ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
392


Sesampainya di gedung besar dimana Arnila berada, Ney memasuki gedung dengan jalannya yang dia usahakan anggun. Saat sedang mengantri untuk menuliskan namanya di buku tamu, dia melihat ke sebelah kali saja ada bertemu dengan teman-temannya. Betapa terkejutnya yang dia lihat ternyata Rita dan juga adiknya Prita yang sedang menuliskan nama mereka.


Ney menganga tidak menduga kalau Rita benar diundang dan datang, Ney memperhatikan gaun yang Rita pakai yang sama warna dan motif dengan kerudungnya. Seketika itu juga dia menjadi sebal sekali, secepat mungkin dia tuliskan namanya supaya bisa langsung bertanya dengan Rita yang sudah selesai.


"Hei, kamu diundang?" Tanya Ney mencolek tangan Rita.


Rita dan Prita melihat ke samping dan Ney sudah berdiri dengan agak sebal. "Oh, kamu. Makanya aku ada disini juga," jawab Rita dengan datar.


Rita tampak sangat anggun sekali dengan baju pestanya yang berumpak-umpak, Ney memperhatikannya dengan wajah yang miring dia juga tahu bahwa ada beberapa kamera yang menyoroti setiap tamu. Dan Ney tidak melewati kesempatan itu makanya dia memilih membeli baju pesta tersebut. Yang Rita belum ketahui dia juga mengundang gengnya dan tersenyum agak mencurigakan ke arah Rita.


Mereka bertiga memasuki gedung dan disambut dengan hiasan bunga-bunga mawar yang indah sekali. Sesekali Prita mengajak kakaknya untuk berfoto bersama sedangkan Ney kebingungan dia harus ikut juga atau pergi sendiri. Melihat Rita tampaknya lama berfoto akhirnya Ney pergi duluan apalagi ada bagian dekorasi berhiaskan bunga sakura. Sesudahnya mereka berjalan lagi dan ikut mengantri untuk menyalami pengantin.


Ney melihat ke samping Rita sudah ada dalam antrian dan dia dengan bete memperhatikan dandanan Rita dan Prita yang hampir sempurna. Apalagi banyak tamu disana memperhatikan mereka berdua.


"Kita pasang ini nanti di Pacebuk," kata Prita dengan senang.


"Iya iya," jawab Rita


"Aku kira kamu tidak diundang soalnya kamu apa hubungannya sama Arnila?" Tanya Ney dengan gelagat sombongnya. Suaranya dengan sengaja dia naikkan memang begitu orangnya.


Beberapa orang yang mendengarnya hanya saling bertatapan dan melihat kelakuan Ney. Tapi dia seperti sengaja karena mengatakannya sambil memegang kuku tangannya.


"Siapa yang mengenalkan Arnila ke aku coba? Kan kamu, kemana-mana juga kamu selalu ajak Arnila katanya supaya bisa dekat," kata Rita yang juga memakai suara agak tinggi.


Orang yang mendengarnya menahan tawa ada juga yang menggelengkan kepalanya. Ney berpikir salahnya sendiri awal masuk SMA dia mengenalkan Arnila kepadanya. Dengan wajah bloon, dia termangu.


"Oh iya ya," katanya dengan suara kecil lalu terdiam.


"Kalau kamu tidak mau Arnila kenal sama aku, kenapa waktu aku bilang jangan bawa Arnila terus, kamu memaksa? Siapa yang salah kalau sekarang Arnila mengundang aku?" Tanya Rita dengan cueknya.


Ney tidak bisa berkutik lagi dan Rita menyengir lalu melihat Arnila sudah ada di pelaminan, mereka pun maju. Mereka menyaksikan kedatangannya dan Arnila melambaikan tangan pada Rita dan Ney yang yah, dia sudah tahu kalau akan ada bencana. Setelah selesai upacara tradisinya, mereka lalu mengantri untuk menyalaminya dan Ney tentu tidak mau berada di urutan belakang Rita. Dia menerobos urutan antri menjadi di depan.


"Ish, tidak sopan sekali sih," kata Prita cemberut.


"Biarkan saja, yang lain juga banyak yang tidak suka tuh," kata Rita memberi kode.


Iya pastinya ada yang sudah mengantri duluan tiba-tiba Ney menerobos dimarahi juga dia. "Hei, antri dong!" Katanya.


"Gue sahabatnya dia. Jadi wajar ya," kata Ney dengan jutek.


Orang yang diselipnya mengacungkan jari tengah di belakangnya dan semua orang tertawa. Ney sama sekali tidak peduli dan dia terus menerus melangkah ke depan sampai akhirnya sampai depan Arnila.


"Nila, kamu kok undang Rita sih? Aku kan sahabat kamu," kata Ney sambil bersalaman.


"Lu datang mau protes atau kasih selamat?" Tanya Arnila yang menjawab dengan datar.


"Ya habisnya..." kata Ney.


"Sudah sudah mau kamu marah atau tidak, tetap aku undang, kamu sendiri yang mengenalkan dia ke aku dan berharap bisa dekat kan. Meski dia bukan temanku, maaf ya antriannya panjang," kata Arnila menyuruhnya maju.


