ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
409


Pagi menjelang, suara ayam dan suara kaki kelincinya membangunkan mengingatkannya bahwa mereka lapar. Setelah cuci muka lalu Rita bergegas ke belakang. Adiknya sudah ada memberikan kangkung lalu Rita mengambil snack cemilan untuk kelinci.


Dia terkesan malas sekali masih ingin berleha-leha di rumah tapi dia teringat ada panggilan pekerjaan di sekolah Taman Kanak-kanak dan kemudian mandi dan makan.


"Hari ini aku ada wawancara kerja, doakan ya." Kata Rita menchat Alex.


"Goodluck ya. Nanti kita chat setelah kamu selesai saja aku juga punya banyak kerjaan." Balas Alex menyudahi percakapan pagi itu.


Rita pergi pukul 9 pagi karena wawancaranya pada pukul 10 tepat. Untunglah dia sampai tepat waktu dan sudah ada empat pelamar yang menunggu untuk dipanggil, giliran Rita tiba juga karena dia pelamar ketiga. Dia di wawancara lalau langsung praktek mengajar toh dirinya sudah punya pengalaman jadi memiliki nilai tambahan.


Sayangnya saat diumumkan Rita dan keempat pelamar lulus tapi tidak akan dijadikan guru kelas, hanya sebatas guru bantuan. Karena sekolah tersebut membutuhkan banyak administrasi, jadilah Rita dan keempatnya menjadi admin sekolah itu.


Tidak apa-apalah yang penting bisa bekerja justru lebih enak kalau tidak jadi guru. Keahlian Rita dalam bidang komputer patut diacungi jempol, dirinya mengerjakan tugas dengan cepat. Alex juga di tempat lain sangat sibuk dengan pekerjaan yang segunung dengan hati yang senang juga.


Mereka seperti sepasang kekasih yang sama-sama sibuk dengan pekerjaannya. Saat istirahat tiba dengan mereka makan bersama, ponselnya berbunyi. Rita merasa aneh nomor siapakah yang tertera itu?


"Assalamualaikum, Rita lagi sibuk?" Tanya orang itu menjaprinya.


Dirasa tidak dikenal, Rita merasa aneh. "Ini siapa ya?" Tanya Rita sambil lanjut makan.


"Sori aku tiba-tiba chat kamu, ternyata nomorku kamu blokir juga ya," kata orang itu.


"Ya ini siapa. Aku banyak blokir orang karena mereka meneror," kata Rita.


"Ini aku, Arnila," jawabnya. Oh ternyata Arnila cuma kok tumben pakai nomor tak dikenal?


"Oh, Arnila. Pa kabar? Tumben pakai nomor lain kan kamu jarang beli nomor," kata Rita yang masih curiga.


Lama tak dijawab, kalau memang Arnila tidak biasanya ada jeda. Biasanya yang suka begini kan...


"Oh aku baik alhamdulillah. Iya kan nomor aku, kamu blokir makanya aku sulit hubungi kamu," jelas "Arnila" itu atau bisa dibilang itu Ney.


"Lho, kan kamu juga blokir nomor aku karena mengganggu kan. Lalu ada apa? Seperti bukan kamu deh yang tiba-tiba kontak aku, seperti Ney ini mah. Mau aku buka lagi nomor kamu?" Tanya Rita yang teringat apa kata Alex harus diselidiki.


Lamaaa tidak ada jawaban lagi. Saat itu memang Arnila sedang bolak balik dan Ney berkunjung ke rumahnya. Kebetulan juga Ney beralasan meminjam ponselnya untuk menyapa temannya yang lain.


"Iya boleh, Rita. Kita bicara ya nanti aku mau telepon kamu," kata Ney berpura-pura menjadi Arnila. Tentunya dia kepo bagaimana dengan keadaan Rita dan Alex apakah masih menyambung atau sudah berpisah.


