
Mereka lalu berjalan bersama saling berdua - duaan sedangkan Ney berjalan sendirian. Dia kesal mengetahui dirinya hanya sendirian melihat teman Rita termasuk dirinya juga memiliki pasangan. Rita dan Siti mendiskusikan sesuatu dengan serius, tentu saja Diana bersama dengan Komariah yang pastinya bercanda seru.
Ney memandangi semua itu dengan pandangan kesal, yah padahal dia sudah terbiasa sendiri juga lagipula dari nadanya selama ini seperti tidak suka dengan Rita juga jadi buat apa kesal? Dia hanya bisa melihat mereka semua saling bercanda satu sana lain, apalagi Rita. Dalam hati ingin bergabung dengan Rita tapi pasangannya Siti yang memiliki pemikiran luas soal agama, itu membuatnya malas.
Gabung ke Diana, ada Komariah yang juga tidak menyukainya, dia kebingungan harus bagaimana. Kalau Author sih tidak mau deh jalan sendirian sedangkan orang di depan bukan teman yang lebih dikenal. Orang lain pastilah bergabung sama teman yang dia kenal tapi kalau Ney, dia sudah menolak waktu diajak oleh Rita jalan bareng. Dia inginnya bersama Diana tapi saat itu Diana dan Komariah sudah lebih dahulu saling berpasangan.
"Padahal Rita sudah ajak ikut sama dia ya," bisik Linda pada Tamada.
"Kelihatannya ingin dengan Diana. Padahal dia kan temannya Rita, ngaku - ngaku sudah berteman baik sama Mbak Diana," balas bisik Tamada sambil memandang ke belakang.
Mereka berdua mengangkat bahu mereka masing - masing, akhirnya dia tidak ada pasangan dan melihat Rita bersama Siti. Lalu Ney memutuskan untuk ikut masuk ke tim Diana dan Komariah. Mereka kaget ketika tiba - tiba Ney jalan bersama mereka. Kalau memang ingin dengan Diana harusnya dia bisa menjaga ucapannya untuk tidak meremehkan orang lain apalagi dia baru kenal dengan teman - temannya Rita. Baru kenal tapi banyak cerita soal Rita hmmm.. mending kalau yang baik tapi ini semuanya jelek - jelek kelihatan banget ingin menjatuhkannya. Jadi secara otomatis tidak ada yang menyukainya dan mereka juga menghindarinya.
Komariah mendelik melihat Ney yang berjalan beriringan dengan mereka, Diana cuek Ney berusaha berdekatan dengannya. Rita menertawakan Diana yang terlihat bete banget! Dari situ pun terlihat kalau Rita bukan teman yang memaksakan kehendak apalagi sampai iri atau mengunci ruang gerak pertemanan Diana ataupun Komariah. Siapapun boleh berteman dengan mereka asalkan tahu aturan dan sopan saja supaya mereka juga nyaman. Tapi kalau Ney sih ... tebak lah.
"Diana, kamu kok masih mau sih jadi teman Rita? Sama aku saja, aku juga seru kok," kata Ney yang masih saja keukeuh.
"Diana, beli baju waktu itu di mana? Aku cari kok sudah tidak ada?" Tanya Komariah yang tidak peduli dengan pertanyaan Ney.
"Hahaha sepertinya sudah kehabisan kamu sih niat belinya pas akhir bulan. Kita cari saja nanti di tempat lain," balas Diana sambil tertawa.
"Aku kan tunggu kiriman uang, tempat mengajar aku juga belum gajian. Ada di mana lagi ya, Na? Buat kerja," kata Komariah yang sedang berpikir sambil memakan permen. Untungnya semua cemilan ada pada dia jadi bisa bebas memakannya.
'Oh, dia juga kerja? Tapi pasti gajinya tidak sebesar punya Rita ya apalagi barang - barangnya pasti murah dia belinya,' Pikir Ney yang melihat tas yang dipakai oleh Komariah. Diana menangkap kalau Ney sedang melihat barang dan baju yang dipakai Komariah dan dia sangat terganggu.
