ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(46)


"Okkay kita kembali ke khodam. Aku masih penasaran," kata Rita mengetik dengan cepat. Mumpung Alexnya sudah kembali ceria hehehe.


"Buat apa? Kamu pasti penasaran sama Tengku," balas Alex mengirim emoji muka yang mata dan mulutnya segaris ( -_- ).


"Wah tahu! Tengku makannya apa?" Tanyanya.


"Energilah," jawabnya singkat.


"Energi yang kamu?"


"Bisa. Tapi aku larang lebih baik dia cari makan sendiri saja, aku kan tidak membayarnya,"


"Oh bisa mencari sendiri? Memangnya di alam dia ada warung atau gerobak dorong?" Tanya Rita sambil ngakak.


"Bahahahaa entahlah mungkin. Aku tertawa membayangkan setiap balasan kalimat kamu. Lucu banget kamu," jawabnya yang membuat Rita semriwiiiing.


"Aku serius nanya,"


"Aku juga serius menjawabnya. Kamu tolonglah beri pertanyaannya jangan yang membuat aku tertawa,"


"Aku tidak sedang melawak. Kalau aku melawak, kamu pasti sudah sakit perut sampai tidak bisa buang air besar," jawab Rita seenaknya.


"Jangan gawat itu. Tapi pertanyaan kamu memang alami ya bukan dibuat - buat,"


"Buat apa juga buatan? Ini nyata tahu. Aku tidak tahu jawabannya," balas Rita keheranan. Seaneh itukah semua pertanyaannya sampai membuat Alex tertawa begitu sedih.


"Aduuuh my mom penasaran akhirnya membaca semua yang kamu bilang. My mom tertawa keras, kamu memang lucu,"


"Ya kan aku tidak tahu apa disana juga keadaannya sama dengan di kita. Wajar kali," Rita manyun.


"Iya iya haduuuh ketawa terus hahahahaha,"


"Kamu punya khodam sejak kapan?" Tanya Rita lagi. "Lama ya dibalasnya,"


"Tunggu tunggu aku masih tertawa dengan ibuku. Haduuh benar - benar selingan yang bermanfaat banget, pas banget aku lagi suntuk ini,"


"Kamu suntuknya tiap hari sih, kalau tidak marah - marah pasti mengganggu aku terus. Mana jawabannya?" Tanya Rita menagih.


"Iya aku sedari kecil sudah punya. Kakek buyutku yang menurunkannya untuk menjaga aku. Aku semenjak dikeluarkan dari rahim ibuku, kondisinya sudah mengkhawatirkan,"


"Sekarang juga masih mengkhawatirkan," kata Rita.


"Iya memang. Tapi aku senang kamu mau menerimaku," balasnya dengan emoji senyum.


"Kata siapa?"


"Eh? Ini kita masih chat kan," kata Alex.


"Kamu yang maksa aku bisa nerima keadaan kamu," kata Rita yang pura - pura kesal.


"Oh," jawabnya singkat.


"Tapi bohong! Hahahahaha kamu pasti nangis yaaaa..." Rita tertawa lebih keras dari biasanya.


"No," balasnya singkat. Tiba - tiba ....


"Nangis neng, tapi pura - pura baru saja air matanya dihapus tuh. Gengsi dia mah," walahhhh ibunya yang balas hahahahahaha!!


"My moooom kacau sudah," balasnya dengan menyelipkan emoji muka datar. Rita tertawa sampai sakit perut


"Kaget. Ibu kamu tiba - tiba yang membalas. Masih ada?" Tanya Rita.


"Masih. Berusaha mencuri kesempatan untuk mengambil hp punyaku, jangan sampai lengah!" Kata Alex yang sepertinya berusaha keras melawan ibunya. Rita menepuk dahinya lalu tersenyum geli membayangkan anak dan ibunya yang saling melawan.


"Alex?" Tanya Rita takutnya ternyata ibunya yang membalas.


"Alex kalah neng, ini sama ibunya,"


"Waduh! Apa kabar Tante? Hehehee kalah ya?" Buru - buru Rita menurunkan nada ketikkannya karena yang dihadapinya adalah Nyonya alias ibunya Alex.


