
Di sisa siang itu, kami langsung melakukan tes DNA antara Nicholas dan Aulian. Jalanku begitu mulus, sewaktu kami ke panti, Bu Nurul sedang tidak ada di tempat. Hanya ada Zahra. Dan aku sangat yakin, gadis itu tidak akan bicara macam-macam pada Reza. Dia juga tidak mempersulitku, terlebih secara hukum, Aulian sudah resmi diadopsi oleh suamiku. Meskipun jika nanti suamiku bertanya, mau tidak mau aku harus siap. Aku tahu, ada kemungkinan para bodyguard-ku itu akan menyampaikan laporan perjalananku hari itu kepada Reza meski aku sudah mewanti-wanti mereka untuk tutup mulut. Aku mengancam akan mengusir mereka dari pandangan mataku kalau mereka tidak menuruti perintahku.
Dan, yap, proses pengambilan sample dan urusan administrasi juga diurus dengan lancar -- mengingat aku datang bersama dua orang yang sama-sama mengerti aturan dan hukum mengenai hal itu, sehingga urusan kami tidak ribet dan bisa segera mengantarkan Aulian kembali ke panti asuhan. Satu -- yang menyentuh hatiku hari itu, bagaimana seorang ayah saat pertama kali menemui anaknya sejak sekian lama tidak bertemu. Tentu, Nicholas sangat bahagia. Aulian adalah satu-satunya pewaris darah seorang Nicholas jika nanti hasil tes menunjukkan kecocokan DNA di antara mereka berdua.
Dari semua kelancaran urusanku hari itu, satu yang membuatku gugup, sepulang dari panti setelah mengantarkan Aulian, ayahku langsung mengantarku pulang. Sebenarnya aku sudah bisa menduganya kalau Reza sudah pulang, tapi tetap saja -- aku gugup begitu melihatnya. Dia membukakan pintu mobil untukku dan aku langsung mencium tangannya. Dan...
Jurus menghindar mesti langsung diterapkan. Aku sudah meminta ayahku untuk berbasa-basi dengan Reza sebelum ia pulang, dan ayahku memenuhi itu.
"Aku masuk dulu," kataku. "Aku capek, aku mau bersih-bersih terus istirahat. Ayah...."
Ayahku menyahut sigap, "Tidak apa-apa. Sana, masuk."
"Ya," sahutku, kemudian kucium tangannya lalu memeluknya. "Terima kasih, Yah," bisikku.
Aku pun masuk, meninggalkan ayahku dan Reza yang entah membicarakan apa sepeninggalku, yang pasti Reza masuk ke kamar setelah aku selesai mandi dan sudah berganti pakaian.
"Kalian ke mana saja tadi?" tanya Reza.
Aku mengedikkan bahu. Aku tidak mungkin menjawab jujur, dan juga tidak ingin berbohong. Jadi....
"Tidak usah dibahas, ya, Mas, ya. Biar hubunganku dengan ayahku mengalir saja tanpa perlu diceritakan begini begitunya. Aku belum nyaman menceritakan tentang kedekatan kami."
Huh! Reza mengangguk. "Oke, tidak apa-apa. Yang penting, aku senang hubungan kalian sudah sangat membaik."
Ya ampun... aku sudah bertindak tidak jujur dan bermain rahasia-rahasiaan di belakang suamiku, tapi dia bersikap begitu manis padaku. "Sini, aku pijit," katanya. Dia sudah memegang minyak urut di tangannya.
Hatiku terenyuh. "Terima kasih," ucapku. "Aku sayang kamu."
Ah, dia baik sekali. Dia memijat kaki dan pinggangku yang pegal karena hampir seharian menopang tubuhku yang berat. "Tadi selama di luar, kalian baik-baik saja, kan? Tidak keram? Tidak sakit?"
"Sama sekali tidak. Kami baik. Mereka anteng di dalam sini. Sama sekali tidak rewel."
"Syukurlah. Tidak kelaparan juga, kan? Oh, apa mau kuambilkan makanan di dapur?"
"Nanti saja," sahutku. Lalu aku beringsut duduk. "Sebelum makan... aku mau makan kamu dulu."
Hah! Dia nyengir. "Katanya capek...."
"Tenang saja. Aku, kok. Aku mau menebus sekian jam jauh darimu, dan... sebagai ucapan terima kasih atas pijitannya." Sekaligus permintaan maaf karena aku sudah tidak terbuka padamu. I am sorry. Maafkan aku....
Well, Reza tersenyum lalu ia mencium bibirku. "Aku tidak akan pernah bisa menolakmu."
Dan aku cinta padamu.