"Memangnya kamu punya uang banyak untuk beli barang mewah seperti yang dipakai Diana? Memangnya berapa sih gaji mengajar kamu pastinya tidak sebanyak yang Rita punya ya. Dia sudah sampai 2 juta lho. Kamu berapa?" Tanya Ney yang memandangi Komariah dengan senyum bermakna.
Komariah menatapnya dengan jutek dan tidak menjawabnya. "Duh, susah ya bicara sama orang yang terbiasa nyinyir,"
"Kamu tidak sopan tahu nanya gaji orang. Memangnya kamu kerja?" Tanya Diana pada Ney dengan wajah jutek.
"Ya aku kerja dong. Gaji aku 4 juta kalian kalah semua. Aku lebih setara dengan Diana, aku biasa beli barang mewah jadi kamu kurang cocok sih menurut aku," kata Ney yang memamerkan barangnya pada mereka berdua. Rita dan Siti mendengarnya dan Siti melirik ke Rita begitu juga Rita. Meskipun jarak mereka berbeda tetap saja terdengar karena saat itu Mall sepi.
"Aku tidak suka orang yang senang pamer. Rita tidak pernah sombong, dia baik hati sekali orangnya. Harusnya kamu bersyukur setidaknya punya teman baik seperti dia OPS! Iya ya kamu kan bukan temannya, mana ada teman baik tapi menjatuhkan langsung dengan cerita ke banyak orang soal jeleknya," kata Diana yang menyindir dirinya. Ney pura - pura tidak mendengar dia membuka ponselnya dan sibuk.
Komariah dan Diana keki melihatnya. "Yuk Di, biarkan saja orang sinis dan irian ini. Orang kita bukan temannya dia, rugi banget jawab semua pernyataannya." Mereka lalu berjalan menjauhi Ney dan berpindah posisi ke depan Rita dan Siti.
Ney yang tersadar mereka pindah akhirnya terpaksa bergabung dengan Rita dan Siti. Ney pindah ke sebelah Rita dengan tiba - tiba melihat ternyata Diana pindah lagi ke depan Annisa yang sedang melihat - lihat pakaian.
"Eh, masuk ke bioskop yuk. Ingin tahu ada film apa yang terbaru!" Kata Rita membuyarkan semuanya.
"Buat apa sih masuk ke sana hanya untuk lihat film yang akan tayang kalau bukan untuk menonton?" Tanya Ney yang berkacak pinggang, dia heran banget sama kesukaan Rita yang senang masuk tanpa membeli tiket. Jalan - jalan lihat iklan film tanpa membelinya itu kan membuang waktu.
"Ya tidak apa - apa kalau kamu tidak mau, tunggu disini atau pergi saja kemana kamu mau. Aku juga tidak memaksa mereka semua, kalau tidak ada yang mau ya sudah menyebar saja. Kenapa juga kamu rese?" Tanya Rita yang berjalan ke arah bioskop.
Annisa dan Siti tertarik ke toko lain. Tamada dan Linda ke toko parfum, memang semuanya menyebar. Yang ikut dengannya sudah tentu Diana dan Komariah, mereka langsung memasuki bioskop dan berjanjian bertemu di lantai bawah.
"Nyebelin banget sih dia Ri, pakai nanya gaji aku berapa terus pamer gitu ke Diana," bisik Komariah.
"Memang begitu orangnya senang pamer ini itu. Waktu SMP sama dia, sering banget dia ganti ponsel terus pamer ke aku. Karena aku kan tidak punya ponsel sebagus dia. Nokia jadul itu lho aku sih yang penting bisa menelepon, SMS atau sekarang WA ya sudah cukup," kata Rita pelan - pelan melihat ke belakang ternyata Ney akhirnya ikut masuk juga dengan terpaksa tentunya.
"Iya, sabar ya. Kalem kalem nanti ada yang mau kamu bicarakan sama dia? Keluarkan saja aku akan tiarap di semak - semak," kata Rita yang memijat bahunya untuk lebih bersabar.
