ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(357)


Mereka bengong melihatnya, keponakan kedua alhasil menaruh semuanya kembali ke lemari kecuali Glico Pocky katena dia memang ingin. Lalu dikeluarkanlah 4 bingkisan kecil itu.


"Aku mau ini!" Tunjuk keponakan kedua memilih bingkisan yang agak besar. Isinya memang lumayan sih tahu saja nih anak makanan yang kualitas mevvah. Isinya ada Cheetos ukuran sedang, Pie susu 3 bungkus ( tapi dihitung 1 saja ), Buavita Apel, East Bali Cashwes, Coklat Kinderjoy dan Toppoki ukuran besar. Ini sebenarnya yang Rita mau tapi karena keponakan yang kedua memang tahuuuu saja jajanan enak, ya sudahlah Rita kasih saja.


"Ueoooow ada Toppoki tuh! Serius?" Tanya Prita menatap kakaknya, tahu kalau kakaknya itu pecinta Toppoki.


"Yah, apa boleh buat Pri. Tenaaaang aku punya 3 paket Toppoki hehehehe kita bisa buat nanti," kata Rita. Prita lalu mengacungkan jempolnya.


"Ya sudah sana. Sekarang nih yang paling gede. Mau yang mana?" Tanya Prita khawatir kalau persediaan kakaknya habis.


Keponakan pertama tentu saja lebih memilih paket satuan alias milih. "Pilih saja ah!" Katanya menuju lemari makanan.


"Terserah!" Kata Rita yang memakan keripik makaroni.


Dia mengambil cemilan yang oke juga seperti :


Cake Lumer 1 mangkok ( memang ada juga )


Roti Croissant Rasa Cokelat 1 bungkus


Mie lidi rasa rumput laut


Buavita Mangga


Macaron isi 10


Onigiri 1


"Sudaaah," katanya langsung kabur.


"Dasar! Makanan Mewah semua itu. Bagaimana? Tidak apa - apa?" Tanya Prita agak cemas.


Suara di sebelah kamar pun lebih keras karena makanan yang diambil kakaknya lebih uenaaakkkkk alhasil yang bungsu mau tukar juga dengan Cake lumer yang rasa mangga, keponakan kedua juga sama dan milih Cake lumer rasa yang sama dengan kakaknya.


"Sudah ga usah dituker. Ambil saja. Nih bawa lagi saja, untuk kakak juga kasih nih," kata Rita yang terus tertawa melihat mereka berdua.


"YAAAAAY!! MAKASIH ATEUUUU!" Teriak mereka bertiga dari ruang sebelah. Yah banyak makanan deh disana.


Setelah tahu mereka bertiga tidak datang lagi, Rita menarik bungkusan besar dan mengisi ulang lemarinya. Prita terkejut kedua matanya hampir keluar semua 😱😱😱.


"Pantasan tenang saja. Ternyata sudah beli lagi toh. Beda?" Tanya Prita yang lalu melihat kedalamnya. Sambil menggelengkan kepalanya.


"Persediaan untuk sebulan, Pri mumpung dapat bonus banyak nih gegara ketiban bata," kata Rita menunjukkan ke dahinya.


Malam itu rumah pun hiruk pikuk, sebagian makanan disimpan oleh keponakan untuk bekal ke sekolah. Ayah dan kakak pun senang melihat ketiga anaknya tertawa dan saling mencicipi. Tentu saja mereka juga ikut makan.


"Dek, coba ke ateu buat Bunda dan ayah mana gitu," kata kakaknya.


"Memangnya pasti dikasih? Kan bunda sudah bukan anak - anak," kata keponakan pertama.


"Kamu sana yang minta masa suruh anak?" Tanya bapaknya. Lalu kakaknya menuju kamar Rita sambil cengengesan. Untungnya Rita sudah memasukkan semua makanannya.


"Apaaaa...." kata Rita dengan ekspresi datar.


"Hehehehe..." kata kakaknya sambil mengusap - usap kedua tangannya.


"Teteh usia berapa ya?" Tanya Prita heran.


"Ayolaaaah ayolaaaah..." katanya sambil senyum - senyum.


