ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
368


"Coba deh kamu pikir ulang selama aku lempar bola adakah kamu menerima?" Tanya Rita membuat Ney kebingungan.


"Ya aku terima dong asalkan kamu lemparnya pelan. Ini tentang apa sih kenapa jadi ke permainan bola?" Tanya Ney yang tidak mengerti cara berpikirnya Rita.


"Mana ada aku pernah lempar bola kencang? Bola itu seperti permasalahan yang semua orang pasti miliki. Saat kamu memiliki masalah itu bagaikan melempar bola ke aku. Lalu sebagai feedbacknya, aku terima lemparan bola itu sebagai mendengarkan keluh kesah kamu," terang Rita membuka penjelasannya.


"Lalu?" Tanya Ney yang masih kebingungan. Kalau Arnila pasti mengerti meski sama dengan Rita, agak lemot.


"Lalu bagaimana saat kebalikannya?" Tanya Rita.


Ney terdiam sesaat dia baru tersadar maksud pembicaraannya kemana. Sudah banyak yang Rita ceritakan mengenai masalahnya namun Ney sendiri jarang sekali mendengarkan apalagi memberikan jalan keluar.


"Untuk apa sih kamu berputar-putar segala? Bilang saja intinya apa jangan buat aku lebih kebingungan," kata Ney yang malas membacanya.


"Aku sudah berkali-kali bilang intinya tapi kamu terus bertanya apa itu yang namanya bisa mengerti?" Tanya Rita.


"Ya habis kamu bertele-tele sih kalau bicara," kata Ney beralasan. Sebenarnya dia hanya malas saja membaca kalimat yang panjang.


"Bertele-tele salah, langsung ke intinya salah. Kamu ini memang tidak pernah mau mendengarkan apa kata orang sih ya. Hidup sesukamu tapi lebih senang mengatur hidup orang lain. Kepo sekali sih kamu tuh," kata Rita membuat Ney lebih jengkel.


"Biarin itu urusan aku, untuk apa kamu ikut campur segala," kata Ney kesal.


"Karena sejak dulu kenal sama kamu, semua urusan aku kepo sekali. Kamu ingat tidak sewaktu aku tolak lelaki juga kamu selalu bertanya soal nomor teleponnya atau media sosialnya. Untuk apa? Sampai kamu terus tanya kenapa aku menolak," kata Rita.


Ya ya ya pernah ada kejadian seperti itu, Ney tidak habis pikir padahal lelakinya ganteng. Memang dia menanyakannya pada Rita lalu setelah tahu namanya dia juga cari di media sosial. Sampai Ney tambahkan menjadi temannya, memang akhirnya jadi teman dan banyak bertanya soal Rita apalagi Ney juga berkata kalau rugi menyukai Rita. Dan besoknya, Ney sudah di blokir oleh lelaki itu.


"Ya soal itu aku penasaran saja kok kamu tolak lelaki seganteng itu sih?" Tanya Ney yang mencabut pinggiran kukunya.


"Apa urusan kamu mau aku tolak orang lain atau blokir orang. Tidak perlu banyak bertanya deh untung orang yang kepo cuma kamu saja bayangkan kalau ada banyak," kata Rita bersyukur. Entahlah kalau orang lain yang penting asal jangan orang yang dia kenal saja.


Yups semua orang yang Ney tambah menjadi teman, tidak ada yang bertahan lama paling hanya seharian saja, apalagi kalau menyangkut soal lelaki mau dia ekori sampai mana juga, ternyata malah kena tolak.


"Bukannya itu yang dilakukan oleh seorang teman ya? Memastikan kalau temannya baik-baik saja," kata Ney berpikir.


"Yang dilakukan teman semestinya adalah mendukung bukan kepo urusan orang. Tahu tidak orang yang kepo itu kebanyakan hidupnya tidak bahagia? Kepo urusan orang sampai mengatur tandanya kamu iri sama kebahagiaan mereka. Kalau kamu memang teman baik, dari awal teman kamu mendapat kesedihan kamu bisa mendengar keluhan dia," kata Rita mengingatkan. Ya siapa tahu nanti dia harus mencari teman lain karena Rita tidak mau ada urusan lagi dengannya.