"Jangan deh chat saja ya aku masih di kantor hari ini aku kerja. Tidak enak kalau menerima telepon," kata Rita yang tidak mau diganggu saat sedang makan.


Ney yang mencuri kesempatan, agar lega juga kalau Rita menolak. Lagian kenapa juga ya sampai Arnila asli tidak tahu? Ya pastinya kena marah sih soalnya Ney masih saja mengganggu Rita.


"Oh iya ya. Ya sudah deh kita nanti chat saja jangan lupa buka juga punya Ney ya," kata Ney membuat Rita semakin heran.


Ponselnya pun akhirnya mati dan Rita tidak melakukannya dahulu. Dia makan sampai kenyang lalu kembali ke kantornya, bersama dengan keempat yang lain. Meski mereka berempat sama sekali tidak menganggap Rita ada, ya terserah deh!


Yang dia buka hanya nomor Arnila untuk apa juga punya Ney harus dia buka? Rehatnya lumayan panjang tapi karena Rita sudah kenyang, lebih baik langsung mengerjakan pekerjaan karena sangat banyak.


Sebulan sekali mereka berlima akan ditukar pekerjaannya, jadi tidak akan bosan. Makanan yang mereka makan juga banyak sampai ada cemilan ciki juga minuman berupa yoghurt dan jus buah. Sekolahnya memang elit asalkan pekerjaan mereka benar, gaji dan lainnya akan semakin mantap.


Saat Ney tahu kalau Rita sudah mendapatkan pekerjaan lagi, dalam hatinya membara panas. Dia sendiri saja masih menganggur sulit sekali ada perusahaan yang mau menerimanya. Semuanya tidak lulus saat dirinya melakukan praktek pekerjaan, di uji mengerjakan pekerjaan kebanyakan Ney mengeluh.


Pada akhirnya dia pulang ke Jakarta mencari pekerjaan. Bukannya mencari malah datang lagi ke rumah Arnila tahu kalau dia sedang ada. Memintanya dimasukkan ke dalam perusahaan suaminya yaitu Imron. Sayangnya Imron menolak karena dari cerita Arnila, Ney hanya baik bekerja dalam 3 bulan kesananya seenaknya. Masuk kerja pun seenak datangnya, disuruh datang jam 7 baru pukul 10 datang bukannya bekerja mengerjakan yang telat malah mengeluh.


Dia kesal dan marah keheranan kenapa Rita begitu mudahnya dapat pekerjaan sedangkan dirinya sangat sulit. Berkali-kali Arnila juga memberikan saran tapi yah, tidak didengarkan. Sambil mengobrol sesekali Ney memandangi ponsel Arnila saat dirinya tidak memperhatikan ponselnya.


"Kira-kira apa kabarnya Rita ya? Lama tidak ada kabar. Kamu penasaran tidak?" Tanya Ney pada Arnila.


"Buat apa? Dianya juga tidak pernah memikirkan kita. Sudah deh kamu jangan coba-coba hubungi dia lagi, aku sudah lelah. Kalian berdua terus berantem," kata Arnila menatap Ney.


"Ya itu kan salah dia," kata Ney.


"Iya aku tahu dia itu sensitif tapi kamu kan sudah kenal dia lama Ney. Harusnya kalau kamu tahu dia sensitif bisa kan kamu jaga omongan?" Tanya Arnila keanehan.


"Ya... aku kan tidak salah," kata Ney sambil memakan es krim yang Arnila beri.


"Kamu tadi menghubungi siapa? Masa harus sama ponsel aku sih?" Tanya Arnila curiga.


"Teman lama aku kemarin dia nanya nomor, tapi aku malah kirim nomor kamu jadi pasti dia hubungi kamu. Ya benar saja," kata Ney menjelaskan.


Arnila menatap Ney dengan tajam, terlihat tatapan Ney yang agak menghindari. Tahu juga sepertinya dia berusaha menghubungi Rita lagi tapi Arnila akan diam. Kira-kira apa yang akan Ney lakukan kali ini, kenapa sih penasaran sekali kelihatannya dengan kehidupan Rita?


