Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Sang Penguat


Sudah hampir jam setengah tiga ketika Reza menghampiri kami di kantin. Dia ingin mengajakku pulang dan ingin menyuruhku istirahat. Aku tahu dan sangat mengerti -- itu demi kebaikanku dan demi kandunganku, maka aku tidak membantah.


"Maaf, May," kata Reza. "Nara--"


"Aku ngerti, Za. Tidak apa-apa."


"Em, nanti aku ke sini lagi."


"Aku titip Tirta ke Nara, boleh, ya?"


Reza mengangguk. "Tentu."


"Thanks atas bantuan kalian." Lalu ia meraih tanganku dan menaruh sebuah amplop. "Untuk keperluan Tirta," katanya.


Aku langsung menolaknya dan mengembalikan amplop itu ke tangan Mayra. "Tidak perlu. Kita kan saudara. Kami jamin Tirta tidak akan kekurangan apa pun."


Perasaan haru kembali menyeruak dan membuat Mayra menangis. Dia memelukku dan membisikkan ucapan terima kasih. Setelah ia melepaskan pelukannya, dia langsung berlutut di depan anaknya. "Tirta ikut Tante Nara dan Oom Reza dulu, soalnya Mama harus jaga Papa di sini. Tirta mau, ya, dan jangan nakal. Harus menurut semua perkataan Tante dan Oom. Oke?"


Tirta mengangguk. Dia anak yang baik. Usianya sudah enam tahun, dan dia sudah mengerti apa yang dikatakan orang dewasa padanya. Aku yakin tidak akan mengalami kesulitan saat menjaganya.


"Kita pulang, ya, May. Jaga dirimu, jangan telat makan. Alfi dan Tirta membutuhkanmu," pesan Reza pada Mayra.


Mayra mengangguk dengan mata berkaca. "Pasti."


Ibuku cepat-cepat menghampiri dan memelukku. "Syukurlah kalian tidak kenapa-kenapa," katanya, matanya berkaca.


Aku tersenyum -- sedikit. "Bund, bisa tolong jaga Tirta sebentar? Nara mau bersih-bersih dulu," pintaku.


Ibuku mengangguk. Setelah itu aku menghampiri Reza, membantunya mengeluarkan barang-barang dari mobil dan menyerahkannya pada Raline dan Raheel, plus meminta mereka untuk membelikan beberapa potong pakaian untuk Tirta pada tetangga sebelah rumah, sementara Reza membawa tas pakaian kotor dan lekas ke kamar tidur dan menutup pintu.


Sewaktu aku masuk ke dalam, dia sedang berdiri di depan nakas, kudengar dia sedang bicara dengan seseorang via telepon, bisa kutebak saat dia memakai bahasa lu-gue dan bro, dia pasti sedang bicara dengan Ari, aku mendengar suaranya terbata-bata dengan isakan, dia menangis.


Setelah dia menutup telepon, dan saat itu anak-anak di dalam kandunganku sedang bergerak lincah menelusuri lapisan kulit perutku, aku mendekat ke Reza -- memeluknya dari belakang dan menempelkan perutku ke belakang tubuhnya, dia diam -- meresapi kehidupan sosok kecil yang ia nantikan. Aku tahu, selain aku, kedua malaikat di dalam rahimku pasti bisa menenangkannya, menariknya kembali dari kesedihan -- walaupun hanya sesaat dan kesedihannya tak pergi seutuhnya. Tapi dia butuh ketenangan, sosok yang menguatkannya menghadapi perihnya kenyataan.


"Kami mencintaimu," ucapku.


Reza melepaskan pelukanku, dia berbalik, lalu berlutut. Dia menempelkan tangan dan keningnya di perutku dengan mata terpejam. "Maafkan Papa, ya. Papa belum bisa fokus sepenuhnya pada kalian. Papa mencintai kalian. Sehat terus, jangan rewel di perut Mama."


Sebisa mungkin kutahan rasa sedihku dan kuhapus air mataku sebelum menetes dan Reza melihatnya. "Papa," kataku selembut mungkin, "pesan anak-anak -- Papa salat dulu. Keburu habis waktu zuhurnya."


Diam-diam Reza mengusap air matanya. Ia mendongak lalu mengangguk. "Aku mandi dulu," katanya. Lalu ia berdiri dan menangkup wajahku dengan kedua tangan. Diciumnya keningku dengan sepenuh perasaan. "Aku mencintaimu. Maaf, ya, kalau waktuku beberapa hari ini akan berkurang untukmu dan anak-anak. Aku harus...."


"Tidak apa-apa, Mas. Aku ngerti, kok. Sana, gih. Kamu mandi, setelah itu kamu langsung salat."


Sekali lagi, dia mengangguk, mencium keningku lagi, dan langsung masuk ke kamar mandi.