"Hahaha kamu nih bisa saja deh. Tahu lah kalau aku meledak bagaimana. Aku kesal banget bisa - bisanya dia terus jelekin kamu terus sekarang Kokom, masalah dia apa sih, Ri? Orangnya tidak suka ya kalau ada yang lebih atau yang mampu? Heran aku tuh," kata Diana yang memijat dahinya.
Ney tampak berjalan ke arah mereka tapi duduk di sofa. Dia sebal karena tidak ada yang menurut padanya dan memandang Rita dari kejauhan dengan lebih tidak suka. Komariah dan Diana memang selalu mendukung apapun yang Rita mau. Kok mereka mau sih? Sama sekali tidak pernah bilang 'Tidak.' Niat Ney yang menurutnya baik ingin Diana dan Komariah berhenti mengikuti Rita, tapi tampaknya mereka juga menikmati. Itulah yang Ney tidak mengerti.
Ney lalu menghampiri saat Diana dan Komariah menyebar juga, Rita berjalan ke lorong dan melihat ada film apa saja. "Tuh kan, teman - teman kamu tidak ada yang mau masuk ke sini,"
"Ya bukan masalah tuh," kata Rita yang melihat daftar film di layar.
"Kamu kenapa sih kok senang banget lihat daftar film tapi sama sekali tidak ada yang di tonton? Kalau aku sih buang waktu," kata Ney yang tumben tidak menghampiri Diana.
"Ya ini yang aku suka kenapa kamu mempertanyakan? Aneh? Tidak juga tuh lihat, orang lain juga sama. Daripada kamu asal nonton film yang ternyata isinya tidak diterima nalar, lebih baik juga lihat iklannya dulu," kata Rita sambil menunjukkan orang - orang yang masuk lalu melakukan apa yang Rita lakukan.
"Ya menurutku sih aneh," kata Ney yang terus melihat Rita.
"Halah! Kamu juga suka begitu kenapa sekarang jadi nanya begitu? Maunya dilihat orang itu kamu lebih lebih... gimana gitu ya? Buat apa sih kamu seperti itu supaya orang memandang kamu itu lebih apa ya? Bijak atau lebih wibawa? Tapi mulut kamu tidak bisa menjaga bahan pembicaraan ya sama saja," kata Rita menatap Ney. Mereka saling berhadapan.
"Aku hanya bicara seadanya kok kamu kan memang begitu," kata Ney yang seakan menantang.
"Iya aku memang begitu tapi kamu lupa ya siapa yang paling banyak senang membuat masalah. Kamu pikir teman - teman aku sempurna juga? Kamu pikir aku tidak bisa melawan apa yang kamu lakukan? Aku bisa kok mudah banget bilang ke mereka semua siapa kamu sebenarnya, tapi aku pikir buat apa? Toh mereka tidak kenal kamu, kamu juga bukan teman yang mereka kenal. Tapi bisanya kamu jelekkin aku ke mereka semua, kamu tidak malu? Aku yakin kamu berencana mau mempermalukan aku tapi sebenarnya kamulah yang sedang mempermalukan kamu sendiri di hadapan mereka. Tahu kalau mereka membicarakan apa yang kamu bicarakan ke aku?" Tanya Rita pada Ney yang enggan mendengarkan semua celotehannya.
"Ya ya ya," kata Ney yang menolak.
"Kalau aku lagi bicara tuh dengarkan! Kamu juga tidak suka kan kalau kamu bicara, aku tidak peduli? Mereka semua jenuh sama kamu," kata Rita.
"Tapi aku tidak merasa begitu sepertinya sih mereka yang jenuh sama kamu soalnya kamu itu teman palsu," kata Ney membalas lebih nyolot. Nih anak memang senang banget cari musuh.
