
"Parah! Masalahnya adalah setelah kamu komen begitu, lihat deh dibawahnya ada yang komen lagi. Kamu sudah cek?" Tanya Arnila. Dia memang lihat juga tapi tidak meng-add akunnya Alex. Bisa berabe kalau Imron tahu karena dia juga termasuk Cemburuan.
"Masa sih dibalas," kata Ney yang bergegas membuka akunnya. Ya! Benar saja dibalas oleh Alex dan sempat dibicarakan juga oleh kakaknya. Malu banget dia! Benar kata Rita kelihatan sekali kalau dia tidak konsekuensi dengan keputusan. Mau dihapus pun sudah kelihatan oleh semua orang apalagi Rita juga ada yang membalasnya dengan menohok.
"Iya, Arnila. Biarkan saja kan sudah biasa ya kamu kalau jadi pembicaraan oleh banyak orang," kata Rita.
"Terkenal Ney tuh," kata Arnila menambahkan. Mereka berdua lantas tertawa bersamaan karena sama - sama menyelipkan emoji tertawa sedangkan orangnya tidak membalas sama sekali. Ney memikirkan kalimat apa yang bisa dia gunakan agar mereka berhenti.
"Aku kan tidak tahu kalau itu kakaknya," jawab Ney.
"Lho, kamu kan punya kemampuan spirit masa sampai tidak tahu? Kalau Rita sih kan memang tidak tahu," kata Arnila.
"Mau tahu atau tidak juga sudah ketahuan. Mau itu cuma candaan atau memang sengaja, kamu orangnya tidak konsekuensi terhadap sesuatu. Kalau kamu mendukung sesuatu itu kamu lakukan sampai akhir jangan sampai di tengah perjalanan kamu malah ganti haluan. Sama seperti kamu memilih Presiden, aku tahu kamu lebih memilih Bapak A daripada Bapak C. Lalu tiba - tiba kamu memilih Bapak C, alasannya parah. Karena harta kekayaannya lebih banyak lalu banyak fasilitas yang dijanjikan. Padahal dalam akun kamu, kamu menolak keras bahkan sampai mengejeknya dan masuk kelompok keras melawan Bapak C,"
Ney membaca komentar Rita yang Ney tidak menduga, dia benar - benar membaca semua update statusnya. Dan karena itu juga banyak yang mengejeknya dan mengeluarkan dia dari semua komunitas.
"Kamu asli parah banget orangnya! Aku juga kan sampai bilang ke dia, Ri. Itu hapus statusnya! Dia katanya kena peringatan dari akun PB karena mengobarkan rasa kebencian,"
"Oh iya ya aku baru sadar juga itu akun beda. Kamu baca tidak apa yang Alex bilang?" Tanya Rita.
Ney membacanya dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Jangan terlalu menilai seseorang itu selalu salah. Kamu sama sekali tidak bisa menilai orang dengan baik, kalau tidak tahu bilang tidak tahu. Kalau tahu lebih baik simpan untuk diri sendiri kecuali kalau kamu punya niat mau buat masalah. Sama seperti Alex," kata Arnila.
Wah! Arnila ternyata menangkap Alex juga suka membuat masalah. Rita salut banget dengan Arnila, disangkanya dia sama saja dengan Ney yang terlalu buta.
"Sudah deh. Lagi - lagi aku salah," kata Ney.
"Apa ada orang lain yang chat inbox ke kamu? Alex penggemarnya benar - benar banyak banget lho. Hampir seluruh dunia, dia anak jenius yang semenjak remaja saja sudah menghasilkan banyak uang,"
"Oh iya! Benar juga! Kok kamu bisa sih dapat orang setajir Alex?" Tanya Ney yang tidak puas kenapa hanya Rita saja yang harus menerima rejeki segunung.
"Tidak tahu sepertinya tidak ada kalau ada juga sudah aku banned dari kemarin. Ini aku install Messenger tapi tidak ada orang aneh yang labrak," kata Rita dia sama sekali tidak menyangka dipikirnya Alex hanya orang biasa yang sombong karena kaya.
"Aku baca juga sih Alex bilang kan dia meminta chat sama kamu, aku juga kepikiran apa akan ada banyak orang yang lihat akun kamu. Kamu sama sekali tidak ada orang yang lihat - lihat?" Tanya Ney.
"Kalau ada juga ya silakan saja aku kan tidak simpan rahasia apapun asal jangan sampai di hack saja," Rita mencoba mencari tahu siapa saja yang melihat isi akunnya.
"Hmmm begitu. Terus kamu ada cerita soal piknik ke Alex?" Tanya Arnila.
"Iya. Dia ingin sekali ikut mencicipi," kata Rita tertawa lucu ingat bagaimana komentar Alex.
"Suruh saja dia datang ke Indonesia, Ri," kata Ney antusias. Ya elu semangat ingin lihat aslinya memang kalau foto kan kadang bisa menipu. Tidak bisa dipastikan itu adalah dia yang sekarang.
"Sudah, tapi tidak mungkin. Dia sampai menangis,"
"Mana coba kirim ss chatnya ke sini takutnya kamu berlebihan menafsirkannya," pinta Ney yang mulai bersikap sok tahu.
