
"Hahahaha aku heran sama dia kenapa kalau ada lelaki ganteng, baru dia bagus penampilannya tapi kalau bertemu dengan kita saja, ya seperti dia ternyata tidak pernah mandi memangnya itu badannya tidak merasa bagaimana begitu? Padahal dia perempuan tapi kalau soal kebersihan dirinya sendiri masa iya tidak ada? Mana kita kan selalu bertemu banyak orang ya," kata Rita yang tidak bisa membayangkan mengenai kebiasaannya yang paling jelek itu.
"Iya benar itu Rita. Dan itu tidak hanya sekali dua kali, nih orangnya yang pernah mencium langsung bau badannya. Beda bau ya sama orang yang punya kekurangan bau ketiak dengan yang tidak pernah mandi. Segini saja kita komen bagaimana kalau dia masih dengan Alex. Uh, memalukan bangetlah itu mungkin oleh sebab itu kemungkinan besar Alex tidak berminat sama dia. Dari segi topik obrolan juga dengan kamu ya berbeda pasti," Arnila menjelaskan. Imron hanya mendengarkan dirinya yang setuju dengan perkataan Arnila hanya mendengarkan obrolan mereka saja.
"Wah, kamu bisa tahu sebanyak itu ya. Kenapa kalian tidak jadi teman dekat saja? Kalau sama Rita sih, aku lebih oke,"
Rita dan Arnila saling berpandangan, mereka tidak enak juga tapi untungnya Ney belum datang. Imron orangnya agak aktif banget apalagi ya namanya lelaki kurang bisa menjaga kalimat.
"Aku sih mau - masih saja lagian Arnila juga kalau cerita apapun enak ya, pemasukan solusinya juga sering pas," kata Rita. Meskipun begitu masih ada tapinya karena terganjal oleh satu orang.
"Iya sih. Kamu juga enak orangnya tidak seperti yang satu itu," kata Arnila dengan datar. Yah, mereka sama - sama teman yang bisa dijadikan teman lebih dekat tapi mereka pun tahu masih ada orang yang mengganjal antara mereka berdua.
"Masalahnya juga kanu tahu kan," kata Arnila memandangi Imron. Imron mengangguk membenarkan kalau saja Ney tidak ada atau mereka berdua berkenalan sebelum Ney, mungkin sampai sekarang pun hanya mereka saja.
"Benar juga sih masalahnya ada sama pembatas itu. Rita kenal Ney dari SMP, sedangkan kamu kenal Ney dari SMA sampai sekarang. Memang jadinya serba tidak enak ya. Aku mengerti,"
Yah memang sulit kecuali ...
"Kecuali kalau kita berpisah nanti saling berpencar sejauh mungkin dan saat kembali itu sudah masing - masing sendiri," kata Rita yang menaruh tas besarnya di lantai depan pintu masuk BIP.
"Selain kita, Ney punya grup lain kok. Grup sosialita begitu, grup yang isinya cuma pamer kekayaan saja," Arnila memperlihatkan foto yang Ney bagi kepadanya entah maksud apa dia melakukan itu.
"Oh, ya bagus dong jadi dia tidak terlalu mengganggu kamu kan," kata Rita yang memperhatikan tampilan foto itu.
"Iya. Tapi setiap grupnya menampilkan kemewahan dia selalu kirim fotonya ke aku. Aku sudah bilang memangnya kenapa? Mau apa dia sampai kirim - kirim foto tidak jelas," Arnila bilang dengan nada yang jutek.
"Marah jangan ke aku dong. Kali dia maksudnya mau pamer ke kamu soal grupnya. Terus dia bilang apa?" Tanya Rita.
"Ya persis yang kamu bilang, Ri. Katanya aku cuma mau kasih tahu kami saja kalau grup sebelah lebih seru daripada grup ini. Lah aku bilang, ya sudah kita buat saja lagian Rita juga sudah malas chat di grup,"
"Hoo terus?" Rita penasaran dengan ceritanya.
"Tapi aku kepo sama Rita dan Alex bagaimana ya kisah mereka? Kalau jadi kan aku bisa dapat pamor juga karena sudah kenal mereka berdua apalagi aku kan sama Rita kenalannya sudah lama. Begitu kata dia,"
"Hahahaha kenal yang lama kan sama kamu, Nil. Kelakuannya parah!" Rita tertawa begitu juga Arnila dan Imron pastinya.
"Ney benar - benar terlalu kepedean ya orangnya waktu kita kuliah aku dengar dia dengan pedenya bilang kalau bisa jadian dengan aku. Sebelum itu terjadi kan aku nembak kamu," kata Imron yang tertawa menggoda.
"Eleuh eleuh.. hahahaha pasti Ney marah," tebak Rita.
"Iya tapi dia tidak tahu kalau Imron nembak aku, Ri. Kita pacaran saja diam - diam pokoknya ketemu sama dia pasti aku selalu ruqyah dulu biar tidak ada 'mata - mata'," Arnila mencolek Imron.
"Kamu serius soal mata - mata tak kasat mata itu? Aku kira cuma bercanda," kata Rita.
