
Uang yang Ney dapatkan dari hasil kerjanya sudah tentu dia pakai buat ajojing dalam klub gemerlap alias dugem, dan juga belanja banyak barang. Mendengar cerita Arnila kalau dirinya justru sering di traktir lalu kenapa Rita tidak pernah?
"Kok Arnila sering, aku tidak pernah? Hmmm tidak apa-apalah mungkin rugi Nila kalau dia traktir aku. Kesannya mungkin kalau aku akan morotin dia," kata Rita mencibir.
Arnila tentu saja sama sekali tidak tahu kalau Ney tidak pernah sekalipun pernah mentraktir Rita. "Lho kok ceritanya beda sih? Kata Ney dia juga suka nraktir kamu. Hei, Ney kamu bohong?" Tanya Arnila membuat Ney tidak berani bilang apapun.
"Dia pernah janji mau nraktir aku. Mana janjinya?" Tanya Rita menagih sampai dirinya yang ntaktir dia lagi.
"Yaaa uangnya sudah habis," kata Ney yang sambil memanggang daging.
"Kok sudah habis sih? Katanya kamu mau menabung, uang gaji pertama pasti bakalan kamu tabung mau kerja dimanapun," kata Arnila sengaja.
"Ya kan kita tidak pernah tahu kebutuhan nanti akan perlu apa saja," kata Ney yang tidak mau menatap lawan bicaranya. Kalau sudah begitu memang orangnya tidak mau mengakui janjinya sendiri yang sudah diingkari.
Arnila menatap Rita begitu juga sebaliknya, dengan pandangan yang mereka sudah terbiasa mengalaminya. Sudah beberapa mereka terbiasa dikecewakan oleh seribu janji Ney yang tidak pernah dia tepati eh hanya pada Rita saja. Makanya Rita heran kenapa hanya padanya saja Ney bertingkah selayaknya musuh.
"Memangnya janji dia bagaimana?" Tanya Rita sambil menyuap nasi.
"Katanya dia gaji pertama saat bekerja menjadi asisten Marketing, akan dia tabung. Itu juga janjinya sudah dari bulan-bulan lalu, dia juga pernah kerja sambilan di Cafe tapi tidak lama," kata Arnila yang cuek menceritakannya.
Rita yang mendengarnya langsung melirik Ney yang masih pura-pura tidak mendengarkan. Dalam wajahnya terkesan dia seperti malu sekali saat Arnila menceritakannya, well sudah muka badak juga sih.
"Marketing? Di mana kerjanya?" Tanya Rita yang melirik Ney sedikit.
Arnila yang sedang mencampurkan bumbu tidak memperhatikannya, Rita sengaja dengan menaikkan volume suaranya memastikan tidak salah dengar.
"Dia bilang sih sekitaran Gegerkalong. Kamu kan kuliah di daerah situ mungkin kamu tahu dimana," kata Arnila yang kemudian menunggu dagingnya matang.
"Sudah deh jangan omongin itu lagi mending kuta sekarang makan saja ya," kata Ney yang berusaha menutup pembicaraan.
"Oh, kamu tuh kerja Marketing, Ney? Dimana sih kan aku kuliah sekitaran Gerlong," kata Rita yang sengaja menaikkan suaranya.
"Hmmm... dimana ya? Aduh, aku lupa lagi alamatnya Rita. Buat apa sih kamu bertanya?" Tanya Ney yang salah tingkah. Kartunya dibongkar tanpa sengaja oleh Arnila kemudian Rita tanyakan kepastiannya.
"Oh, aku tahu kok alamatnya kan kamu pernah kasih tahu," kata Arnila yang kemudian membuka ponselnya membuat Ney terdiam dan agak kesal memandangnya.
"Mana?" Tanya Rita penasaran. Masa sih dia berbohong berbicara berlebihan pada semua orang?
"Iya iya nanti deh aku traktir kamu kalau dapat pekerjaan lagi. Sudah deh aku juga sudah tidak bekerja lagi di tempat itu jadi kamu tidak perlu penasaran lagi. Arnila sudah deh," kata Ney yang agak panik.
"Kamu kenapa sih sepertinya panik," kata Arnila kebingungan.
"Aku boleh ya tambah lagi dagingnya," kata Ney yang langsung pergi ke depan tanpa menunggu jawaban dari Rita.
"Pasti dia takut ketahuan tuh," kata Rita pada Arnila.
"Ketahuan apa?" Tanya Arnila yang tidak sadar.
"Dia memangnya bilang kerja dimana?" Tanya Rita masih penasaran.
"Dia bilang dapat pekerjaan bergengsi jadi asisten Marketing di tempat yang mewah. Benar atau tidaknya yah, kamu pasti juga sudah tahu dia bagaimana," kata Arnila yang juga tidak percaya dengan keterangan yang diberikan Ney.
"Kamu tidak penasaran?" Tanya Rita yang meminum tehnya.
"Makanya aku sengaja bilang juga. Ney tidak tahu kalau kamu pernah bertanya soal dia di tempat kerja kamu kan," kata Arnila sedikit berbisik.
