ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
2


"Bu-bukan.. aku.." kata Ney terbata-bata, dia sekarang mengeluarkan air mata yang asli. Karena keterkejutannya menyadari semua itu hanyalah ujian.


Ya iyelaah artinya terlihat jelas kan bagaimana dia yang mengeluarkan sifat aslinya. Harusnya dia mulai berpikir aneh dan seperti sahabat-sahabat Rita lebih bisa Berpikir pakai otak bukan Logika. Bukan juga pengalaman, itulah salah satu etika Sahabat.


Menjaga kerahasiaan sahabat sendiri bukan sebaliknya apalagi menyerang daerah privasinya.


"Rita, aku... aku tidak tahu kalau itu ujian. Serius kenapa kamu tidak bilang?" Tanya Ney saat itu.


"Bilang? Buat apa? Jelas-jelas kan kamu bilang aku bukan teman kamu. Tolong ya Ney, berhentilah bersikap Topeng. Itulah kamu yang sesungguhnya, cara Alex memang kasar tapi aku sudah tahu soal topeng kamu. Lagipula bukannya kamu lebih tahu ya? Seharusnya kamu berpikir kalau dia menggunakan taktik itu untuk menggoyahkan kamu sendiri," kata Rita.


"Aku juga tidak serius kok Rita. Waktu itu aku hanya menguji kamu juga,. Apa kamu memang suka Alex karena harta atau hatinya. Begitu," kata Ney dengan nada anak kecil sambil senyum.


Namun Rita sama sekali tidak merubah sikapnya, masih dengan tatapan tajam. Arnila memandanginya dan bernafas lega, Ney agak gentar memandangi wajah serius menekan Rita. Dan pertemuan itu berakhir di pukul 4 sore. Sambil saling berpelukan, Ney memeluk dengan tangan yang gemetaran dan berusaha menyentuh Rita.


"Rita, kita masih teman kan?" Bisik Ney bertanya.


Rita enggan menyentuh wajahnya namun Arnila memberikan tanda berkacak pinggang. Rita memutarkan matanya dan senyum palsu. "Orang seperti kamu bukan tipe teman yang aku cari," jawab Rita di telinga Ney.


Ney melepaskan pelukannya terkesan salah tingkah. Rita pamit untuk pulang meskipun Ney berkata sesuatu, Rita memutar matanya dan cuek. Arnila menggelengkan kepalanya menatap Ney yang menyapu air matanya dan bersikap genit.


Saat pulang, Rita melewati sekumpulan orang yang tadi mengarah ke stand dengan wajah yang memerah karena malu.


"Semangat terus kak," kata mereka dengan sopan.


"Eh? Ohhh iya. Terima kasih," kata Rita lalu pergi sambil menghapus air mata.


"Tuh kan, sebenarnya orangnya lembut tapi ya orang yang tadi memang merundung dia. Kok bisa ya?"


Mereka semua membicarakan memandangi Rita dengan wajah agak sedih dan menuju tempat tadi.


Sisi lain kedua tangan Ney gemetaran apalagi sekarang semua orang memandanginya dengan kesal dan marah. Dia tidak memperdulikan itu dan mengajak Arnila jalan-jalan, tapi ditolak.


"Aku juga pulang," katanya pergi begitu saja.


"Kok? Aku sendirian dong," kata Ney memohon untuk tetap ada.


Arnila sudah tahu apa yang dikatakan oleh Rita sebenarnya, sebelum bertemu bertiga dia mewawancarai Rita terlebih dahulu. Arnila juga yang menyarankan semua unek-uneknya dan mengatakan apa yang dia mau, meski artinya mereka bertiga akan menjauh lebih jauh.


Ney meremas kedua tangannya dan pergi dengan menunduk. Menyenggol beberapa orang dan dikatai sebagai perundung. Menangis? Ya dia menangis bukan karena diejek tapi kesalahannya terbuka lebar saat Alex menguji kesetiaannya.


Kesal karena sudah jatuh pada jebakannya membuat Rita menjadi sangat jauh darinya bahkan di tahun 2023 ini.


Kita kembali ke masa dimana ingatan itu akhirnya berakhir. Ney mengakui mengingat semuanya dan menutup kedua matanya memutuskan sesuatu.


"Iya, aku mengaku. Aku yang salah. Puas?" Tanya Ney yang menghapus air matanya.


