
Saat mereka melihat ke arah Rita, terlihat wajah yang ceria dan akrab tapi Rita menutup mulutnya menyuruh mereka diam. Mereka mengerti dan berpura - pura memperhatikan Ney. Dengan berjalan tanpa suara, Ney langsung menepuk bahunya dan berteriak, "Hai semuaaa!!!" yang disambut sorak sorai oleh teman - teman Anggara. Ney sangat terkejut mendengar suara Rita disamping telinganya. "Eh, Ney! Kamu sudah duluan datang toh! Sudah lama ya?" Tanya Rita yang langsung disambut hangat oleh teman - teman Anggara.
"Kemana aja Rita? Tidak pernah kemari lagi," kata lelaki yang berambut gondrong dengan tersenyum.
"Iya biasa sibuk dengan bekerja jadi guru TK," jawab Rita membalas ketawa.
"Cieee guru TK. Bu guyu bu guyu," lalu semua orang tertawa tidak dengan Ney yang agak panik.
"Kenapa Ney?" Tanya Rita dengan wajah yang aneh.
"Kok kamu ada disini sih? Bukannya aku bilang tunggu didepan gerbang?" Tanya Ney kesal dan bertingkah bete ke Rita, membuat semua orang disana memandang Ney tidak jelas.
"Aku kan ada urusan disini,"
"Anggara ya? Dia nanti kesini katanya mau kasih kamu buku," kata salah seorang perempuan yang dikuncir dua.
"Pinjam buku lagi, Ri? Butuh bantuan tidak?" Teman Anggara yang berpakaian gothic bertanya.
"Tidak usah, San. Masih bisa aku tangani sendiri kok," jawab Rita dengan santai.
"Kalau butuh bantuan bilang ya. Nih ada anak jurusan psikologi," tunjuk San mengarah pada empat orang temannya yang sedang duduk nongkrong tidak jauh dari kumpulan mereka.
"Siap!" Jawabnya sambil memberi hormat.
"Oh, kalian semua kenal Rita? Kan kalian beda tempat kuliah," kata Ney yang heran kalau Rita tampak sangat akrab dengan semua orang disana.
"Kenal dong. Teman sepermainannya Anggara sih, Rita orangnya easy going tidak neko - neko jadi kita nyaman sama dia. Terus suka dibawa - bawa sama Anggara kalau study tour disini,"
"Saya bukan kucing," kata Rita yang sontak semuanya tertawa terbahak.
"Kita janjian di perpustakaan kan, tapi kamu sudah duluan ke sini. Ada urusan juga?" Tanya Ney sekedar bertanya tentunya tidak ada urusan.
"Oh iya... aku baru sadar ada urusan penting juga. Terus Anggara ada?" Tanya Ney ke arah teman - teman Anggara yang melihatnya jutek. Rita hanya nyengir melihat kepanikan Ney yang ketara.
"Kenapa kamu yang bertanya soal Anggara? Orang Rita yang ada perlu, Anggara cerita ke kita - kita," kata salah seorang perempuan dengan celana panjang ketat.
"Wah ngaku - ngaku nih orang hanya karena dia kuliah disini. Memangnya kamu kenal Anggara?" Ney terdiam kesal karena semua temannya Rita tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Kasihan amat!
"Ya aku juga ada perlu sama Anggara memangnya cuma Rita aja," kata Ney dengan cueknya.
"Lho kamu tidak tahu kalau sama orang lain tidak akan mau bertemu, tapi kalau sama Rita pasti bisa. Kamu ada urusan apa ya? Kali kita bisa bantu," tawar perempuan lain. Ney tidak menjawab dia hanya melihat kuku jarinya sambil menunggu. Mereka tahu kalau Ney berpura - pura sibuk mencari Anggara. Tidak lama kemudian Anggara muncul dan menyapa Rita dan memeluknya.
"Rita!" Seru Anggara dengan gembira membuat Ney yang melihat Rita yang dipeluknya, sangat cemburu.
"Wiiihhh seperti biasanya dipeluk! Aku mau dongsss," goda teman lelakinya yang langsung disikut olehnya.
"Oh, ini Ney dia teman SMP. Dia ikut menemani aku ke sini," Rita memperkenalkan Ney pada Anggara yang disambut dengan anggukkan kepala.
"Tapi dia malah datang duluan bro kan aneh kenapa tidak menunggu Rita diluar coba," jawab teman perempuannya yang tomboy.
"Biasanya itu cuma alasan saja sih aslinya pengen ketemu ama lu! Cuma lu kan susah kalau bertemu yang tidak dikenal. Katanya dia bilang teman kamu juga," jawab teman lainnya yang membuat Ney salah tingkah.
"Teman dekat gue cuma Rita. Mungkin maksudnya Anggara di fakultas mesin, kan ada yang namanya sama dengan gue," kata Anggara membuat Ney sedikit tidak mempermalukan diri. Teman - temannya tertawa dibelakangnya. "Oh, jafi kamu yang namanya Ney yang terkenal dari fakultas sebelah ya," kata Anggara yang tangannya masih belum berpindah dari bahu Rita.
