
Masih dalam keheningan Alex tidak membalas apapun semua chat Rita tentu saja terkirim. "Kalau kamu ingin banyak yang menghormati, hormati orang lain dulu bukan kamu. Setelah itu, tergantung mereka mau hormat sama kamu atau tidak. Soal kamu sama mantan ya kalian berdua salah sih. Kami yang terlalu posesif, dia juga yang terlalu pendiam dan memilih menurut tapi terlihat seperti budak nafsu kamu. Dia mau protes juga sepertinya tidak ada gunanya karena kamu pasti mengunci dia supaya diam jadinya ya satu - satunya jalan hanya selingkuh," kata Rita.
"Sepertinya begitu. Bukan mauku juga menjadi posesif,"
"Sepertinya dari pengaruh dari kecil ya? Mungkin ada sesuatu yang membuat kamu jadi posesif?" Tanya Rita.
"Dulu waktu aku remaja, aku punya pacar tapi pacarku itu selalu direbut oleh kakak laki - lakiku. Aku kesal tapi aku menghormatinya sebagai kakak jadi aku banyak mengalah. Bodohnya aku, beberapa minggu saat tahu mantanku itu tidur dengan kakakku, dia langsung ditendang begitu saja,"
"Kakak seperti itu bukan teladan, Alex. Kamu terlalu buta sama kenyataan saudara kandung. Lalu bagaimana? Dia mendatangi kamu?"
"Iya. Bertanya harus bagaimana dan menyesal memilih kakakku daripada aku. Dia mau kembali padaku tapi aku sudah tidak mau,"
"Sudah jadi barang bekas ya? Jangan - jangan dari situ kamu posesifnya?"
"Mungkin," Rita berpikir apa jangan - jangan pacarnya sering direbut karena...
"Waktu kakak kamu tahu kamu pacaran sama mantan yang meninggal itu, dia berusaha merebut juga?" Rita ingin meyakinkan sesuatu.
"Tidak sama sekali katanya bukan tipe dia. Justru dia merasa aneh setelah tahu aku disakiti beberapa kali sama dia, kenapa aku masih tetap mau menikahinya,"
"Weeeh kamu kena santet!" Rita kepikiran juga sih kenapanya. Kakaknya merebut pacarnya pasti karena pacar Alex semuanya cantik, badan seksi, ya tidak jauh dari situ deh. Sedangkan yang baru meninggal, yaaa biasa saja.
"Mana mungkin! Dia bukan seperti aku, biasa saja tapi kakakku juga mengira aku diguna - gunain sama dia,"
"Aku setuju juga karena aneh sih. Kamu kan tidak suka barang bekas tapi kenapa sangat membela sekali tetap ingin menikah dengan dia. Apa jangan - jangan...."
"Aku menghamili dia? Tidak meski tidak dipungkiri memang aku sempat Making Love super panas dengan dia sih. Tapi demi Allah, aku tidak sampai membuatnya hamil!" Rita enggan memikirkan bagaimana perang panas dia saat itu.
"Ada alasan lain?" Tanya Rita masih penasaran.
"Yaaa... kalau aku harus menikah dengan menunggu kakak laki - laki sih kelamaan makanya aku inisiatif mau mendahuluinya yang disambut derai tawa keras dari semua keluargaku,"
"............" jawab Rita.
"Apalaaa tumben kamu sekarang yang membalas hanya berupa titik,"
"Maksudku ya kamu niatnya bagus sudah memikirkan begitu tapi kalau niatnya begitu tidak akan terjadi lho," kata Rita.
"Kenapa? Kan sudah bagus niatnya?"
"Niat bagus tapi tujuan pernikahannya. Ingin mendului karena kakak kamu pasti lama kan karena senang memainkan perempuan. Kalaupun terjadi, terus kamu mau apa lagi? Sudah ada target lain? Kamu mau menikah di usia berapa tahun?"
"20 sewaktu aku pertama kuliah pertengahan semester,"
"Bisa sih karena kondisi keluarga kamu yang billion mah tapi ya menurutku niat kami begitu, pernikahan kamu hanya seumur jagung deh. Masih terlalu muda banget! Belum matang,"
"Bawah aku sudah matang kok, sudah banyak yang mengalami tidur denganku hehehehe," jawabannya membuat Rita mengirimkan wajah datar dan kata 'idiot'.
"Kamu sendiri pernah selingkuh tidak dari dia?"
"......... hehehehe," jawabnya. Sama sajaaaaa!!
"Dua - duanya ternyata sama - sama bego. Kenapa kamu selingkuh?" Tanya Rita yang menghela nafas. Kalimat 'Lelaki baik untuk perempuan baik' dan sebaliknya ternyata bukan bohong belaka.
"Jadinya kalian sama saja selingkuh? Wah, aku harus jaga jarak sama kamu. Untung tidak jadi berlanjut lama waktu itu," Rita bersyukur dirinya masih selamat.
"Tidaaaak aku bisa kok menjaga hati seperti kamu, aku tidak akan begitu lagi. Sungguh!" Rita tahu keadaan begitu bukanlah yang diinginkan Alex. Dia hanya sangat kecewa apalagi waktu itu dia masih terlalu labil dan masih remaja.
"Iya aku percaya. Kamu aslinya sangat setia hanya saja waktu itu keadaannya yang memaksa kamu seperti anak nakal. Alex, ini sudah terlalu malam. Aku mau tidur ya besok mulai mengajar lagi," kedua mata Rita sudah sangat lelah hari ini ditambah dengan chat dengan Alex. Rita merasa seperti energinya menguap begitu saja kalau sudah chat dengan Alex.