Rita mengerti sekarang ternyata kebiasaan Ney yang lain adalah selalu bercerita berlebihan atau tepatnya berbohong. Untuk apa ya?
"Kamu tahu dimana dia beritahu tempatnya?" Tanya Rita.
"Nih ya dia pernah ketik dimana alamatnya aku kan ingat kamu kuliah sekitar situ jadi memang aku menunggu saat tepat untuk menanyakannya," kata Arnila melihat Ney masih sibuk dengan pilihan dagingnya. Untung saja daging yang paling mahal harganya hanya Rp 30.000 saja jadi masih terbilang murah, yah untuk mahasiswa sih.
Rita bergeser melihat alamat itu, ternyata memang benar alamatnya itu adalah tempat dimana Rita dan Ney pernah bekerja. Lalu Rita kembali duduk ke posisi semula dan menatap keheranan pada Arnila.
Arnila menatap Rita yang bengong, dan dia mengangguk. "Kamu sepertinya belum kenal Ney dengan baik. Nanti lagi kalau dia cerita soal apapun jangan percaya dulu deh, kadang isi ceritanya karangan dia sendiri. Kamu baru tahu ya?" Tanya Arnila memandangi Rita.
Rita mengangguk. "Kenapa dia suka bohong?" Tanya Rita.
"Iya. Aku juga awalnya sama seperti kamu tapi setelah tahu semua kebenarannya dari teman yang lain ternyata orangnya sering berbohong. Kaget juga aku, dia bercerita nya seperti yang benar terjadi," kata Arnila kemudian mencampurkan saus kecap tiram.
"Terus kamu pernah membongkarnya?" Tanya Rita yang masih memperhatikan Ney.
"Sering tapi ya begitu. Sudah kebiasaan Rita sepertinya gara-gara masa kecilnya banyak yang merundung dia karena hidupnya melarat. Kamu tidak tahu? Wah, dia kenapa ya tidak terbuka sama kamu?" Tanya Arnila yang juga aneh.
"Mana aku tahu, dia sendiri bilang sama Alex sebagai sahabat aku tapi soal dia sendiri tidak pernah ada ceritanya. Aku sering tapi ya begitu," kata Rita.
Arnila terdiam sesaat wajahnya agak kesal dan marah. Dihadapannya ada Rita yang memang polis dan selalu menganggap siapapun sebagai temannya.
"Lalu kamu tahu tempatnya ini? Alamatnya agak sama dengan kamu kuliah," kata Arnila merasa aneh.
"Kamu tidak tahu? Apa Ney pernah cerita kalau dia bekerjanya ada aku?" Tanya Rita.
Arnila memandangi Rita. "Tidak pernah. Dia bilangnya teman ayahnya mengenalkan dia pada karyawan disana dan diterima tanpa syarat. Yang sebenarnya aku sudah tahu kok, Rita. Harap maklumi saja dia, dia itu bermimpi nya terlalu jauh," kata Arnila menghela nafasnya.
"Kenapa ya dia suka begitu? Gengsi?" Tanya Rita.
"Iya. Kelihatan kok dari memilih teman, ya mungkin ini ya dia tidak pernah anggap kamu temannya karena..." kata Arnila yang tidak enak meneruskan.
"Kehadiran Alex," jawab Arnila.
"Tepat. Karena aku kenal dia lebih dekat, sekarang malah dia berusaha melempar kamu. Nice shoot. Kamu masih bisa tahan sama orang seperti itu? Kalau aku maaf deh," kata Rita yang memakan makanannya lagi dengan sukinya.
"Mana ada yang mau bertahan sama dia. Nanti juga aku jauh dari dia, tenang saja. Dia tidak akan mendapatkan kamu, kembali denganku juga tidak ada kesempatan. Lalu lanjutan tadi apa?" Tanya Arnila menyudahi obrolannya.
"Oh iya, alamat itu kan tempat aku bekerja. Nih buktinya," tunjuk Rita pada Arnila.
"HAH!? Serius," kata Arnila menyamakan alamat yang diberikan Ney.
"Kamu ingat kan waktu aku cerita soal Ney, dimana aku menawarinya pekerjaan? Ya ini tempatnya dan bukan Marketing hanya asisten sekretaris yang harus bisa apa saja," jelas Rita.
"Wah! Dia benar-benar deh," kata Arnila yang memijat dahinya.
"Dia cerita soal ini ke kamu saja?" Tanya Rita.
"Semua orang, Rita. Semua teman kampus, wah bisa jadi jebakan batman juga untuk dia nih," kata Arnila yang masih memandangi alamatnya.
"Eh," kata Rita tidak percaya.
"Dosen, teman kampus, entah ya kalau sama orangtuanya lalu grup Sosialitanya. Dia cerita bekerja sebagai Marketing yang digaji besar," kata Arnila menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Rita menganga mendengarnya dan menggaruk wajahnya yang juga tidak gatal. Harus diapakan anak ini? "Sueee," kata Rita.