"Eh iya. Kenalin ya namaku Ney," katanya yang langsung mengulurkan tangan kanannya ke depan Anggara. Namun ditolaknya karena tangannya kotor, dia memperlihatkan kedua tangannya yang penuh titik - titik cat putih.
"Hai. Sori tanganku kotor tadi habis kena cat tembok kebetulan ada tukang yang lagi cat kelas baru," Ney lalu menarik tangannya kembali yang mungkin menekan rasa malunya.
"Oh, tidak apa - apa," katanya agak berasa canggung. Tapi Anggara masih saja melihat dirinya yang membuatnya agak salah tingkah. Pasti kepedean dikiranya Anggara ingin berkenalan.
"Wooh kan baru kenalan. Kenapa kamu mengaku sebagai temannya Anggara padahal baru kenal. Munaf kamu!" Teriak perempuan yang berkuncir.
"Oh iya kata Rita, kamu mau kenalan sama aku?" Tanyanya yang nadanya lembut belum pernah Rita melihat kelakuannya seperti itu selama ini. Ya mana pernah? Setiap 3 hari dia selalu berganti pasangan entah dengan cara apa dia menarik hati lelaki.
"Iya. Aku tidak tahu kalau ada orang yang bernama Ney. Hanya ingin tahu bukan berkenalan banget soalnya kita kan fakultasnya berbeda," kata Anggara.
"Kita jadi ke perpustakaan? Sudah siang!" Ajak Rita membuat Anggara dan teman - teman lainnya kemudian mengambil tas mereka.
"Boleh, yuk! Yang lain mau membantu," Anggara memberi kode pada mereka semua yang langsung beranjak menuju perpustakaan.
"Eh, daripada ke perpus kita mengobrol disini saja, terus kenapa harus berkelompok sih?" Kata Ney yang langsung disoraki semua orang.
"Lho? Yang ada urusan sama Anggara kan Rita. Kamu kenapa sih dari tadi sepertinya ingin mengatur - atur Rita? Sadar dong kamu bisa kenal Anggara itu dari Rita bukan diri kamu sendiri. Parah nih anak, kok bisa sih jadi teman lu?" Kata perempuan bernama Rinto. Tapi Ney tidak menggubris perkataannya dan malah memperhatikan orang lain di sebelah kirinya.
"Sudah, kamu tidak akan digubrisnya. Orangnya saja tidak tahu sopan santun, awal dia datang saja seperti sok kenal sama kita. Padahal siapa dia kan," kata perempuan lain memeluk temannya itu yang bete.
"Sori Ney kalau kamu tidak mau ikut, tunggu saja disini karena aku mau membantu Rita mencarikan buku yang dia cari. Yuk, Guys!" Ajak Anggara yang langsung menyeret Rita dan teman - temannya. Ney kesal karena dirinya merasa ditinggalkan dan akhirnya ikut menuju perpustakaan dengan wajah yang cemberut.
Sesampainya di perpustakaan Anggara membantu Rita mencari buku sedangkan Ney terus mencari celah agar bisa mengobrol dengan Anggara. Tentu saja teman - teman Anggara merasa terganggu dengan kehadiran Ney dan sering memblokir jalan Ney yang berjalan ke arah Anggara. Beberapa blok akhirnya Ney berhasil lepas dari temannya dan mengajak mengobrol dengan Anggara.
"Eh, kamu mau tanya apa soal aku?" Tanya Ney memperhatikan Anggara, yang dimana dia masih tampak fokus dengan buku yang dicarinya. Anggara bukanlah lelaki pecundang yang mudah ditaklukkan perempuan apalagi yang tipenya seperti Ney. Dia sangat berkelas meskipun begitu sangat lembut kepribadiannya, dia enggan menyakiti perempuan kecuali temannya tersakiti. Ney kemudian berusaha memegang tangan Anggara yang terlihat berotot, Anggara tahu itu lalu dihempaskan nya dengan sopan olehnya.
"Sori. Tidak apa - apa hanya ingin tahu saja Ney itu seperti apa orangnya, aku ingin memastikan apa teman yang dekat dengan Rita pantas menjadi temannya atau tidak," kata Anggara sambil tersenyum tanpa hati. Tanpa mereka tahu, Ruta dan beberapa temannya Anggara mencuri dengar di sebelah rak tanpa suara.
"Yakin hanya itu saja? Mungkin kamu ingin tahu lebih banyak soal aku. Kita bisa pergi dari sini dan banyak mengobrol. Aku punya banyak waktu luang kok," ajak Ney yang membuat Rita dan temannya mual.
"Tidak usah. Aku hari ini memang mau membantu tugas Rita dan membantunya mencari buku. Daripada kamu berusaha menggoda, kenapa tidak membantu Rita mengerjakan tugasnya? Kamu kan temannya,"
BERSAMBUNG ....