"Heuuu aya oge geus jadi emak - emak miluan siga budak leutik ( ada juga sudah jadi ibu - ibu ikutan seperti anak kecil )," kata Rita melihat kakaknya.


"Ayolaaaaa....h," katanya masih senyum simpul termasuk suaminya juga.


"Ini saja," kata Prita menunjuk ke bingkisan kecil. Rita dan Prita cekikikan.


"Tul tul," kata suaminya juga.


Mereka lalu diberikan bingkisan yang tadi ditambah 1 cemilan lainnya tentu saja yang lebih bagus kualitas cemilannya. Kakaknya diberi 1 bungkus isi 20 Sushi beku jadi tinggal dihangatkan saja lalu suaminya Rita kasih Risoles beku isi 20 buah juga.


"Ini ya sama ini nih buat Teteh sushi. Suka juga kan? Masih baru lhoooo," kata Rita.


"Woooow asyik. Makasih ya, Ri!" Kata tetehnya yang langsung meluk terus keluar kamar.


"Nih buat Aa sama ini da Aa mah kan tidak suka yang aneh - aneh sama dengan Bapak. Ini suka kan? Risoles isinya sayur tapi ada mayo dan keju. Uenaaakkkkk!" Kata Rita memberikan ke suami kakaknya.


Diterima dengan sumringah dan ketawa. "Wih, nuhun nya. Iya tidak suka yang aneh - aneh. Wah! Asli ini mah kamu suka buat stok makanan?" Tanya suami teteh yang dapat 2 bungkusan sama dengan istrinya.


"Daripada maag coba? Da yang makannya juga bukan Rita sendiri, Aa. Nih yang suka ngesot ke kamar sama bapak dan ibu juga," kata Rita yang langsung digeplak sama adiknya.


"Disantap ya!" Katanya lalu keluar kamar.


"Dikasih apa?" Terdengat tanya Ibunya.


Lalu disambut suara heboh dan terkesan. Makanan yang mereka terima, sengaja mereka simpan untuk di nikmati di rumah.


"Mau apa?" Tanya Rita ke adiknya yang tersisa.


"Ehehehe aku juga mau ya rotinya minta 2 terus Cimory dan paket steambot boleh? Ada dua nih," Kata Prita yang melihat.


"Jangan yang besar!" Rita panik.


"Hah? Oh! Gila ini buat dimakan sama 5 orang! Serius mau makan sendirian?" Tanya Prita bengong. Dia juga heran banget kakaknya itu paling suka ngemil tapi badannya tetap saja kurus.


"Tidaklah untuk nanti kita makan bareng, Pri. Pokoknya yang besar - besar jangan ya untung tuh 3 krucil tidak buka lemari yang paling atas. Fiuh!" Jelas Rita. Adiknya tertawa lalu mengambil cokelat saja.


Alex melihat semuanya dan terpana dengan yang dilakukan Rita. Dia jadi semakin menyesal sudah berpikir jelek pada Rita apalagi sampai menyakitinya. Dia lebih terkejut lagi saat melihat 1 lemari itu dengan banyak rak ternyata isinya bermacam - macam makanan dari beku sampai berat. Alex membayangkan kalau seandainya rumah dirinya dekat dengan Rita, dia tidak akan perlu susah bila tidak ada cemilan saat malam. Dia bisa menghabiskan semuanya tapi tentu saja kalau habis dia habiskan, pukulan bogem mentah hasilnya.


Alex pikir Rita sangat egois kepada siapapun, mengira Rita lebih mementingkan dirinya sendiri saat punya banyak uang tapi dia lihat tadi mencoret semua pemikirannya. Dan melihat wajah Rita yang senang sekali berbagi makanannya. Sampai ada sushi? 'Kalau aku punya uang banyak lalu aku beri pada Rita pasti dia akan lebih fokus pada makanan bukan barang. Wah!' Pikir Alex. Apalagi Rita baru saja mengisi ulang raknya. Semakin menelan ludah dia.


Adiknya lalu keluar diam - diam melihat keluarga kakaknya sibuk makan hasil rampokannya ke Rita. Daripada Rita, Prita lah yang badannya semakin subur setiap seminggu 3x pasti datang ke kamar Rita untuk minta cemilan. Rita lalu kembali Ney belum membalas lagi.


