Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Salahkah?


"Omong-omong, Tirta tidak rewel, kan?"


Aku nyengir. "Dia anteng, sih. Tidak rewel sama sekali. Tapi...."


"Kenapa? Dia bikin kamu repot?"


"Bukan...."


"Terus?"


"Maaf. Bukan aku yang mengurus Tirta."


"Lo?"


"Ada neneknya. Bunda yang urus."


"Ya ampun, Ra. Aku udah bikin repot Bunda, dong?"


Ya ampun... kugelengkan kepalaku kuat-kuat. "Tidak sama sekali, kok. Bunda senang mengurusnya. Dia juga tidur di kamar Bunda. Emm... Tirta kelihatan senang sekali, May. Dia bisa merasakan kasih sayang seorang nenek."


"Umm... terima kasih, ya...."


"Kamu... mewek terus...."


"Aku terharu...."


"Sudah, sudah, sudah. Matamu sudah bengkak, bukan sembab lagi."


Eh?


Tahu-tahu Mayra memelukku. "Aku sayang kamu...."


"Iyuuuh... aku juga sayang kamu. Tapi, kok konotasinya beda, ya? Ih...."


"Haha, kampre*. Kamu mikirnya kejauhan. Dasar... novelis."


"Duuuh... cantiknya. Aku senang melihatmu tertawa lagi."


"Iyuuuh... jijay binggo. Kamu merayu aku?" Dia pun terbahak.


Mayra menghapus air matanya yang kembali mengalir. Aku senang, dia sudah bisa tertawa lagi.


"Oh ya, Ra, salam buat Raline. Bilang terima kasih atas sarannya. Aku dan Mas Alfi setuju soal kaki palsu itu."


Oh, wow! Secepat ini. Aku senang sekali mendengar persetujuan Mayra dan Alfi, ini semacam suntikan kebahagiaan di antara banyaknya cobaan di dalam kehidupan kami. "Nanti aku sampaikan. Aku turut senang. Aku lega Mas Alfi tidak putus asa dengan keadaannya sekarang."


"Tahu kenapa?"


"Em, bisa karena biasa."


"Yap. Karena sudah terlalu biasa."


"Serasa sudah kebal?"


"Iyalah, kita kan punya hati."


"Dan hati kita tidak ikut mati walau cobaan datang silih berganti."


Aku tergelak. "Sori... siapa di sini yang berprofesi sebagai penulis?"


"Ya, ya, mari kita bahas hal lain?"


Cengiran lebar Mayra mencuatkan rasa penasaranku. "Aku tahu kamu pasti mau tanya yang aneh-aneh."


Giliran dia yang tergelak.


"Apa, May...? Jangan buat aku penasaran...."


Dia mengelus perutku. "Katanya kalau hamil besar, bagus kalau sering ber--"


Aku memekik, "Ih... ngapain nanya soal itu...?"


"Cuma nanya... katanya kan bagus kalau sering berhubungan suami istri. Nah, rasanya bagaimana? Seenak itu, kah? Sampai suami kewalahan meladeni?"


Sensitif. Dia bertanya sekadar ingin tahu karena tidak pernah merasakannya? Atau... mau curhat karena suaminya dulu....


"Emm... gimana, ya. Dalam keadaan hamil atau tidak, ya kalau bercintanya dengan suami, ya pasti enak, dong. Enakan dalam keadaan tidak hamil, sih. Powernya lebih oke."


Mayra melirikku. "Sori, ya. Tidak seharusnya aku menanyakan soal ini."


Kan, luka hatinya yang membuat Mayra bertanya. Oke, waktunya berganti topik. "Bagaimana kabar anak-anak?"


"Diambil nenek kakeknya, Ra. Aku bahkan tidak boleh menemui mereka. Dilarang."


Yq Tuhan...


Kusentuh dan kurema* jemarinya dengan lembut. "Sabar, tunggu Mas Alfi sehat dan keluar dari rumah sakit, mereka akan menjadi anak-anakmu juga. Mas Alfi kan berhak atas anak-anaknya."


"Em, aku akan membujuk Mas Alfi supaya anak-anaknya tinggal bersama kami."


"Bagus. Semangat empat lima Mama Mayra. Ih, manis sekali senyumnya."


"Uuuh... ya, dong. Tidak salah, kan? Aku senang, aku akan punya empat anak, walau bukan dari rahimku."


"No, sama sekali tidak salah. Kamu... tidak salah. Semuanya sudah ditakdirkan seperti ini."


"Kamu tidak menilaiku... bahagia di atas penderitaan orang lain, tepatnya kematian orang lain, kan?"


Aku menggeleng meyakinkannya. "Sama sekali tidak. Lagipula, posisi kita sama, kan, sekarang? Ada nyawa yang hilang -- dan kita seolah merasa itu adalah anugerah. Meski hati kita menyangkal. Tapi tidak bisa dipungkiri, ada sedikit kebahagiaan. Sedikit."


Mayra tersenyum. "Aku lega. Aku tidak perlu menjadi sosok munafik di depanmu."


Yap, memang tidak perlu!