"Ya iyalah mana ada mereka langsung bilang karena mereka masih bisa menghargai kamu yang sebagai teman aku. Mereka juga tahu kok kalau kamu bukan sahabat aku. Silakan kamu berusaha membuat mereka jauh dari aku, aku sih tidak seputus asa seperti kamu ya. Selain mereka, aku masih punya banyak teman hanya kamu tidak tahu. Teman Palsu itu justru tipikal seperti kamu, berusaha menjatuhkan, berusaha menjelekkan orang, pamer barang, senang saat teman sendiri kesusahan, sedih saat mereka bahagia," Rita mengungkapkan semuanya.
"Aku tuh heran banget sama kamu ya kok Diana sama Komariah mau saja sih mengikuti kamu? Kamu mau kesini, mereka ikut, kesana, juga ikut. Kalau aku sih ogah banget!" Kata Ney.
"Hahaha kamu tidak mengerti? Kasihan ya kamu masih harus banyak belajar deh. Mereka adalah teman yang selalu ada di sisi aku saat sedih, susah, bermasalah, kita bertiga memang paling dekat sesamanya. Tidak seperti kamu dulu aku ada masalah, kamu malah ketawa dan lebih menerima cerita dari orang lain. Sesakit itu ya aku sadar kalau kamu bukan termasuk orang yang patut aku sanjung," kata Rita yang membalas perlakuan Ney kepadanya.
"Ya tapi kamu kan lamanya sama aku jadi kamu harusnya tahu aku seperti apa," kata Ney.
"Iya aku sudah tahu kamu itu seperti apa orangnya tidak memerlukan waktu lama untuk mempelajari kami tapi kamu sendiri tidak mau tahu aku seperti apa. Kamu hanya melihat aku dari kulit bukan dari isi. Waktu bukanlah ukuran seberapa lama aku kenal, tapi rasa nyaman, rasa nyambung, bagaimana cara kamu memberi solusi pada orang dengan tidak meninggalkan mereka saat bermasalah. Itu yang diperhitungkan. Kalau ada yang lama sama kamu tapi kamunya egois sih ya jangan salah dia akan mencari orang lain yang lebih nyaman. Sederhana," kata Rita yang lalu pergi dari hadapan Ney.
Ney terdiam di tempat, selama ini Rita jauh darinya karena merasakan tidak ada kenyamanan pada dirinya. "Tunggu tunggu berarti selama ini kamu menguji aku? Dengan permasalahan kamu yang sulit? Berarti kamu bermasalah dong sama dengan aku,"
"Hah? Setiap manusia yang hidup pasti punya masalah pasti akan selalu diberi ujian. Selama ini yang kamu lihat soal aku itu adalah ujian dari Allah untuk melihat seberapa berharganya diri kamu untuk orang lain. Orang yang pantas dianggap Sahabat akan diuji dulu dari keadaan sulit. Dan mereka yang kamu kenal sekarang sama sekali tidak pernah meninggalkan aku sebagaimana pula kondisi aku. Berbeda dengan kamu selama ini," kata Rita tertawa mendengar pertanyaan Ney.
"Aku kan selalu ada buat kamu, Rita. Mendengarkan cerita kamu juga soal Alex soal apapun!" Kata Ney yang memaksa kalau dia intinya mengerti.
"Lalu kenapa kamu membully aku? Kalau kamu mengerti soal aku, saat Alex mengajak kamu untuk melakukan itu harusnya kamu menolak! Aku berharap banget ya kamu menolak! Tapi diluar dugaan, kamu sama saja. Dan sekarang kamu mengatakan aku ini itu ke orang yang baru kenal, serius Ney. Kamu ini kenapa sih? Iri aku punya banyak teman? Punya sahabat? Kalau kamu tidak suka aku, terpaksa menemani aku ya sudah kamu bebas sesuka kamu pergi cari orang lain yang lebih sesuai visi kamu. Kamu tidak perlulah menjelekan aku seperti apa sebagai perpisahan kamu. Kamu tahu, ujian terbesar aku itu adalah kamu!" Kata Rita dengan wajah super kesal.
BERSAMBUNG ...