"Iya betul! Aku setuju dengan Arnila. Aku sudah tidak mau lagi menuruti saran atau keinginan kamu soal ss. Maaf ya kalau soal ss obrolan aku dan Alex, itu sudah jadi pribadi!" kata Rita yang sudah mulai membuat batasan dia dengan orang lain.
"Bagus Rita! Memang kamu perlu area pribadi jangan semuanya dikeluarkan terutama kalau ada orang yang hobinya nyinyir," Arnila menambahkan. Ney memang sangat keterlaluan dirinya menilai terlalu tinggi soal apapun. Meski Rita tahu dia pintar menerjemahkan suatu kalimat tapi tetap saja, dia akan menjadikannya sebagai senjata suatu hari nanti bila dia ingin sesuatu. Arnila takutnya, dia akan menggunakannya untuk menjatuhkan Rita suatu hari nanti.
"Yoi!" Jawab Rita.
"Ya bagus deh kalau kamu mulai mengerti. Memang harus ada batasan," kata Ney menjawab seenaknya padahal dia sangat penasaran. Namun Rita sudah mulai sadar, kalau dia selalu sering dijadikan tameng.
"Lalu bagaimana?" Tanya Arnila.
"Apa aku kirimkan saja ya?" Tanya Rita berpikir kalau menitip ke seseorang yang mau ke Malay, mungkin bisa.
"Gila saja! Banyak lho makanannya sampai di sana basi kali," kata Ney keberatan.
"Iya sih lagipula kalau makanan, memangnya bisa?" Tanya Rita. Dia mulai memikirkan solusi lain.
"Memangnya dia minta makanan siapa?" Tanya Ney penasaran.
"Makanan buatan akulah," Lagi - lagi Ney merasa sebal Rita lagi Rita lagi..
"Wow! Dia ingin makan buatan kamu? Cieeee! Alex iri kita berdua bisa langsung memakan buatan kamu," kata Arnila tertawa.
"Iya, Nil. Bisa kok Ney kalau dibekukan dulu," jawab Rita sambil melihat panduan paket makanan yang bisa dikirim ke luar negeri.
"Kenapa sih Alex ingin makan buatan kamu? Kata aku sih makanan kamu tidak seenak itu,"
"Yang kenal sama Alex kan Rita bukan kamu. Wajarlah Alex penasaran dengan rasa makanan yang biasa Rita buat. Cemburu ya? Buat saja makanan untuk Dins dia pasti senang," Arnila menyarankan. Arnila juga tahu kalau Ney sebenarnya masih suka dengan Alex tapi sayang Alex membuka hatinya hanya untuk Rita saja.
"Dins tidak pernah meminta aku untuk membuatkan makanan," kata Ney yang tampaknya dia agak sedikit manyun.
"Ya jangan sampai menunggu dia meminta dong. Buatkan saja dia pasti senang banget!" kata Rita. Kenapa juga dia harus iri sama dirinya lebih baik yang sudah punya pasangan ya tinggal membuatnya bahagia saja. Rita kan belum pasti dengan Alex.
"Kamu kirim ke Malay itu mahal tahu! Lihat deh ongkos kirimnya juga 2 juta!" Kata Ney yang tidak mempedulikan apa kata mereka berdua.
"Oh ya? Hmmm tunggu sebentar," Rita keluar dari grup lalu ada notifikasi dari Arnila dengan melampirkan beberapa chat dari Ney. Pastinya nyinyir. Tapi Rita belum membukanya, dia menuju inbox messengernya untuk mengontak Alex yang ternyata dia juga membawa kabar gembira.
"My uncle from Bandung is coming to Malaysian. Maybe you can entrust your cooking to him? Hehehe ( Pamanku dari Bandung akan datang ke Malaysia. Mungkin kamu bisa memberikan masakanmu padanya? Hehehe ),"
Ya ampun! Dia benar - benar niat untuk memakan makanan buatan Rita. Tapi boleh juga lah baru saja Rita mau bertanya. "Kamu benar - benar serius mau banget mencoba makan buatan aku ya?" Rita menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Of course! I know your cooking skills are always good. Whatever you make, I will eat happily. So? ( Tentu saja! Aku tahu kemampuan memasak mu selalu enak. Apapun yang kamu buat, aku akan memakannya dengan senang hati. Jadi? )" Tanya Alex, dia sangat menantikan sekali buatan Rita dan juga senang sekali. Karena baru kali ini dia memakan makanan dari buatan tangan selain ibunya dan koki rumahnya. Meski agak memaksa.
"Okkay. If sent via Bandung it doesn't have to cost a lot or I can deliver it myself there. Just tell me the address, and say we are friends, ok! I will think of menu that I can make and can be packaged into the plane ( baiklah. Kalau dikirim lewat Bandung tidak harus memakan banyak biaya atau aku bisa mengantarkannya sendiri ke sana. Asal kamu beri tahu aku alamatnya saja. Dan katakan kita berteman. Aku akan pikirkan menu yang bisa aku buat dan bisa untuk dipaket masuk ke dalam pesawat )," kara Rita dia mulai membuka kumpulan resep makanan terutama dia juga membuatnya menjadi kliping. Banyak resep masakan yang dia dapatkan dari kelima temannya.
BERSAMBUNG ...