
Sandra.
Ayahku mengucapkan nama itu dengan lirih ketika aku bertanya siapa yang ia bawa.
Yap, Sandra. Nama aslinya Sandra Wijayanti, yang selama ini dikenal ibuku dengan panggilan Yanti. Istri siri pertama ayahku. Wanita yang mengandung anak lelaki ayahku di saat ibuku sedang hamil besar. Anak lelaki yang disayangi dan digendong-gendongnya, diajak jalan-jalan dan punya banyak foto kenangan di masa kecilnya, tanpa mereka peduli padaku dan Ihsan yang jangankan mendapatkan perlakuan sama, malah justru tak pernah ditemui dan tak pernah dinafkahi. Wajar jika melihat perempuan itu, luka ibuku kembali perih.
Luka itu akan abadi, sampai kapan pun.
"Kembalikan anakku," kataku, tapi ayahku diam saja. "Mas, tolong ambil Angga."
Dengan ragu, Reza mengangguk dan mengambil putra kami dari gendongan kakeknya. "Maaf, Yah," gumamnya.
"Silakan pergi," pintaku.
"Nak...."
"Lain kali datanglah sendiri. Tolong?"
"Tapi, Nak, mereka kan hanya menunggu di luar. Tidak--"
"Aku tidak suka perempuan jalan* itu ada di sekitarku! Apa Anda tidak mengerti itu? Hmm?"
See, ia malah menatap tajam pada ibuku. "Lihat, kamu, kan, yang mencekoki mereka dengan kebencian?"
"Diam...," geram Ihsan. Dia langsung mencengkeram leher kemeja ayahku dan hendak melayangkan tinju pada rahang tua itu. "Jangan bicara sembarangan atau saya buat gigi-gigi Anda yang tidak rata ini terlepas dari tempatnya."
Satria kami. Andai bukan di rumah sakit, suaranya pasti sudah menggelegar memekakkan gendang telinga, sementara itu ibuku langsung melerai, "Lepas, Nak," pinta ibuku seraya memegangi Ihsan. "Tidak ada gunanya bicara dengan lelaki ini." Ihsan melepaskan tangannya dan menurunkan kepalan tinjunya. "Dengar kamu," sambung ibuku, "kalau saya mau jahat, akan saya katakan pada anak-anak saya kalau ayah mereka sudah mati. Mereka juga tidak perlu tahu wajah ayahnya. Tapi apa? Mereka mengenal Anda. Mereka tahu siapa ayah mereka. Iya, kan?"
"Tapi mereka membenciku...."
Ya ampun... dia lelaki pintar, kan, makanya dia bisa menjadi seorang pengacara? Tapi kenapa hati dan perasaannya begitu tumpul? Kenapa dia seolah tidak mengerti kalau perbuatannya dulu menghasilkan luka menganga yang abadi? Luka permanen yang akan selalu berbekas. Kenapa dia seolah menutup mata dengan perih yang selama ini kami rasakan? Astaga....
"Ngaca!" tandas ibuku. "Apa dulu Anda pernah menemui mereka? Apa Anda menafkahi mereka? Apa Anda menanggung biaya pendidikan mereka? Hmm? Dan sekarang Anda mengharapkan cinta dari mereka? Tolong, ngaca!"
Lanjutkan, Bund. Luapkan saja!
Ibuku mulai menggeleng frustasi. "Anda memang tidak pantas diterima. Bahkan secuil pun tidak pantas. Anda tahu, dulu... saya berjuang sendiri membesarkan mereka, bahkan tidak pernah memikirkan diri saya sendiri. Jangankan jalan-jalan seperti Anda dan perempuan *undal itu dengan anak haram kalian, saya bahkan tidak pernah terpikir mengganti daster butut yang selalu saya kenakan, demi apa? Demi memberi mereka makan, demi susu dan pampers mereka -- supaya tidur mereka nyenyak. Tapi Anda... Anda malah asyik jalan-jalan, foto-foto, pamer sana pamer sini dengan kebahagiaan kalian. Ayah macam apa? Heh? Apa pantas Anda mendapat cinta dari mereka? Jangan lupa Bapak Pengacara yang terhormat, dulu... sewaktu saya hamil besar dan sibuk mengurusi Nara, Anda... Anda malah bersenang-senang dengan perempuan *undal itu di atas ranjang sampai dia mengandung beni haram itu. Anda bahkan tidak--"
"Saya bukan anak haram!"