"Oh, kamu sudah masih tahu dia nomor kamu? Jangan ke nomor aku lagi, kalau Imron tahu pasti langsung di blokir," kata Arnila memakan es krimnya.


Ney kaget. "Oh iya tadi aku sudah bilang ke dia nomorku yang asli sekarang lagi nunggu," kata Ney agak sedikit panik.


Lalu Rita duduk di bantalnya. Kantor mereka tidak memakai kursi, jadi intinya mereka duduk di atas karpet dengan dibatasi lemari kayu seperti di dalam warung internet. Hanya jarak dengan meja lainnya lumayan jauh karena banyak tumpukan data yang berada di samping mereka.


"Ada apa chat aku lagi?" Tanya Rita membalas chat Ney.


Saat itu pas sekali Arnila dipanggil ibunya untuk membawakan kue sebagai cemilan mereka. Dan Ney melihat ponselnya menyala dengan buru-buru dia membukanya. Rita membalas! Kemudian dia matikan ponsel Arnila dan memindahkan kartu itu ke ponselnya.


"Aku baik kan sudah aku bilang tadi. Kamu sendiri apa kabarnya? Oh iya masih suka kontak dengan Alex?" Tanya Ney dengan senang kalau Rita masih menganggapnya Arnila.


Rita agak curiga kalau Arnila asli mana mungkin dia menanyakan soal Alex. Oh... benar apa kata Alex, ini mah si Ney. "Oke, mari kita ikuti saja alur permainan kamu Ney, sekalian aku juga akan sedikit mempermainkanmu," pikir Rita.


"Tidak biasanya, Nil kamu bertanya soal Alex biasanya kan kamu tidak suka ya tanya soal orang lain," kata Rita.


"Ya aku kan hanya nanya saja," jawab Ney memperbaiki semua.


"Nanya kabar aku atau Alex? Kok kamu seperti Ney ya? Dia kan super kepo orangnya, aku tidak tahu apa-apa eh dia sudah tahu segunung soal Alex," kata Rita sengaja.


"Jadi bagaimana? Kamu masih kontak sama Alex atau tidak sih?" Tanya Ney menggubris omongan Rita.


Rita sengaja tidak membalas lama dia sedang mengerjakan ketikan pengumuman untuk sekolahnya minggu depan. 1 jam kadang ada guru pengawas, mengawasi pekerjaan mereka. Ponsel tidak apa-apa diaktifkan asalkan pekerjaan bari ini tidak sampai terbengkalai.


Arnila memeriksa ponselnya dan membuka sebuah chat ternyata benar saja itu adalah nomor Rita. Meskipun sudah dihapus oleh Ney, Arnila masih bisa membukanya dan membaca semuanya. Melihat Ney yang tampaknya kesal menepuk-nepuk dahinya. Toh nanti pasti Rita mengeluh ke dirinya lalu tidak bertanya soal itu.


Ney terus memeriksa masih belum ada balasan, dia mengigiti jari jempolnya yang berarti dia curiga kalau Rita tahu itu adalah nomornya. Selesai sebagian, Rita membalas chatnya berpikir dia akan mempermainkan Ney.


"Baik juga. Sudah tidak, Nil. Lelah sekali aku dengan dia jadi sekarang ya sendiri-sendiri deh," jawab Rita ingin tahu bagaimana responnya.


Ney membaca dan terdiam saat tahu Rita tidak kontak dengan Alex. Dalam hatinya dia bersyukur jadi Rita tidak mungkin bisa menyatu dengan Alex dan dirinya masih berada di atas Rita.


"Ya syukur deh soalnya Alex tidak cocok sama kamu, Rita," balas Ney dengan wajah yang tenang.


"Kok kalimatnya berasa kamu iri ya? Arnila, kamu kan sudah menikah. Mau aku dengan lelaki milyuner pun untuk apa kamu iri?" Tanya Rita sengaja menyepet Ney.