"Oh,baiklah! Goodnight dream nice ( selamat malam mimpi indah ya ). See you ( sampai nanti)!" kata Alex sebelum Rita mematikan internet pada hpnya.
"See you ( sampai nanti)!" Balas Rita yang kemudian beranjak ke tempat tidurnya dan membuka bed covernya. Wah! Tidak disangka banget ternyata Alex segitu nakalnya dan bahkan dia bisa menelusuri pengalaman pahit Rita.
Keesokan harinya, Rita mulai mengajar dari jam 7 pagi sampai jam 1 siang, Rita istirahat 2x di jam 9 sampai jam 10 pagi lalu sisanya dia mengajar gelombang kedua. Rutinitasnya terus begitu sampai hari Jumat. Sabtu dan Minggu dia libur dan biasanya diselingi dengan diajak oleh Prita jalan - jalan. Soal gaji jangan ditanya hahaha guru TK berapa coba? Lumayanlah Rita di gaji 2 juta per bulan memang tempatnya mengajar adalah sebuah sekolah TK yang bonafit.
"Done ( selesai )?" Alex menchat Rita yang sedang membereskan mejanya yang penuh dengan kertas warna. Sebelum Rita membalas, dia terlebih dulu merapihkan semua meja dan kursi anak - anak. Rita memang yang paling rajin, setelah selesai dia selalu membereskan sendiri semuanya dalam kelas tidak seperti guru lain, yang mengandalkan pembantu sekolah.
"Aku baru mau pulang. Kita chat sesampainya aku di rumah ya," kata Rita yang kemudian membereskan buku - buku dan dia masukkan dalam tasnya.
"Ok." Balas Alex yang lalu tidak mengajak Rita chat lagi. Alex tidak ingin mengganggu Rita dalam persiapannya untuk pulang dan dia akan lebih bersabar menunggu Rita sampai di rumah. Rita lalu mengisi daftar absen kehadiran lalu mengucapkan salam pada kepala sekolah dan ijin mah pulang. Rita guru yang paling muda, karena muda dia tak mau terlalu terlena dengan banyak fasilitas sekolahnya. Maka dari itu kepala sekolah memberi bonus untuk gaji mengajarnya.
Dalam perjalanan pulang ke rumahnya, Rita mendengar suara notifikasi dari hpnya. Apa Alex? Soalnya dia orangnya agak tidak sabaran sih sedikit, lalu Rita melihatnya dan ternyata WA dari Ney yang isinya heboh. Tapi Rita tidak mau membacanya sampai dia selamat sampai rumahnya. Naik angkot dan sampailah di depan rumahnya, rumahnya bersebelahan dengan jalan jadi keuntungan bagi Rita tidak perlu menunggu angkot lama.
Adiknya belum pulang dari tempat kuliah, ibunya juga belum pulang dari tempat kerjanya. Ibunya juga seorang guru yang mengajar di SMP Bandung sedangkan ayahnya pensiunan yang sibuk mengurus bunga Anggrek. Rita langsung menuju kamarnya dan rebahan sebentar lalu melihat isi chat Ney.
"Rita! Kamu tahu tidak Alex itu masa lalunya hancur banget!" Yah, bukan berita hangat sih karena Rita sudah tahu juga tapi dia terus mengikuti informasi dari Ney.
"Ya. Terus?" Tanya Rita yang malas.
"Ya kamu masih mau sama Alex? Dia itu super nakal lho! Apalagi dia pernah pesta hubungan intim waktu remajanya!" kata Ney yang heboh banget ya.
"Wah! Ri, parah banget!" Kata Arnila menimpali.
"Yah namanya juga masa muda tidak terlalu salah juga kan. Seperti kamu tidak pernah saja Ney," kata Rita yang sudah tahu seperti apa juga Ney itu.
"Kok aku sih? Ya aku cuma kasih tahu kamu saja sepertinya kamu lebih baik mikir lagi deh,"
"Aku niatnya hanya berteman dengan dia bukan menganggap dia sebagai calon suami. Jadi terserah aku mau lanjut sama dia atau tidak," kata Rita dengan santai sambil makan.
"Menurut aku sih Rita bisa mengatasi Alex. Lagian, Alex kalau benar orang jahat sekarang pasti sudah menyuruh Rita macam - macam," Arnila ikut memberi pendapatnya.
"Kok aku bisa sempat menyukai dia ya padahal masa lalunya jelek begitu," yahlah yang dia incar fisik sama uangnya.
"Ya yang kamu lihat dan minati ke dia kan fisik sama materinya bukan hati. Dia baik banget kok sisi lainnya," kata Rita tersenyum senang. Bagi Ney kalau lelaki sudah terlihat cacatnya, dia tidak akan ada minat lagi.
"Sisi liarnya bagaimana?" Tanya Ney penasaran. Yang dia tahu mana mungkin Rita yang berjilbab bisa menerima begitu saja Alex. Dia berpendapat kalau Rita sosok sempurna yang membuatnya sangat iri padahal Rita sendiri tidak pernah merasa begitu.
"Dia punya alasan sendiri menurutku kenapa dia bisa begitu," jawab Rita.
"Kamu tidak penasaran? Coba kamu tanyakan dong," kata Ney. Ya seperti itulah dia, berani hanya menyuruh tapi kalau sudah kejadian ada yang salah, dia sendiri yang akan cepat kabur.
BERSAMBUNG ...