"Bukan aku yang puas tapi kamu. Menyesal berkata jujur? Coba kamu katakan itu sewaktu Rita masih mau memberi kamu kesempatan untuk terbuka. Dia tidak akan menertawakan kok, dia berbeda dengan teman-teman kita," kata Arnila di telepon.


"Ah, masa? Dia itu kan sensitif," kata Ney.


"Kan aku hafal dia bagaimana orangnya. Kamu tidak tahu karena terlalu mementingkan diri sendiri Ney," kata Arnila tepat sasaran.


"......"


"Aku juga tahu kamu lebih dari Rita, Ney. Kalau tidak tulus lebih baik..." kata Arnila.


"IYA AKU YANG SALAH! AKU MEMANG AKUI SEHARUSNYA DULU ITU AKU BISA LEBIH... Lembut dan sabar," kata Ney memelankan suaranya. Penyesalan datang belakangan.


"Kamu lebih kenal dia dari SMP lho. Memang aneh sih aku juga sama dengan Rita, mengaku kenal dia lebih lama tapi kamu sampai sekarang tidak hafal karakternya? Kamu memang nyablak tapi seharusnya juga belajar mengendalikan kebiasaan kamu. Aku setuju sih apa kata Rita dengan begitu kamu bisa punya banyak teman," kata Arnila sambil berpikir.


Ney rese sekali mendengar omongan Arnila meskipun memang benar. "Sudah deh bagaimana caranya supaya aku bisa kontak sama Rita lagi?" Tanyanya tidak sabaran.


Arnila tahu Ney memang mengaku salah tapi soal niat tulus atau tidak, tipis sekali.


"Hubungi Alex saja," kata Arnila.


"Haha? Bagaimana? Dia kan datang dan pergi seperti hantu," kata Ney memijat keningnya.


"Nih nomor ponselnya. Dia pernah hubungi aku dan minta maaf karena sudah mengajak aku untuk menyerang Rita," kata Arnila mengirimkan nomor sambil menyalakan speakernya.


Arnila juga kaget. Kenapa? "Ya karena kamu kan banyak menyerang Rita. Alex kan sudah bilang waktu itu hanya untuk menggertak, tapi yang kamu lakukan malah kelewat batas kan. Kamu dan teman-teman kamu yang lain. Dia mau minta maaf untuk bagian gertak kan saja jadi memang kamu harus minta maaf untuk bagian kamu," jelas Arnila.


Ney kaget dia menepuk dahinya dan jalan mondar mandir, menyadari kesalahannya sangat banyak. Dia tampak senang menyerang Rita karena memang ada beberapa dendam karena cemburu kepadanya.


"Kamu tahu kan Rita itu tidak peka?" Tanya Arnila ingin tahu.


"Iiih Rita memang tidak peka banget! Jadi..." kata Ney yang mulai semangat.


"Lalu kenapa kamu mempertanyakan kebaikannya? Kenapa kamu malah memojokkan kekurangannya? Selama kenal kamu, dia sudah tahu lebih dulu dan tidak masalah soal jelek, kebiasaan kamu. Tapi kenapa kamu malah seperti mempermasalahkan soal dia? Aku rasa itu yang membuat posisi kamu hilang dari sisi dia. Kamu sadar?" Tanya Arnila seakan menonjok wajah Ney.


Ney diam mendengarnya. Dia terus membeku di tempat, kalau Rita tidak peka seharusnya biarkan dia begitu. Dia akan peka dengan cara yang akan Alex tunjukkan.


"Soal Rita bilang dia tidak butuh bantuan kamu atau kita, sebenarnya memang jangan dibantu," kata Arnila.


"Kenapa?" Tanya Ney mulai bingung.


"Itu tugas Alex bukan kita. Tugas kamu, hanya dukung kalau tidak suka ya sudah tidak perlu dipermasalahkan. Kamu juga tidak wajib cari tahu soal Alex. Itu tugas Rita. Mengerti? Aku mengerti loh maksud Rita, tapi kamu tidak. Jadi sebenarnya kamu yang tidak peka," kata Arnila lebih jelas.


Sekali lagi Ney hanya diam.


"Rita tidak peka pada lawan jenis tapi dia sangat peka pada yang jenisnya sama alias sesama perempuan. Dan kamu itu kebalikannya dari dia, Ney. Aku bisa mengerti karena aku menempatkan diriku bila jadi Rita, Kamu tidak pernah. Aku jujur chemistry kamu sama Rita itu sama sekali tidak cocok dan dia pasti sudah menyadarinya juga," jelas Arnila.