"Yang terbaik buat aku sih kamu berdoa sajalah daripada kamu rusuh sendiri ya soal sok ngatur sana sini, kamu bukan Tuhan tapi manusia. Dan bukan manusia yang sempurna juga ya hanya Dia yang berhak mengatur pribadiku seperti apa. Aku mau mengubah kamu saja, kamu tepis kan jadi ya sudah aku juga menepis semua usaha sok tahu kamu. Kamu tidak sadar kalau pribadi kamu itu lebih parah dari aku?" Tanya Rita.


Ney membaca lagi. Kok lama ya? Kemana saja dia malam begini? Tapi tidak Ney pikirkan mana mungkin Rita berani keluar malam - malam tidak seperti dirinya.


"........." kata Ney yang masih tidak tahu harus komentar apapun. Dia juga sudah jenuh membaca semua isi chat dari Rita. Tapi karena dia masih butuh, dia baca meski otaknya sudah mulai kolaps.


"Aku yakin maksud perundungan yang kamu dan Alex lakukan itu berbeda deh maknanya. Nanti deh aku tanyakan lagi soal itu ke Alex. Tapi tidak untuk sekarang, aku masih bete sama dia dan aku sibuk kuliah sebentar lagi ujian praktek," kata Rita agak penasaran. Semuanya harus kelar!


"Kita merundung kamu agar ya itu kamu bisa diterima di keluarga besarnya dia, Rita," kata Ney meyakinkan.


"Bukan. Aku pikir Alex tujuannya bukan itu deh. Beda dengan tujuan kamu hanya sama caranya yang kalian lakukan meski salah semua," kata Rita tidak percaya. Bukan itu kenapa Alex merundungnya.


"Masa sih? Menurut aku sih sama saja tujuannya," kata Ney yang lemas. Bukan dengan tujuan yang sama dengannya? Lalu apa dong?


"Bukan aku yakin, karena pemikiran dia sama kamu beda. Kalau kamu lebih ke memang ada rasa cemburu dan super iri, jadi seperti sengaja mau membalas padahal itu hanya pemikiran kamu saja kalau aku jadi sombong. Aku biasa saja kok. kalau Alex lebih ke sesuatu yang tidak bisa aku lihat," kata Rita.


"Lalu apa?" Tanya Ney yang sangat kepo.


"Entahlah nanti aku mau tanya ke dia kalau moodku sudah baikan dan tugas kuliah berkurang. Ney, ini mah hanya mengingatkan saja ya supaya kamu nanti kalau ke orang tidak seperti kamu ke aku. Kalau kamu bantu seseorang dengan niat ada balasan atau imbalan atau supaya dapat pamor, lebih baik lupakan. Pahala tidak dapat, kamu bantu tapi tidak dihargai kalaupun dipuji juga pasti kurang bagi kamu karena orang yang hanya mikir untung, mau bagaimanapun akan selalu kurang. Aku sudah sering banyak terima kasih sama kamu tapi... kamu hargai? No. Kamu terus saja bilang ke orang kalau aku tidak tahu terima kasih," jelas Rita panjang.


"Aku memang ingin membantu," kata Ney dengan kedua mata yang berkaca.


"Tapi kamu masih menghitung untungnya kan? Lebih baik kamu hitung untungnya sama Allah swt saja lebih enak. Aku ini manusia Ney bukan mesin penghasil pamor dan kalau kamu niat dengan kata BANTU aku agar pribadiku di reset seenaknya, artinya kamu itu teman yang Fake. Teman Real itu tidak akan pernah bertingkah seperti Tuhan, menerawang atau meramal itu juga kan tergantung kehendak Allah swt. Bukan pasti terjadi seperti yang kamu lihat itu dan aku sama sekali tidak percaya dengan ramalan apalagi yang isinya jelek. Kamu kan begitu lihat terawang soal aku jelek semua, itu tuh doa Ney! Kamu punya dendam tersembunyi ya sama aku? Sampai mendoakan aku dapat kecelakaan. Nauzubillah, Ney tega banget sih lu," kata Rita yang sedih sekali.


BERSAMBUNG ...