Ney yang merasa diusir harus kembali ke kenyataan dan menyalami kedua orang tua Arnila lalu menunggu lalu karena lama, dia turun untuk antri makan siang.


Beberapa orang terlewati akhirnya giliran Rita dan Prita. Arnila senang sekali Rita benar datang ada kesan khawatir tapi Rita tidak akan mempermasalahkannya.


"Rita! Makasih ya sudah datang," kata Arnila memegang tangannya dengan erat.


"Hehehe iya dong. Selamat jadi seorang istri ya," kata Rita dan Prita.


"Iya terima kasih. Maaf ya kalau nanti Ney berbuat ulah, aku harap dia tidak menghancurkan hari pernikahan aku. Aku sebisa mungkin akan menolong kamu," kata Arnila.


"Jangan. Kita bisa kok menghadapi dia nanti. Sudah kamu tenang saja jangan banyak pikiran," kata Rita lalu menyalami orang tuanya. Ibunya Arnila menatap Rita, dan Rita penuh tanda tanya.


"Kalau saja kamu yang jadi teman anak saya dan bukan Ney," bisik ibunya pada Rita.


"Terima kasih, Tante. Saya temannya Arnila meski tidak dekat. Selamat ya Tante," kata Rita tersenyum lalu menuju ke bawah.


Ibunya tersenyum begitu juga dengan ayahnya dan mempersilakan Rita menuju ruang makan siang. Makanannya sangat enak, semuanya menu dari tradisional sampai Asia ada semua. Daging steak, wagyu, bermacam-macam semuanya ada tentu halal. Sushi juga ada Prita tampak bahagia sekali.


"Makan disana yuk," ajak Prita. Mereka mengambil nasi sangat sedikit mempersiapkan perut untuk makan semua menu termasuk puding dan es krim.


Ternyata arah yang Prita tunjuk ada Ney, mereka bertatapan lalu pindah tempat. Setiap tempat disediakan meja kecil dan kursi bergaya klasik. Prita dan Rita menyimpan makanan mereka di atas meja kecil itu lalu memakannya.


Lalu Prita ijin mengambil minum dan selama itu, Ney datang pura-pura mencari tempat duduk lalu duduklah depan Rita. Rita kaget sekali, memang benar kata Tamada kalau Neylah yang senang mengekorinya.


"Kenapa kamu duduk di situ? Itu tempat adikku," kata Rita agak tidak senang.


"Oh. Aku pindah deh," kata dia pindah ke sampingnya. Meja itu tidak terlalu jauh jaraknya cukup lumayan dekat.


Rita sudah waspada bersiap-siap dengan obrolan Ney yang mulai memanas. Heran senang sekali dia memancing esmosi orang.


"Jam berapa kamu dari rumah? Kok bisa sih sampai tepat waktu," kata Ney sambil memakan kue.


"Shubuh lah aku ke Jakarta serombongan dengan keluarga. Saudara kan ada yang tinggal di Tangerang," jelas Rita sambil makan salad.


"Aku tidak tanya," kata Rita singkat.


Ney sebal sekali mendengarnya. "Ya aku kasih penjelasan saja supaya kamu tidak bertanya lagi," kata Ney menggerakkan tangannya.


"Iya, makanya aku kan tidak tanya," kata Rita tidak memperdulikannya dan terus menikmati makanannya.


"Ugh... kamu kok berani datang?" Tanya Ney lagi yang masih penasaran.


"Kan diundang. Memangnya salah?" Tanya Rita yang malaaas sekali sebenarnya.


"Iyalah kamu bukan teman dia juga memang sih aku yang kenalkan. Salah aku dari awal," kata Ney.


"Ya memang salah kamu enak saja nyalahin gue," kata Rita selesai makan.


"Aku keberatanlah," kata Ney agak sebal.


"Memangnya kamu yang punya hajatnya? Kalau kamu menikah aku tidak akan datang kok kalau kamu tidak undang," kata Rita menghabiskan minumnya.


"Ya buat apa aku undang juga," kata Ney.


"Iyalah, aku kan bukan teman kamu juga terus bukan teman Arnila lalu kenapa kamu ajak aku mengobrol? Memangnya kamu kenal aku?" Tanya Rita yang berdiri membawa piring kosongnya dan meletakkannya di bagian Cleaning Service.


Ney membuka mulutnya dan menahan diri, dia berpikir kalau langkahnya salah lagi. Melihat Rita mengantri untuk Chicken Soup, Ney juga beranjak kesana dan mengantri sambil melipatkan kedua tangannya dan menatap Rita dengan garang.


Tapi Rita hanya fokus pada makanan saja 😅😅sama sekali tidak peduli dengan Ney. Setelah dapat, Rita berjalan ke tempat yang tadi dan duduk di tempat yang berbeda. Prita sudah ada disana membawakan kue-kue kecil yang imut.


Sedangkan Ney akhirnya dapat juga dan sama kembali ke yang tadi, duduk sebelah Rita. Prita memandang Ney dengan tatapan jijik karena sedari tadi dia memperhatikan, selalu ikut-ikutan apa yang Rita lakukan, dia lakukan juga. Saat sedang berbincang dengan Prita, datanglah lelaki yang berjas rapih ke arah Rita.


