ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(223)


"Jadi bisa tidak?" Tanya Rita dia sudah lumayan lapar sekarang.


"Tidak bisa. Katanya harus ada kelengkapan surat perhiasannya kok ribet banget ya?" Tanya Ney yang manyun lalu memasukkan perhiasannya dalam kantongnya.


"Kamu baru pertama kalinya jual emas? Dimana - mana juga jual emas itu pakai surat terus kalau bisa kamu jualnya di tempat yang sama supaya harganya tidak dikurangi. Masa seperti itu saja kamu tidak tahu? Gampang banget hanya perlu keterangannya saja kan nanti sudah ada seperti beratnya gitu," kata Rita menjelaskan.


"Kok kamu tahu? Kenapa tidak kasih tahu aku kalau harus ada suratnya?" Tanya Ney kaget.


"Yah ibuku kan dengan tetehku suka minta aku nemenin mereka ke Pegadaian. Ah, malas kasih tahu kamu tidak pernah didengarkan jadi lebih baik kamu lihat sendiri saja harus bagaimana," kata Rita sambil menyilangkan kedua tangannya di atas kepalanya.


"Tapi ada kan yang bisa tanpa surat?" Tanya Ney yang masih ingin menjual perhiasan itu.


"Ya ada dong. Pengepul emas mereka tidak butuh kamu bawa surat, itu tukang yang suka ada di pinggir jalanan," katanya sambil berjalan.


"Oh iya ya pakai mereka juga lebih lancar tuh hanya ruginya, harga emas pasti dipotong super miring sih. Kalau kamu masih mau dijual ya satu - satunya jalan kesana," kata Arnila setuju.


"Hah!? Itu sih rugi bandar aku! Perhiasan ini paling mahal, Ri masa aku relakan separuh harga hilang?!" Kata Ney marah - marah.


"Itu kan saran kalau kamu tidak setuju ya tidak perlu marah dong," kata Rita yang mulai emosi juga.


"Iya nih sensitif terus dari tadi kenapa? Lapar ya," goda Arnila.


"Memang setengah rugi bandar tapi tidak masalah kan paling dikurangi berapa persen tidak sampai 10%. Buat biaya kuliah atau beli laptop? Bukan buat pesta kan?" Tanya Rita membuat mereka berdua kaget bersamaan.


"Lho kok kamu tahu soal pesta? Kamu diam - diam suka berpesta juga ya. Huh, tampangnya saja berjilbab jangan - jangan kalau malam kamu buka kerudung ya. Benar juga ya kata Alex kalau kamu itu berjilbab hanya digunakan untuk topeng!" Ketus Ney tiba - tiba membuat Arnila dan Rita keheranan. Kenapa ini anak dari tadi??


"Benar berarti soal dugaan aku ke kamu selama ini," kata Rita mulai naik darah.


Ney menyambut kalau Rita benar - benar marah dan menantangnya. "Memangnya kenapa? Iya kan lu tuh palsu wajah baik tapi aslinya pakai jilbab cuma kamuflase!"


Beberapa orang yang mendengarnya mencibir Ney dan bukan hanya itu saja karena beberapa orang berjilbab disana seperti marah kepadanya, Arnila mulai menundukkan kepalanya.


"Maksud Rita bukan begitu Ney, kamu kenapa sih jadi orang salah paham mulu? Uang yang kamu dapatkan itu untuk keperluan kuliah kan atau beli laptop, kamu kan memang ada rencana mau meneruskan kuliah ke S2 kan? Rita bilang tidak mungkin kalau kamu pakai uang itu buat pesta. Begitu lagian kenapa kamu malah sangkut pautkan dengan jilbab?" Tanya Arnila keheranan.


"Memang kamu teman palsu pura - pura peduli padahal sama sekali tidak tahu apa - apa soal aku. Untung banget kamu bukan teman aku! Aku terima ejekan kamu ya selama ini, tapi bahkan yang soal kebiasaan aku saja kamu tahunya ngasal! Jaga tuh omongan suatu hari nanti, apa yang lu katakan ke gue itu bakalan balik ke lu semuanya! Rasain! Gue juga heran apa sih yang dilihat Dins dari perempuan murahan seperti kamu!" kata Rita tidak kalah naik suaranya.


Arnila hanya bisa memandang keduanya sambil menguap, sudah jadi tradisi juga kalau Rita dan Ney mulai berantem, Arnila lebih banyak terdiam. Permasalahannya ada pada Ney yang selalu salah paham memang terlihat jelas kalau Ney tidak mengerti soal Rita. Padahal Rita sangat mudah dipelajari karena dia tidak pernah tertutup orangnya.


"Kamu...!" Balas Ney sebelum melanjutkan omongan, Arnila akhirnya menyela mereka.


"Ney hanya bertanya apa maksud kalimat kamu soal pesta itu. Aku sudah mewakilkan apa maksud Rita ke kamu, yang kamu pikirkan itu ya salah semua," kata Arnila.


