil.
Seperti aku, jantungku berdetak tak karuan bahkan seakan sempat terlepas dari tempatnya, pasti seperti itu juga yang dirasakan Reza. Juga kakiku, terasa lunglai, tapi aku berusaha kuat untuk menopang tubuhku. Aku menghampiri Reza, matanya merah menahan tangis, tapi tidak bisa. Dia memelukku, menyembunyikan tangisnya dalam pelukanku. Rasanya sangat sesak melihat dia dalam keadaan seperti itu -- untuk ke sekian kali, dia takut kehilangan anggota keluarganya lagi.
"Maaf, Pak, tolong mobilnya dipindahkan."
Teguran dari seorang security itu menyadarkan kami. Reza mengangguk, membukakan pintu untukku dan ia sendiri masuk ke bagian kemudi.
Di parkiran, aku tidak bisa mengatakan apa pun. Walau sebenarnya aku ingin sekali mengatakan padanya, "Aku ada di sini untukmu, Mas." Tapi faktanya, lidahku keluh. Aku hanya bisa menatap Reza dengan deraian air mata.
Dia menghela napas sangat dalam sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.
Oke, Nara, yang kuat. Mainkan peranmu.
Kuraih tas pakaian dan mengeluarkan pakaian ganti untuknya. "Ganti pakaian dulu, Mas. Kamu harus sehat. Kamu yang paling dibutuhkan saat ini."
Drrrt....
Getaran ponsel itu menyela, dan suara cemas ibuku langsung terdengar dari seberang sana. "Kalian di mana? Kenapa belum sampai?"
Reza seakan tidak sanggup lagi menyampaikan berita duka, dia memberikan ponsel itu kepadaku.
"Kenapa? Ada apa lagi?"
"Alfi sekeluarga mengalami kecelakaan," jawabku.
"Innalillahi. Kalian, bagaimana? Baik-baik saja, kan?"
"Em, ya, Bund. Bunda jangan cemas. Nara baik, kok."
Praktis, ia mengucapkan rasa syukur. "Reza?"
"Mas Reza... juga."
"Serius, Sayang?"
"Em, cuma sedikit shock. Ee... Bunda dengan yang lain makan duluan saja."
"Oh," hanya desaha* itu yang terdengar. Aku tahu dia masih cemas.
"Sudah dulu, Bund. Nara mau ganti pakaian, basah kuyup. Nara tutup dulu teleponnya."
Tut! Sambungan telepon terputus.
Aku langsung pindah ke belakang, dengan segera mengganti pakaianku dan mengoleskan minyak telon ke perutku.
Maafkan Mama, Nak. Kalian pasti kelelahan dan kelaparan.