"Yeee ternyata.. tidak menyangka kan? Makanya aku tidak mau kita terlalu dekat, Ri takut dia kirim mantra ke kamu buat mencelakai kamu. Kamu kan orangnya lurus semua orang dibilang baik memang bagus sih jadinya yang mau mencelakai kamu, bisa memanfaatkan," Arnila mengingatkan sambil menunjuk ke belakang lehernya.
"Oh... iya makasih. Tenang saja kita jaga jarak saja deh. Imron tahu?" Tanya Rita memastikan.
"Kenapa?" Tanya Rita kebingungan. "Aku juga jarang buka buku belajarnya malah di net,"
"Ya itu mah normal tapi kalau ini, dia benar - benar tidak belajar. Ada temannya Imron bilang, dia kirim sesuatu untuk memberitahukan jawaban ujian karenaaaa jawaban yang dia kasih, itu sama dengan beberapa temannya,"
"Banget?" Rita kaget dengan penjelasan Arnila. Masa sih sama banget? Menyontek saja kan pakai bahasa sendiri.
"Iya! Semua kalimat dan posisinya sama persis makanya kalau di kampus memang dia tidak terlalu banyak yang mau mendekati. Sama aku juga pernah satu tempat terus seperti itu banget. Kalau menurut aku sih, dia membaca pikiran. Tapi hasilnya sih dia tetap kena hukuman karena duplikat tugas juga, Ri,"
"Aje gileee! Duplikat? Buat apa dia kuliah kalau mengerjakan apapun tidak dengan kemampuan sendiri? Semacam plagiat kan ya?" Tanya Rita.
"Tepat! Dia sering banget begitu. Tugas Akhir, ujian semester, sampai skripsi juga begitu makanya heran dia bisa lulus. Pokoknya tidak normal deh, lelaki yang mendekati dia ya yang main - main saja. Kamu percaya dia masih perawan? Menurutku sih dia sudah jebol!" Kata Imron yang langsung menjurus. Rita dan Arnila bengong mendengar kalimatnya.
"Aduh! Maaf ya Rita, maklum lelaki mah memang begitu," Arnila mencubit Imron sampai kesakitan.
"Sepertinya Alex juga seperti itu ya," Rita membayangkannya.
"Kamu semenjak berteman dengan Ney, memperhatikan gerakan jalannya dia tidak?" Tanya Rita. Langsung Imron menjentikkan tangannya dan tersenyum.
"Itu ciri perempuan yang sudah tidak perawan. Serius! Perempuan kalau masih terkunci seperti kalian kalau jalan lembut bukan lamban karena ada yang sakit, tapi masih ada gerakkan. Nah Ney dia seperti jinjit kan, menurut gue sih tiap tengah malam pasti dia kelayapan,"
"Belum tentu juga bisa jadi karena kelainan tulang. Hayo!" Kata Rita. Imron dan Arnila manggut - manggut. "Perbedaan perempuan yang masih perawan dengan yang tidak memangnya bisa jelas dikenali?" Tanya Rita yang penasaran.
"Bisa kok, Ri jangan tanya soal ini ke Imron deh, kalau lelaki biasanya lebih sadar. Bagaimana, pak? Mau menjelaskan?" Tanya Arnila yang berubah menjadi reporter.
"Bedanya dari punggung nih kalau kalian kelihatan punggungnya normal ya tidak melebar terus kalau dipegang ups kalau bagian Rita sih aku yakin masih suci ya sama dengan kamu. Kalau Ney, itu beda banget! Aku bertaruh ya dia tengah malam kelayapan ke disko mencari lelaki yang enak,"
"Kamu yakin banget sih?" Tanya Rita yang keheranan.
"Dia pernah lihat si Ney goyang dong maksudnya disko sama beberapa lelaki dan yah, sensual gitu deh narinya. Benar kan?" Tanya Arnila yang dijawab anggukan oleh Imron. Rita menganga lebar dia sama sekali tidak tahu soal itu.
"Rita sih mana tahu dia sama dengan aku kalau malam, ya tidur," Arnila cekikikan.
"Terus? Dia... melakukan itu?" Tanya Rita yang agak susah mengeluarkannya.
"Iyalah. Temanku sengaja dong mengikuti mereka dan mereka masuk ke mobil yah setelahnya tahu dong seperti apa. Itu mobilnya goyang,"
"EWWWW!!" Teriak Rita sambil menutup kedua telinganya.
"Duh, kamu orangnya terlalu menganggap semua orang itu baik. Kalau Ney jangan deh, dia parah asli di kampus semuanya sudah tahu,"
Rita hanya diam tak berkomentar mendengarnya. Sangat diluar dugaan tapi memang Ney sepertinya banyak bermain ya.
"Rita, dia memang sudah tidak perawan ya kamu harus tahu lingkungan di Jakarta itu lebih parah dari lingkungan Malay. Kalau Bandung, kan senakalnya perempuan masih biasa ya tapi kalau Jakarta, mungkin setara dengan negara Amrik," jelas Arnila ya pastinya karena Arnila juga anak Jakarta tapi dia lebih bisa diatur sama orang tua dan juga dekat dengan agamanya sendiri.
BERSAMBUNG ....