"Kadang kamu tuh lemot soal lelaki, Rita. Aku hanya mau membantu ya maaf kalau caraku salah tapi itu untuk membuat kamu lebih mengerti," kata Ney.


"Aku tidak butuh bantuan kamu untuk mendalami perasaan lelaki. Aku juga punya perasaan dan pikiran, kamu urus deh urusan kamu saja. Mau aku lemot atau tidak, kalau kamu merasa terganggu ya pergi sana," kata Rita yang memang agak sensitif mengenai masalah kepekaannya.


"Maksudku yaaa aku hanya ingin kamu bisa memberi aku sesuatu sebagai penghargaan karena aku sudah lama kenal kamu," kata Ney yang tidak dia cantumkan dalam chat. Tapi ternyata Rita tidak mengerti mengenai keinginannya itu.


"Ini bukan masalah kelemotanku ya tapi menurutku kamu memang lebih peduli dan mementingkan diri kamu sendiri, Ney. Soal aku sejak dulu bagi kamu tidak ada. Kamu tidak peduli, tahu siapa yang menerima lemparan bola masalahku?" Tanya Rita.


"Ya pastinya tidak ada kamu terlalu banyak masalah. Kamu itu yang bermasalah," kata Ney melempar kesalahan.


"Kamu itu sama saja dengan orang tuaku aku tidak terbayangkan bagaimana hidup rumah tangga kamu kalau nanti punya anak atau sebagai istri. Sahabat-sahabat aku saat masih SMA bahkan sampai sekarang, merekalah yang berlomba untuk mendengarkan masalahku. Bukan seperti kamu yang hanya bisa menyalahkan keadaan," kata Rita membuat Ney menunduk kepalanya lagi.


"Aku tidak tahu kalau kamu sebegitu diperhatikan oleh mereka," kata Ney dalam chatnya. Dia merasa sakit terluka saat tahu kalau banyak orang luar selain dia yang menyambut Rita.


"Kamu hanya ada dan mengakui selalu membantu aku, saat aku kenal Alex. That's all! Aku tidak kenal kamu saat itu juga dan aku sekarang tahu teman seperti apa kamu ini," kata Rita yang kesal lagi.


"Seperti apa?" Tanya Ney yang sudah merasa Rita sadar. Sadar mengenai dirinya yang memang tidak memerlukan keberadaan Rita saat... Rita kenal Alex. Betapa sudah banyak waktu yang Ney sia-siakan untuk lepas dari Rita tapi sekarang keadaannya menjadi begini.


"Kamu memang memilih teman. Bagi kamu memang aku yang dulu tidak ada karena tidak sesuai kriteria yang kamu cari. Kamu hanya butuh teman yang kaya kan itulah kenapa kamu masih memegang Arnila. Kamu sendiri yang bilang dulu kalau Arnila itu kaya dan rumahnya besar," kata Rita membuat Ney terdiam.


"Dan dia baru sadarnya setelah aku tahu dia kenal Alex. Ya ampun!" Bisik pikiran Ney.


"Iya, aku mengaku kalau aku tidak peka seharusnya soal begini sudah terlihat sejak dulu. Tapi kalau tidak bukan karena aku lemot, Ney," kata Rita.


"Lalu apa?" Tanya Ney yang berhati-hati.


"Karena aku menerima kamu apa adanya, meski kejelekan dan kebiasaan kamu yang tidak banget. Semua orang juga sama tapi kamu nyatanya sama sekali tidak menerima aku sebaliknya," kata Rita membuat Ney malu.


"Lalu kenapa sekarang kamu tidak bisa menerima aku? Aku ini sudah melakukan segalanya buat kamu," kata Ney yang mencari alasan lain agar dirinya tidak bersalah.


"Helloooo kelakuan kamu yang asli justru terbongkar setelah aku kenal Alex. Jadi begini aslinya kamu, herannya kamu malah tidak menerima aku yang mampu ikhlas meski kamu jelek hahahaha," kata Rita menertawai dirinya sendiri yang baru sadar mengenai Ney.