"Baik Alhamdulillah. Iya kasihan dia lagi ngos - ngosan ini hahaha susah sekali mengambil hp dia tuh. Masa sama ibunya dia main rahasia?" Tanyanya.


"Oh, iya ya Alex pernah bilang jarang cerita apa - apa soal saya ke Tante,"


"Wah susah banget dia tapi akhirnya pasti ketahuan. Jadi kembali lagi sama neng ya, soalnya waktu dia jadian sama teman neng wajahnya sedih banget. Katanya 'Kenapa harus mengalah kalau benar - benar nyaman?' ada masalah ya neng?" Tanya ibunya. Wah wah ketahuan semua nih kartunya dia kalau sudah sama ibunya.


"Iya begitu deh Tante biasa," kata Rita.


"Oh bagus deh kalau kembali lagi sama kamu. Setiap chat sama kamu, dia selalu ketawa sendiri. Saya nanya dijawabnya 'bukan siapa - siapa' tapi ya seperti tadi ketawa keras. Kan tante jadi penasaran akhirnya ya begini bertarung sama dia, tante ancam saja 'mau ya sama mom pasang penyadap' baru dia ngalah hahaha," sepertinya ibunya agak easy going dari kalimatnya tampak lembut, tegas tapi lucu juga sama seperti anaknya.


"Aeh aeh neng orang Sunda?" Tanya ibunya. Lah jangan - jangan ...


"Muhun, tante. Tapi bisa nyundanya cuma sedikit," balas Rita.


"Eh, tante oge urang Sunda neng ( Eh, tante juga orang Sunda, neng ) Oh Sunda ya ternyata karma teh pasti ada ya," kata ibunya yang membuat Rita keheranan.


"Maksudnya bagaimana, tante?" Masih tidak mengerti. Karma apa ya?


"Tanya aja nih sama orangnya. Mulai mengiba wajahnya hahahaa katanya sudahan gitu. Aduh, nih anak ya mulai tidak bisa sabar. Padahal tante banyak yang mau ditanyakan. Kapan - kapan saja ya neng. Terus ngobrol sama akang ya, dia butuh teman mengobrol kasihan disini teman - temannya cuma ada saat senang saja," Meski Rita tidak mengerti tapi di iya kan sajalah.


"Rita?" Wooow tumben dia manggil nama.


"Ya, akang?" Jawab Rita sambil ketawa.


"Huuh MOM!" Teriaknya yang disambut senyum usilan Rita. "Aku kan bilang jangan bilang begitu sama dia jadinya kebongkar semua deh,"


Sepertinya sih ibunya menyadap pembicaraan dia dengan Rita karena Alex mengatakan sesuatu yang tidak Rita katakan jadi memang aneh membacanya dan dia tidak sadar. Mungkin ya seperti WA yang disadap saat Rita dan Ney bicara lalu tiba - tiba muncul Arnila yang bertanya pada Ney. Semacam itu, tapi Rita tidak bisa melihatnya. Kalau Ney menjawab pertanyaan Arnila, yang Rita bisa lihat hanya jawaban dari Ney saja. Seperti ini :


"Tapi jangan sampai mom bilang sebutanku dirumah. Sekarang dia tahu panggilanku dirumah,"


...Atau...


"Aku suka sebut namanya kok kalau lagi mau saja,"


...Atau juga ...


"Dia Sunda? EEEEEEHHHHH!?" Sepertinya bagi dia tidak menyangka kalau Rita orang Sunda. Dan ada sesuatu dengan mengetahui Rita orang Sunda?


...Lagi.......


"Jangan bilang karma. Nanti dia menertawakan aku. All I know is that she'll start teasing me when mom calls me that name, I'm totally done. ( Yang aku tahu, dia akan mulai menjahili aku saat ibu menyebutku dengan sebutan tadi. Habislah sudah aku )," yang di sisi lain Rita tertawa sendirian tanpa menyela pembicaraan dia dan ibunya.