"Tidak kok. Aku tidak iri hanya beri tahu kamu saja, Rita. Kok seperti kamu menyindir aku ya," kata Ney yang masih menggigiti jarinya. Arnila memperhatikannya pasti Rita men-skak mat dia lagi, Arnila hanya tersenyum melihatnya.


"Bukan menyindir soalnya kamu seperti si Ney sih. Kamu bukan orang yang iri-an, Nil. Kamu lebih mendoakan orang itu bahagia bukan iri apalagi sampai kamu bersyukur aku jauh sama Alex. Kalimat seperti itu mah lebih seperti omongan si Ney deeeh," kata Rita semakin gemas.


Ney menahan rasa kesalnya apalagi kadang dia mendapati Arnila memandanginya lalu dengan cepat memakan kue yang ada di depannya.


"Seru sepertinya kamu chat sama "Teman" lama," kata Arnila sambil membuat tanda kutip dengan jari-jarinya.


Ney diam tidak menggubrisnya ada kemungkinan Arnila sudah tahu dengan siapa dia chat. "Oh ya? Memangnya kamu tidak suka sama si Ney? Maksud dia baik kok mau bantu kamu segala apalagi nyari info soal Alex. Kamu kan baperan Rita makanya Alex pasti tidak suka," kata Ney.


"Ney? Bantu apanya itu sih untuk keuntungan dia saja mana ngatur harus bagaimana aku chat Alex. Kamu lihat kan kelakuan dia saat aku tidak mau menuruti apa yang dia mau, meledak terus serang buat jebakan. Dih! Sudah begitu mikirnya suudzon pantas tidak ada yang mau jadi teman dia. Aku hanya lelah sama Ney, sudah tidak mau lagi berurusan sama dia," kata Rita sengaja membeberkan segalanya.


Ney melongo membacanya, sebagian dia mengaku memang untuk kepentingannya. Ney kaget bagaimana bisa Rita bisa tahu tujuannya?


"Si Alex bukan karena aku baper dia tidak suka chat aku lagi," kata Rita.


"Terus karena apa?" Tanya Ney ingin tahu.


"Karena dia tahu Ney selalu ikut campur. Dia juga tahu kalau Ney sebenarnya yang suruh aku kirim lagu-lagu dan video," kata Rita.


Whaaaatttt??? Bagaimana Alex bisa tahu? "Pasti kamu kan yang kasih tahu ya bagaimana mungkin dia bisa tahu kalau Ney yang suruh," kata Ney kaget.


"Karena meski dia baru kenal aku selama setahun, dia bukan kamu yang menutup mata menebak aku seperti apa orangnya. Dia tahu sekali kalau aku bukan tipe perempuan romantis berbeda dengannya. Arnila juga tahu aku bukan perempuan tipe itu," kata Rita akhirnya membeberkan kalau sebenarnya penyamaran dia sudah diketahui.


Ney tidak bisa membalas apapun, dia seakan membeku. Ternyata Alex sudah lebih mengenal Rita dengan baik, dan begonya dia malah menyuruh lagu dan puisi yang sebenarnya isi hatinya Ney. Dan semuanya sudah terbuka!


Rita mengirimkan percakapan yang terjadi dalam tengah malam kemarin sebelum Rita benar-benar tertidur. Tentu saja dia pilih-pilih isi percakapannya supaya Ney tidak banyak bertanya.


"Rita,bisa kamu jujur? Waktu itu kamu pernah mengirimi aku lagu-lagu romantis dan puisi dalam video. Aku pikir kamu perempuan romantis tapi setelah banyak bicara, itu semua ternyata... entahlah apa kamu romantis?" Tanya Alex saat itu. Ini yang Rita kirim pada Ney.