"Sudahlah Nil jangan dijelaskan teman kamu itu celeno alias Bloon! Dia kan memang hobinya mancing emosi orang pantas saja yang bertahan sama dia hanya kamu sendiri. Mana ada juga sih yang mau bertahan punya teman palsu seperti kamu! Bersyukur tuh kamu masih ada yang mau deket, kalau Arnila juga pergi mati kamu!" Kata Rita dengan nada jutek banget.


"Iya iya sudah, Ri. Lagian kenapa sih kamu harus mancing berantem terus, Ney? Kan nanya bisa terus nadanya ya diatur jadinya kamu seperti nantangin gitu. Kalau kamu bicaranya biasa ya Rita juga biasa!" Kata Arnila sedikit kesal.


"Kok salahin gue terus sih?" Tanya Ney yang cemberut.


"Ya memang lu yang salah!" Kata Rita dan Arnila bersamaan.


"Maksud gue tuh buat apa sih kamu sampai berpikir negatif? Soal jilbab apa hubungannya? tapi dari pernyataan lu tadi, aku jadi menyadari sesuatu dan itulah yang membuat keputusanku nanti tepat 100% harus dilaksanakan," kata Rita.


Ney heran apa maksudnya. "Maksud lu apa sih? Keputusan apa?" Tanyanya menatap Rita dengan ketakutan.


"Nanti juga kamu akan tahu kalau saatnya datang sama seperti Arnila, aku juga punya firasat. Arnila sih sudah duluan tapi aku masih belum percaya tapi sekarang apapun yang akan aku tarik nanti pasti terkabul. Intinya remaja seperti kita biasa kali kalau punya uang banyak pasti urusannya ke pesta. Biasanya urusan kuliah itu hanya alasan saja, apalagi ya kamu yang bawa perhiasaan dengan harga jutaan memangnya ada orang - orang yang bisa percaya? Mana tidak ada suratnya juga kan aneh!" Kata Rita sambil menunjukkan ke otaknya.


"aya aku kan bisa beralasan anak orang kaya," kata Ney sambil memalingkan mukanya.


Rita dan Arnila bengong lalu tertawa bersamaan. "Kalau anak orang kaya mana mungkin juga penampilan kamu berantakan? Anak orang kaya tuh perhatikan deh penampilan mereka dari ujung rambut sampai ujung kaki seperti apa," kata Arnila.


"Lu hobi banget ya berhalusinasi hahahaha!" Kata Rita sambil terus tertawa.


"Kalau Alex sih aku tidak mau berpikiran dia ada atau tidak ada orangnya. Yang penting dia baik sudah cukup kalau memang penjahat, nanti juga Allah SWT tampakkan niat jeleknya," kata Rita yang masih tertawa.


"Lah kamu kan saru grup sama anak kaya, coba deh perhatikan mereka kalau pakai baju seperti apa," kata Arnila yang masih tertawa juga.


"Sudahlah Ney kalau mau bertanya itu langsung saja jangan pakai esmosi dulu. Memang sih aku bingung kamu kok sampai menjurus ke arah lain? Jadinya ya aku balas sentak juga karena kamu sudah bertindak keterlaluan. Apalagi kamu menambahkan kalimat yang tidak seharusnya kamu pakai, kalimat itu juga yang membuat Alex menerima hukumannya karena aku tidak ikhlas," kata Rita mengingatkan.


"Memang bahaya ya kalau berhadapan dengan yang berjilbab," kata Arnila sambil berpikir.


"Iyalah, orang yang berjilbab apalagi yang jarang melakukan perbuatan haram itu kan dijaga banget sama Allah SWT daripada yang tanpa jilbab tapi mengaku Islam. Ya banyak alasannya lah orang yang berjilbab juga otomatis sifat liarnya ditekan," kata Rita menjelaskan.


"Hmmmm," kata Arnila. Apa dia mau memakai jilbab ya? Tapi mungkin masih meragu.


"Jangan - jangan benar ya kalau kamu sendiri memang suka kelayapan? Soalnya kamu marah tadi padahal aku cuma bilang 'pesta' doang tapi kamu bicaranya menjurus ke luar jalur. Makna pesta kan bisa apa saja, pesta makanan pesta reuni, kenapa kamu malah yang negatif sih? Kamu sendiri malah jadinya menggali lubang sendiri. Apa benar kamu kalau malam suka pesta?" Tanya Rita menyerang langsung Ney.


Dia gelagapan mendengarnya mau menjawab tapi seperti sulit, Arnila terdiam menatap dengan wajah datar ke arah Ney. "Jawab saja kenapa? Kalau tidak benar, ya jawab saja tidak. Kenapa kamu seperti bimbang? Jawab tuh!"


"Aku tebak. Tengah malah suka clubbing ya makanya kamu sering bangun siang. Soalnya aneh banget sih," kata Rita berpikir.