"Rita?" Tanya Ney.


"Alex. Makanya dia minta Rita jauh dari kamu karena tidak ada kecocokan antara kamu sama Rita. Semuanya bertolak belakang jadi buat apa kamu memaksakan diri supaya diterima di circle dia?" Tanya Arnila.


"Dia itu butuh bantuan lho," kata Ney terus membela diri sebagai sosok yang penting.


"Tidak perlu. Teman dekat dan sahabatnya sangat banyak lho, tipe kamu salah masuk. Kalau kamu memaksa masuk, mereka akan banting kamu habis-habisan. Ingat kan saat kamu datang ke perkumpulan teman kuliahnya? Ingat saat salah satu sahabat dia menampar kamu?" Tanya Arnila.


Ney tentu saja masih ingat soal Diana, sahabat terbaik Rita yang menamparnya karena keterlaluan menghina Rita. Sejak itu juga Diana selalu menolak bertemu dan selalu mematikan ponselnya.


"Aku tidak mengira ya kamu sampai bisa punya nomor Alex," kata Ney mengalihkan topik.


"Seperti biasanya kamu mengalihkan topik ya ini peringatan saja sih kalau kamu masuk sekali lagi, akan kena tampar yang lebih menyakitkan," kata Arnila membaca selintas isi hati Rita saat itu.


"Maksudnya?" Tanya Ney.


"Kamu tidak baca isi hati Rita?" Tanya Arnila.


"Hah? Tidak ada aku sudah coba menelusuri tapi tidak ada kalimat. Memangnya kamu bisa? Kok aku tidak bisa?" Tanya Ney kebingungan.


Arnila mengangguk tampaknya memang hanya dia saja yang bisa membacanya, setelah itu tidak terbaca karena Rita menutup isi hatinya. Tampaknya memang sengaja agar terbaca oleh Arnila.


"Dia ingin sekali menonjok kamu kalau bertemu lagi. Jadi lebih baik kamu mengurungkan niat untuk bertemu sama dia. Ingat saja Ney, dia sangat penuh amarah meski kamu sudah termaafkan, api amarah itu masih terus ada sampai niatnya terpenuhi," peringat Arnila.


"Nonjok aku!? Serius?" Tanya Ney yang duduk sambil ketakutan. Jelas dia masih ingat aura mengancam dan berbahaya Rita, sampai sekumpulan remaja yang lalu saja kabur secepat mungkin.


"Meski ada Alex juga tapi api auranya akan terus terpancar bila ketemu kamu kecuali dia yang memutuskan untuk memadamkannya, dan itu sangat sulit mengingat kamu menyerangnya dengan brutal. Aku punya nomor itu sama sekali tidak pernah aku gunakan," kata Arnila.


"Aku pikir kamu pendiam sama dengan Rita ternyata... Apa kamu juga sama dengan Rita?" Tanya Ney penuh curiga.


"Aku bukan perempuan murahan genit seperti kamu. Ingat setelah kamu meminta maaf sama dia, jangan ganggu lagi biarkan dia sendiri. Dia sudah mode Peace," peringat Arnila.


Ney juga menganga perkataan Arnila agak mirip Rita dan dia saat ini lebih baik menurut. "Iya," katanya.


"Kamu hubungi dia hanya untuk permintaan maaf bukan untuk menanyai kabar dia bahkan alex. Jangan tanya soal hubungan dia dengan siapapun atau kekepoan kamu menyala lagi!" Kata Arnila dengan tegas.


"Iyyaa," jawabnya dengan senang meski dia sudah buat rencana lagi. "Yang penting aku bisa chat lagi saja sama dia setelah itu tidak ada urusan,"


Arnila menggeleng karena Ney tidak mau mengerti. Posisi Rita sekarang berbeda dengan yang dulu mereka berdua kenal. Keadaan pembullyan merubah satu karakter Rita, dan kekuatan yang Rita miliki menjadi siaga tanpa diketahui.


"KA-MU HA-NYA HU-BU-NGI DI-A UN-TUK ME-MIN-TA MA-AF BU-KAN UN-TUK CHAT!! Paham? Setelah Rita memaafkan kamu pergi secepatnya dan jangan hubungi dia lagi. Mau dia blokir kamu, lepas!" Kata Arnila menekan.


Dia tahu sekali Rita sudah memaafkan mereka berdua tapi statusnya masih berbahaya, kesempatan untuk kembali berteman atau kenal lagi tidak ada harapan.


Bersambung ...