Kemudian beberapa menit Ney datang dengan riang gembira, dia mengambil 2 piring daging sapi lalu duduk dan mulai memanggang.
"Kamu seperti kelaparan deh. Apa jarang makan daging?" Tanya Arnila menggelengkan kepala melihat temannya sudah menumpuk 3 piring daging sapi.
"Arnila, kalau mau lagi ambil saja," kata Rita yang masih banyak menunya.
"Iya Arnila, ambil saja jangan gengsi deh. Kaya aku nih, ambil kalau masih lapar," kata Ney yang senang memindahkan daging yang sudah matang.
Arnila juga sebenarnya mau tambah tapi tidak enak takutnya uang yang Rita punya kurang. Tapi tadi Rita memperlihatkan kalau dia sudah menyiapkan uang untuk traktiran hari ini. Apalagi dia sudah bawa tambahan uang yang didapatkan dari porsi Ayahnya.
"Ya sudah aku ambil daging juga ya, Rita," kata Arnila langsung menuju kasir.
"Ambil saja deh semuanya, Rita yang bayar ini kapan lagi coba," kata Ney seenaknya.
"Iya kapan lagi di traktir mewah. Kamu kapan?" Tanya Rita yang juga mengambil ikan.
Ney terdiam pura-pura tidak mendengarkan. Dia sibuk mengunyah daging hasil masakannya. Tampaknya belum begitu matang tapi terlihat Ney tidak sabaran baru juga dimasukkan semenit, sudah dia makan. Tidak seperti Arnila sampai kecokelatan baru dia makan.
"Janganlah aku kan bukan milyarder," kata Rita kesal mendengar apa yang Ney katakan tadi.
"Tenang, aku sadar diri kok Rita. Mana mungkin kita makan semuanya, perut juga ada batas," kata Arnila.
Kemudian beberapa pegawai menaruh es krim, puding cokelat, stroberi dan rasa durian di kulkas depan. Rita memang menyukai puding dan menghampiri. Harganya lumayan murah dan mengambil 3 buah.
"Nih, mau tidak?" Tanya Rita menunjukkan puding.
Ney tentu saja langsung berlari dan mengambilnya tanpa mengucapkan terima kasih. Arnila datang dan mengucapkan terima kasih. Mereka lalu makan bersama dengan nikmat.
"Terima kasih ya traktirannya dan pudingnya semoga kamu diberi banyak rejeki dan kesehatan," kata Arnila dengan senang.
"Aamiin. Terima kasih kembali," kata Rita senang lalu memakan semuanya.
Ney mendengar itu dan menatap mereka berdua, dia sama sekali tidak peduli soal itu yang penting perutnya kenyang! Terlalu gengsi mengucapkan rasa bersyukur kepada sesama, sama dengan dia terlalu gengsi mengucapkan terima kasih pada Allah.
Saat tengah menikmati semuanya, ponsel Ney berdering salah satu teman kampusnya menelepon. Dengan kedua jari-jarinya yang penuh saus, dia usapkan tangannya ke tisu dan pinggiran taplak.
"Halo, Ney kamu dimana?" Tanya salah satu temannya.
Arnila dan Rita sibuk memasak memasukkan bumbu dan saus tidak menghiraukan Ney yang tiba-tiba berdiri.
"Kamu mau datang ke tempat kerja aku? Aduh, aku lagi libur. Pulang saja deh," kata Ney yang panik dan gugup.
Kemudian Ney keluar sebentar dari Raacha, Arnila dan Rita memandangi Ney.
"Teman kampusnya pasti," kata Rita sambil menaruh ikannya.
"Pastilah mereka penasaran ka dia sering sebar cerita-cerita begitu, Rita. Memang benar gajinya setara direktur?" Tanya Arnila.
"Wahahaha kalau memang benar aku pasti memperpanjang kontraknya. Asisten sekretaris ya bukan Marketing kadang juga dia harus mengurus gudang perlengkapan dan makanan. Kita semua sama sih pekerjaannya," kata Rita.
"Dia mau?" Tanya Arnila.
"Menolaklah beranggapan nanti tangannya jadi kotorlah, luka lah, apa lah. Tapi harus mau kalau tidak ya langsung dikeluarkan," kata Rita membalikkan ikannya.
"Iya memang. Kalau ada praktek lapangan juga dia memang tidak mau sekali pegang sesuatu yang kotor, tapi tetap harus pegang karena tidak ada yang mau menggantikan," kata Arnila.
Mereka berdua memperhatikan Ney yang berada di luar tampaknya Ney sedang berusaha menjelaskan. Kadang dia menggigiti bibir bawahnya dan memejamkan mata. Gelagat itu menandakan dia sedang putus asa, terbayang kalau temannya itu memaksa ingin menelusuri tempat kerjanya.
Arnila lalu menerima pesan dari teman kampusnya. "Woi, tempat kerjanya si Ney dimana sih? Kita lagi di Gegerkalong nih," kata mereka. Mereka mengirimkan foto ternyata ada sekitar 6 orang yang sedang berdiri. Arnila lalu memperlihatkannya pada Rita.