Kalau saja dulu dia lebih tahu kalau Ney tidak pernah menganggap sebagai temannya karena latarnya orang miskin, mungkin sekarang Rita lebih bahagia tanpa ada masalah dengan Alex. Segalanya akan lancar toh, masalah keluarganya sudah cukup menyita energinya.


Ney lalu menangis dia baru merasa takut kehilangan yah karena kalau sampai Rita meninggalkannya, dia tidak punya orang yang bisa mengangkat dirinya ke banyak orang. Kenapa harus saat dia kenal Alex juga, barulah kehilangan Rita? Ney lalu mengusap air matanya itu dan terus membaca curahan Rita.


"Kalau kamu memang tidak bisa menerima, bilang saja tidak perlu memaksakan diri. Sampai kamu bilang yang jelek pada Alex soal aku, bagaimana bisa kamu tidak punya HATI?" Tanya Rita yang akhirnya meledak.


Alex tentu saja memperhatikannya dia duduk di samping Rita yang sedang menangis. Alex sudah tahu sedari awal kalau Ney memiliki niat buruk pada Rita, tapi karena tahu Rita sensitif mau tak mau Rita harus alami sendiri. Meskipun pasti rasanya sakit karena Rita memang menerima Ney apa adanya.


"Aku cuma..." kata Ney yang masih menangis karena bukan takut kehilangan teman, tapi dengan kenalnya Rita dan Alex, baginya cukup untuk mendongkrak popularitas di grupnya dan dia tidak mau kehilangan itu.


"Kamu sadar tidak sih? Dari dulu ya kamu hanya ada di sampingku saat aku sedang senang. Aku bisa apa? Aku merasakan itu juga, aku pikir 'Kenapa Ney hanya menerima aku saat punya uang? Saat aku sedang susah selalu tidak pernah ada?' Aku tidak akan meminjam uang sama kamu kok tapi kenapa sekarang kamu malah bilang kalau aku yang tidak menghargai keberadaan kamu?" Tanya Rita yang mengusap wajahnya lalu mencuci muka.


Ney tidak bisa berkata apapun lagi, jadi sebenarnya Rita memang peka hanya saja dia tidak pernah mengungkapkannya, membuat Ney berpikir kalau memang Rita tidak sadar. Seharusnya Ney mengerti kalau Rita memang bisa menerima dia kekurangannya namun, berkenaan dengan Alex yang berasal dari keluarga terpandang, malah membuat dirinya merasa lebih spesial. Dan membuat Rita harus mau berlutut di hadapannya kalau ingin bersama dengan Alex.


"Tapi tenang setelah tahu soal itu aku tidak akan pernah mengganggu kamu lagi. Aku akan mencari orang yang bisa menggantikan kamu nanti, toh sekarang pun sebenarnya tidak perlu aku sudah punya lebih dari cukup. Sudah punya teman yang lebih berkualitas daripada kehadiran kamu!" Kata Rita yang meluapkan segalanya.


Alex merasa kasihan juga pada Ney tapi juga kasihan kepada Rita. Ney kurang bisa menghargai apa yang selama ini Rita lakukan untuknya sedangkan Ney kurang bisa memahami Rita sejak lama. Alex tahu sekali Ney menyesal sudah memperlakukan Rita seenaknya menganggap Rita tidak punya teman, nyatanya sangat banyak. Inginnya Rita terus menerima Ney tapi dalam visinya dia tidak melihat mereka bersama dan menjalani jalan yang berbeda.


Di saat itu juga Ney merasa benar apa uang dikatakan Arnila kepadanya beberapa hari lalu, kalau dirinya tidak mungkin bisa kembali ke masa lalu. Saat Rita terus ada bersamanya dalam suka ataupun duka, Ney ingin sekali bisa memutar ulang waktu dan kali ini dia akan lebih menghargai Rita. Tapi dunia ini tidak memiliki mesin waktu seperti Doraemon.


Ney lalu mencari cara agar hubungan dengan Rita tidak kandas membuat dirinya kembali sendiri dan hanya berteman dekat dengan Arnila. Menurutnya meski Arnila kaya, itu tidak sebanding dengan keberadaan dari keluarga Alfarizki yang lebih parah. Ney berusaha mencari cara meski termasuk harus mengalah atau menekan egonya pada Rita.