"Itu bukan aku. Aku ini sama sekali bukan tipe romantis. Ney yang memaksa aku suruh mengirimkan lagu dan video itu tapi sebenarnya..." kata Rita dengan jujur. Dikirim pada Ney juga.


"Sebenarnya memang kamu tidak suka dan tidak nyaman kalau harus kirim begituan ya. Ney itu terlalu ikut campur dan sok tahu, jangan terlalu dekat dengannya. Bisa-bisa kamu akan dimanfaatkan dia," kata Alex yang akhirnya terjawab sudah semuanya.Ini juga.


"Iya makanya aku menjauh dari dia tapi kamu terus mengomel. Dari awal kenal pun, dia yang heboh sendiri. Waktu kamu kirim lagu pun dia yang terus memaksa aku harus balas," kata Rita.


"Aneh sekali dia itu tampaknya sangat iri sama kamu. Hati-hati jangan terlalu menurut memang orangnya baik mau membantu kamu tapi ada tujuan lain. Aku tahu kamu bisa menebaknya kan," kata Alex. Ini dikirim..


"Iya tenang saja sekarang aku sudah tahu batasannya bagaimana. Kamu kecewa kalau itu semua bukan dari aku?" Tanya Rita.


"Iyalah tapi aku senang karena kamu tidak palsu. Sempat senang sekali saat kamu kirim lagu dan video tapi lama kelamaan, saya tahu kamu yang asli bagaimana. Kamu bukan tipe yang Ney tampakkan, kamu tahu kalau dia bermaksud mengubah kepribadian kamu?" Tanya Alex. Ini dikirim.


"Aku tidak peduli. Yang penting, aku bukan tipe romantis. Sudah!" Kata Rita tidak peduli dengan niat Ney. Ini juga dikirim.


"Hahahaha oke oke. Night. Mimpikan aku ya." Kata Alex di episode sebelumnya.


Ney yang membacanya terdiam, hancur sudah apa yang dia usahakan saat itu dan benar apa yang Rita katakan kalau Alex lebih menyukai dirinya yang asli. Pantas saja Rita menolak dirinya membantu lagi, Alex mendapati dirinya yang berusaha mengubah pribadi baik Rita apalagi dia juga membaca bahwa Alex ingin Rita menjauh darinya.


"Kenapa sih kamu? Dari tadi seperti naik turun?" Tanya Arnila.


"Eh, menurut kamu bagaimana kalau Rita jadi sama Alex?" Tanya Ney.


"Ya baguslah. Alhamdulillah karena kan hanya Rita saja yang bisa menangani bobroknya Alex. Aku sih bahagia untuk mereka," kata Arnila memakan kue bolu.


"Kok bahagia sih? Kalau jadi dia bisa sangat sombong lho," kata Ney memperhatikan Arnila.


"Rita? Sombong? Jauh dia mah, lihat saja sehari-hari yang ada juga mau dia punya uang sebanyak apapun. Perilakunya buat banyak orang ketawa kan. Menurut aku sih Rita tidak akan sombong deh mau dia jadi sekaya apapun. Sifatnya sederhana," kata Arnila.


Ney diam lagi apa benar yang dikatakan Arnila? Kalau benar lalu selama ini yang dia usahakan memang sia-sia dong? Apalagi saat dirinya merundung Rita, Ney menepuk dahinya. Kalau memang benar Rita tidak akan sombong, semua yang dia lakukan akan membuatnya semakin jauh.


"Hmmm menurut kamu kalau Rita benar sesuai kata kamu, dia masih mau tidak ya temenan sama aku?" Tanya Ney pelan.


"Kata aku sih tidak akan. Kamu tahu kan seberapa sakitnya orang yang dikhianati teman dekatnya sendiri? Orang yang dia sudah lamaaaa kenal eh karena dia ketemu lelaki tajir, malah dirundung. Sakit Ney, menurutku dia tidak akan pernah mau jadi teman kamu lagi," kata Arnila membuat Ney berkaca-kaca.


Bersambung ...