"Do I have report what I talked to her about? I did laugh a lot with her. She is very funny! ( Apa aku harus melaporkan apa yang aku bicarakan dengannya? Aku memang banyak tertawa dengannya. Dia sangat lucu )," Woooh Rita dibilang lucu hehehe... masih Rita biarkan dia terus chat dengan ibunya.


...Lagi - lagi......


"She's not like most people who approach me after all. I'm the one who approached her not her. She is not like a woman in general who has bad intentions towards me. This one is different, you will see. I guarantee! ( Dia tidak seperti kebanyakan orang yang mendekati aku lagipula aku yang mendekatinya bukan dia. Dia bukan seperti wanita pada umumnya yang punya niat jahat kepada aku. Yang ini berbeda. Aku jamin! )" Rita masih terus membaca apa yang dikatakan Alex tanpa memotongnya. Ingin lihat apa reaksi Alex setelah tahu dan sadar bahwa semua chatnya bersama ibunya terlihat oleh Rita.


"Uh? I don't suspect that Rita saw this chat? Mom, isn't this the chat you're hiding? ( Eh? Aku tidak mencurigai kalau Rita melihat chat ini? Bu, bukankah ini chatnya ibu sembunyikan? )" Rita senyum menggila sekaligus tertawa tak lupa dia abadikan menjadi sebuah kenangan dengan memfotonya.


"EH!? You didn't hide it? What you mean? Mom told me to ask Rita? What for? ( EH!? Ibu tidak menyembunyikannya? Apa maksudnya? Ibu memberitahuku untuk bertanya pada Rita? Buat apa? )" Disinilah Rita beraksi.


"Karma kenapa sih kamu? Dari tadi bicara sama siapa? Saking senangnya kamu berbicara, aku biarkan saja," kata Rita.


"Dari tadi?" Tanyanya.


"Iya. Nih buktinya," Rita mengirimkan percakapan dia sendiri entah dengan siapa. Tak kasat mata toh. Sudahnya ada beberapa menit, Alex tidak membalas.


"Karma karena aku tidak suka orang Indonesia apalagi orang Sunda,"


"Lho? Kenapa?" Tanya Rita heran.


"Akang pernah dijahili sama saudara di Bandung pakai bahasa Sunda. Dia kan tidak bisa Sunda neng meski ibunya orang Sunda,"


"MOOOM!" Teriaknya terkejut sepertinya masih dalam pertarungan memperebutkan hp.


"Apa urusannya dengan orang Indonesia?"


"Orang Indonesia katanya tidak sopan neng, suka buang sampah di negara orang, terus kalau bicara nyelekit. Padahal dia juga kan sama ya apalagi keluar dari rahim tante hahahaha," weleh weleh masih panas nampaknya.


"Aaaaaaa! Pokoknya memang benar aku membenci orang Indonesia!" Kali ini Alex yang menang.


"Wah sama dong!" kata Rita.


"Serius?!" Balasnya tidak menyangka.


"Aku juga sangat benci orang Malaysia terutama saat aku tahu kamu orang Malaysia, sangat ingin menghantam kamu pakai lemari,"


"Kenapaaaa???" Tanyanya histeris.


"Pemerintah Malaysia selalu klaim sumber budaya Indonesia, makanannya sampai yang paling panas adalah urusan batik dan rendang. Ngapain kamu klaim yang bukan milik negara kamu!? Bosan sama budaya sendiri!? Kalau mau nambah kekayaan buat sendiri dong. Semua barang Indonesia seenaknya sendiri dibranded sama Malaysia. Makanya jadi orang kreatif dong jangan bisanya cuma bisanya fotocopy! Tidak malu apa!? Sampai pertandingan sepakbola tuh dicurangi malu kan jadinya. Ih kasihan amat! Main curang tapi ketahuan sama bodohnya seperti kamu!" Entah kenapa Rita mengeluarkan semua unek - uneknya sama lelaki ini.


"Banyak sekali ya. Jangan kamu utarakan ke sayalah saya ini bukan orang pemerintah, sana kamu kirim petisi,"


"Wakilkan dong suara rakyat namanya. Jangan suka klaim seenaknya nanti dibalas sama negara lain lho,"


BERSAMBUNG ...