"Kamu Rita Ashalina bukan?" Tanya orang itu.


"Iya. Siapa ya?" Tanya Rita memandangi lelaki itu.


"Wah, benar! Ini aku Sadam! Kita kan satu sekolah sewaktu SMA tapi tidak lama aku pindah sih," katanya dengan girang.


Rita mengingat-ingat. SMA? Lalu teringat sosok lelaki yang sering kena hukuman waktu belajar. "Oalaaa Sadam! HAHAHAHA apa kabar!? Cuileee jadi keyen begini kamuh," kata Rita dengan suara yang senang sekali.


Sadam adalah teman semasa sekolah di SMA meski bukan teman sekelas mereka akhirnya berkenalan saat ada kejadian dan sempat mengobrol. Ney yang mendengarnya hanya terkejut juga tidak menyangka kalau Rita punya teman laki-laki yang super keren. Tanpa sepengetahuan Rita, Ney mendekati tempat duduknya agar bisa kecipratan obrolan. Dia senang sekali kalau ada orang yang tahu kegiatan sehari-hari Rita, karena dia bisa menyimpannya untuk dirinya nanti.


"Oh iya dooong anak Borjuis nih. Alhamdulillah, kamu bagaimana kabarnya juga? Ini adik kamu ya. Halo," kata Sadam pada Prita.


Prita senyum dan melambaikan tangan juga. "Temannya Rita?" Tanyanya.


"Iya tapi hanya sebatas hai hai saja. Soalnya kan sebenarnya beda lingkungan sekolah hanya pas sekali, kelas dia sama saya cuma dihalangi tembok saja. Jadi setiap istirahat Rita suka kasih pinjam buku tugasnya," jelas Sadam.


"Hah? Kok bisa?" Tanya Ney yang tidak ada angin atau hujan ikut nimbrung. Prita nyengir, Rita aneh, dan Sadam hanya kebingungan.


"Anak borjuis tapi malas kalau ngerjain tugas makanya sering kena hukuman. parah!" Kata Rita ketawa keras.


"Hahahaha begitulah. Kamu kuliah dimana sekarang? Jadi guru tuh?" Tanya Sadam.


Rita mengangguk senyum. Mereka berbincang makin seru dan datanglah beberapa teman lelakinya. Tentu saja Ney juga memang kebagian tapi Sadam memperlihatkan kode aneh yang membuat Rita membalasnya dengan ekspresi datar.


"Oohhh..." kata Sadam mengerti.


"Kalian beda lingkungan kok bisa saling kenal sih? Agak ajaib juga ya," kata Ney.


Apa yang dijelaskan Sadam tidak begitu terdengar olehnya karena sibuk mengamati dan mengagumi temannya Sadam yang mirip dengan Jungkook BTS.


"Iya, Rita ini teman sekelas sebelah aku," kata Sadam menjawab sekedarnya karena Rita memperingatkannya untuk tidak banyak bicara dari isyarat mulutnya. Itu juga ditangkap oleh temannya yang lain.


"Kok bisa? Kan lingkungan sekolahnya Rita itu kelas bawah ya jadi tetap menurut aku aneh kalau kamu bisa kontak sama dia," kata Ney membuat semua orang memperhatikannya dan memang itu yang dia mau. "Guru kamu tidak marah kalau kamu bergaul dengan dia?" Tanya Ney.


"Apa urusannya? Mereka bukan orang tua saya, orang tua aku saja senang kok sama Rita. Dia mah beda dengan perempuan genit yang mendekati kita hanya ukuran uang," jelas Sadam jelaslah kenapa Rita memberi kode.


"Yang aku tahu sih mereka bisa kenal seperti sekarang Rita membantu Sadam sewaktu dihukum di luar kelas. Kebetulan sekali kelasnya Rita tidak ada pelajaran, bukunya baru dibagikan untuk tugas. Tiba-tiba Rita kasih saja bukunya ke Sadam lewat belahan tembok, jadi ya mereka bertukar begitu. Benar kan?" Tanya temannya yang mirip JK.


Mereka berdua tertawa bersamaan dengan keras. Ney agak emejing mendengarnya apalagi temannya juga tidak ada yang merendahkan Rita.


"Setelahnya bagaimana sih? Bu Dikta tahu itu bukunya punya aku?" Tanya Rita yang selesai menghabiskan soupnya.


"Tidaklah. Aku bilang saja bukunya kelupaan dan ditaruh di luar kelas. Selamat deh aku hehehe jadi seterusnya ya aku menyontek hasil kerja Rita deh," kata Sadam mengaku lalu digetok oleh teman-temannya.


"Bahahaha parah luar biasa ya Anda," kata Rita memukul bahu Sadam keras.


"Aduh! Kamu belajar tinju ya sakit benar," kata Sadam mengelus bahunya sambil tertawa.


"Persiapan untuk menghajar seseorang nanti," kata Rita dengan semangat.


Bersambung ...