Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Getir


"Bunda," panggilku besok paginya. Dia baru saja selesai salat subuh. Masih terselubung mukena, dan aku datang-datang malah ingin merepotkannya. "Ayah bilang dia sudah mengurus jaminan untuk Nara, jadi Nara bisa pulang ke Jakarta. Tolong Bunda bilang pada Tante, ya, kalau kita akan segera pulang ke Jakarta."


Tentu saja ibuku mengiyakan dan langsung menyampaikan hal itu sewaktu kami sarapan. Sontak Reza tercengang, sebab aku tidak menyampaikan hal itu padanya lebih dulu.


"Menurut Oom, kalian lebih baik ke kantor polisi dulu untuk laporan, ya meski Nara sudah mengantongi izin. Sekadar formalitas saja supaya... kalian ngerti, kan, maksud Oom?"


Aku mengangguk. "Ya, Oom. Tentu. Nanti Nara ke kantor polisi. Dan... terima kasih, ya, Oom, Tant, dan adik-adikku semua, kalian sudah berbaik hati menampung kami di sini. Maaf sekali kami sudah merepotkan kalian."


"Ah, kamu ini, Sayang," kata bibiku. "Repot apa, kita kan keluarga. Keluarga adalah yang utama."


Aku menelan ludah getir. Aku hampir tak bisa bersuara. "Iya, Tant," kataku dengan suara gemetar, "keluarga adalah yang utama." Dan aku tahu, semua orang menyadari keadaanku. Tahu-tahu, mataku juga berkaca. "Keluarga adalah yang utama."


Untung saja mereka semua menyalahartikan sikap melodramaku. Kesedihanku mereka anggap bentuk sentimentilku atas kebersamaan kami dan kepedulian mereka terhadapku. Padahal aku sedang memikirkan diriku sendiri, apabila suamiku terbukti berbohong, sanggupkah aku berkorban -- bertahan di sisi suamiku -- demi anak-anakku? Mampukah aku untuk menerimanya kembali dan menikah ulang dengannya?


"Sudah, Sayang. Kamu tidak boleh sedih-sedih. Takutnya akan berpengaruh ke produksi ASI-mu," kata bibiku.


Aku hanya mengangguk dan menyeka air mataku, sementara Reza yang duduk di sampingku mengelus-elus punggungku.


Ah, andaikan kamu tahu, Mas. Aku sedang memikirkan betapa mirisnya kehidupan percintaanku karena mencintai lelaki berhati terlalu lemah sepertimu. Lelaki yang tidak bisa menetapkan hati pada satu pilihan.


Selesai sarapan, aku memompa ASI-ku dulu, aku tidak ingin membawa anak-anakku keluar rumah. Bukan hanya memikirkan tentang kebersihan dan kesehatan di luar rumah, tapi tentang kemungkinan bahwa ayah dan ibu mereka mungkin akan sedikit bertengkar saat hanya berdua di dalam mobil nanti.


Dan itulah yang terjadi, persis setelah kami kembali ke parkiran setelah laporan itu.


"Mudah-mudahan ini berarti semuanya sudah selesai, ya, Sayang."


Aku hanya mengangguk tanpa menoleh.


"Sayang, ada apa? Ngomong...," lirih sekali suaranya. "Dari kemarin... semalam... tadi pagi, bahkan sewaktu kita berangkat tadi, kamu terus mendiamkan aku. Kenapa...?"


Aku masih tidak mau menyahut, tapi aku merasakan hangatnya air mata mengalir di pipiku. Akhirnya Reza menarikku ke dalam pelukannya. Dia mendekapku erat-erat. Tapi itu justru membuat dadaku semakin sesak. Sakit rasanya membayangkan aku harus melepaskannya seandainya akad pernikahan kami sudah luruh.


Kupejamkan mataku sejenak, dan menghirup napas dalam-dalam. "Kenapa, Mas? Kenapa kamu tidak jujur sewaktu aku tanya apa saja yang terjadi sewaktu aku pingsan di malam pembunuhan itu? Kamu tidak bilang kalau kamu mengikrarkan cinta pada Salsya. Bahkan kamu memeluk dan menciumnya untuk terakhir kali. Iya, kan? Kamu melakukan itu, kan?"


Dia terdiam. Dan itu sudah cukup untuk menjawab pertanyaanku kalau dia -- Reza Dinata, memang benar sudah melakukan itu dan menutupinya dariku.


"Kamu jahat!"


"Aku--"


"Itu fakta, kan?"


"Iya, tapi--"


"Stop! Terima kasih."


"Sayang, dengar--"


"Stop!"


"Aku terpaksa."


"Stooooop... ngerti nggak? Stop!"


"Dengarkan aku dulu, waktu itu aku--"


"Kita selesaikan semuanya di Jakarta."


"Sayang, aku hanya--"


"Diaaaaaam...," aku meraung sambil menutup telinga kuat-kuat. "Kita. Bahas. Nanti. Di. Jakarta. Tolong, aku ingin pulang."