"Aku waktu itu punya masalah berat juga Rita jadi tidak terlalu fokus sama kamu," kata Ney berusaha membuat Rita memakluminya.


"Halah, itu alasan kamu! Memangnya aku tidak tahu masalah krusial kamu soal apa? Pacar-pacar kamu yang dimana sudah kamu selingkuhi. Terserahlah! Aku sudah tidak mau peduli lagi apapun alasannya, memang kamu itu bukan teman yang baik!" Kata Rita sambil memakan keripik pedas.


Ney memukulkan kepalanya saat itu juga, dia lupa kalau sudah sering cerita soal masalah pacarnya kepada Rita. Bukan rahasia lagi kalau memang dia selalu membuat masalah.


"Tapi yang waktu itu beda," kata Ney tidak mau kalah.


"Buktinya lagi soal aku bekerja di Cafe, kamu lagi-lagi berbuat ulah heran aku ini. Apa sih masalah kamu sama aku, hah? Salah apa aku ini sama kamu sampai setega itu setiap kali aku ajak kamu. Apapun!" Kata Rita yang menurutnya memang salah mengajak Ney untuk bekerja di tempatnya.


"Kok kamu tahu sih?" Tanya Ney yang memang mengakui dia membuat keonaran hanya agar Rita dikeluarkan. Kemudian dia hapus.


"Jangan kamu pikir aku tidak tahu apa-apa ya. Malu aku sudah tawari kamu pekerjaan ujungnya super parah plus kamu hina aku juga ke semua orang di sana. Terlalu kamu itu, siapa disini yang keterlaluan sebenarnya," kata Rita tapi syukurnya rejeki memang tidak kemana, berkat kontraknya diperpanjang beberapa bulan Rita dapat rejeki lebih.


Rita memang sedang naik emosinya dia masih ingat bagaimana perlakuan Ney kepadanya padahal dia memang niat membantu Ney. Sampai Ney bisa mencari pekerjaan sendiri nantinya, yah sebagai pengalaman eh ternyata... salah!


Setelah itu berakhirnya chat mereka dengan Ney yang sudah kepalang memulai segalanya dan bingung bagaimana harus memperbaikinya. Pada akhirnya sih dia memutuskan untuk tidak memikirkannya, sambil berharap Rita mau terus memakluminya. Dia pasrah tapi bukan pasrah Rita yang menjauh tapi pasrah pada masalah yang dia buat sendiri.


Lalu Arnila diajak masuk lagi dalam grup, isi grup sama sekali tidak Ney atau Rita hapus. Yah tentu saja Arnila bisa membaca semuanya dan terkejut. Akhirnya Rita menyadari mengenai watak Ney seperti apa dan sesuai yang dia lihat, memang tidak ada kemungkinan Rita mau kembali.


"Aku paham. Sudahlah, tidak ada gunanya juga soal masalah Ney. Kamu lebih baik menjauh dari dia dan aku, Rita. Demi kebahagiaan kamu nanti," kata Arnila menjapri Rita.


"Parah sekali sih tuh teman kamu! Apa sih masalah dia sama aku? Sekarang juga begitu kalau dia malu berteman dengan aku yang begini, ya pergi saja," kata Rita.


"Iya iya aku juga sudah memperingati dia tapi kalau tidak ada perubahan memang kamunya yang harus jauh," kata Arnila menenangkan Rita.


"Nih ya aku yakin dia sama sekali tidak merasa bersalah. Tuh anak memang tidak punya rasa malu, Nil. Iya aku tidak peka tapi itu soal lelaki, soal dia aku tahu kok memang orangnya pilih-pilih. Tapi yang dia tidak kira, aku bisa kenal sama Alex. Makan tuh!" Kata Rita sambil menurunkan jempolnya.


"Hahahaha iya dia kena batunya kok, Rita makanya menyesal sekali saat ini. Kalau saja dari awal dia baik dan lebih terbuka, mungkin sekarang akan lebih dekat," kata Arnila menghela nafas.


"Alah! Mana mungkin. Kamu juga baca kan waktu dia bilang malu dengan kepribadian aku? Kepribadian aku baik-baik saja kok, justru dia yang error!" Kata Rita dengan sengit.


Bersambung ...