Arnila terdiam tampaknya Rita memang instingnya tajam sekali dia tidak bodoh apalagi lemot dia hanya sedang mengumpulkan informasi saja dari berbagai sumber.


"Kamu menyelidiki aku? Buat apaan sih?" Tanya Ney yang tampaknya berusaha mengalihkan topik. Tapi sulit kalau Rita sudah tertarik dengan sesuatu, dia akan teruskan menyelidiki. Suka tidak suka.


"Kamu aneh banget selalu kesiangan, setiap janji juga kita janjian pagi kamu datang hampir mau jam 1 siang," kata Rita keheranan.


"Ya itu karena malamnya aku sibuk mengerjakan tugas," kata Ney yang membela diri.


"Kalau kuliah kamu kan sudah lulus. Kerja? Kamu kan belum kerja lagi wajar kalau kamu sudah dapat kerja tapi kamu kerja dimana - mana juga hanya bertahan 6 bulan karena kebiasaan kamu yang seenaknya. Pekerjaan kamu yang kemarin pasti kena pecat kan," kata Rita menebak.


Arnila bertepuk tangan mendengarnya, dia tampak senang tapi tidak dengan Ney. 'Bagaimana dia bisa tahu sih!? Heran gue' Pikir Ney.


"Aku yakin alasan kamu terlambat karena setiap hari clubbing. Dan aku tahu dimana tempat itu karena itu satu - satunya yang masih ada di Bandung. Aku yakin benar karena wajah kamu menunjukkannya. Tangan kamu gemetaran, kamu tidak bisa mengucapkan apapun. Aha! You lose!" Kata Rita dengan nada senang.


"Kamu cocok jadi detektif, Ri," kata Arnila mengacungkan dua jempolnya.


"Sekarang aku tahu kalau kanu terlambat lagi karena tengah malam kamu clubbing. Dins tahu tidak ya kebiasaan kamu itu?" Tanya Rita membuat Ney terdiam.


Kali ini Ney tidak bisa berkata apa - apa lagi, semuanya sudah ketebak oleh Rita dengan tepat! Apalagi kalau Rita tahu Dins tidak tahu, wah! Tampak wajahnya memerah karena malu, padahal kalau pun memang iya kenapa sih tidak bilang sedari awal? Itu kan gunanya teman. Tapi kalau Ney masih saja terus menyembunyikan, ya itu berarti memang diragukan. Sama halnya dengan Alex yang Ney keberatan memberitahu Rita bersamanya, kalau begitu boleh juga kan kalau Rita tidak perlu lagi berteman dengan Ney?


"Hati - hati dengan kata - kata. Kamu tahu kan bedanya Rita yang sekarang dengan yang dulu? Dulu kamu bisa seenaknya injak dia tapi sekarang, dia mulai menyadari sesuatu yang salah dari kamu," kata Arnila berbisik kepada Ney yang terdiam.


"Ini semua gara - gara Alex!" Kata Ney kesal.


"Bukan karena Alex. Kamu memang ya suka melemparkan kesalahan ke orang lain. Itu karena normal manusia akan berubah dari waktu ke waktu sama halnya dengan aku. Sekarang sudah bukan waktunya lagi kamu terus seenaknya berkata tanpa dipikir baik - baik. Kalau kamu terus dengan kebiasaan jelek kamu, kamu akan kehilangan semuanya," kata Arnila.


Saat itu Rita menerima notif dari paman Alex, yaitu Mr. Syakieb. "Maaf mengganggu waktunya. Hari ini teman kamu mengembalikan semua barang yang saya berikan tapi ada beberapa perhiasan yang tidak ada. Mungkin teman kamu bisa mengembalikannya hari ini? Saya yakin dia menaruhnya secara jorok, malam ini saya harus kembali berangkat untuk mengembalikan semua barang ke tempatnya,"


Rita menghela nafas benar saja pasti dia meminta kembali semuanya. Dan tepat kalau perhiasan itu memang bukan milik Syakieb. Rita lalu berjalan menjauh dari mereka berdua.


"Kenapa dia sih?" Tanya Ney penasaran lalu mau menyusulnya dengan pura - pura merapihkan rambutnya.


Dia melihat Rita membalas chatnya dengan serius tapi Arnila menarik tangannya dengan cepat dan menariknya menjauh dari Rita. "Kita kesana saja kamu selalu membuat masalah baru kalau Rita sedang ada urusan,"


Ney tertarik mengikuti Arnila tapi masih memandangi Rita dengan wajah yang serius apalagi berkacak pinggang juga. "Gue bukan mau cari masalah hanya mau nanya dia chat sama siapa terus ada masalah apa. Lepasin woy!" Kata Ney yang berusaha melepaskan tangannya dari Arnila tapi kuat sekali.


"Alasan!" Balas Arnila yang menariknya memasuki sebuah toko kosmetik. Ney sama sekali tidak bisa melawan lagi karena dia kurus jadi bisa digiring dengan mudah.


BERSAMBUNG ...