
Keesokan harinya Ney benar datang ke tempat Rita bekerja, tentu saja dia lihat Rita yang sibuk melayani beberapa pembeli. Lalu Bosnya mempersilakan Ney untuk duduk dan dia di wawancara langsung oleh pemilik Cafe. Cafe itu memang lumayan mewah dengan bangunan berwarna cokelat gelap dan terang, berisikan furniture koboi. Para pegawai termasuk Rita memakai seragam yang seperti koboi namun tidak mempersulit mereka bergerak. Pegawai yang berjilbab dengan yang tidak sudah tentu berbeda.
Yang berjilbab harus menggunakan topi hiasan sedangkan yang tak berjilbab menggunakan jepit rambut. Suasananya memang keren dan isi meja dan kursi sangat banyak. Kantor Bos beserta posisi teratas berada di belakang Cafe, jadi mereka dengan mudah mengawasi para pegawai dari belakang. Ney membayangkan pasti bayarannya sangat besar dan dia senang bisa mendapatkan posisi yang lebih tinggi dari sekedar pelayan.
Sekitar 1 jam saja wawancara berlangsung nampak Bos Cafe agak kurang suka dengan kesan yang dibawa dari Ney tapi karena dia juga sedang butuh asisten, akhirnya diterima lah Ney di hari itu juga dan langsung bekerja. Tentu saja Ney diawasi selama seminggu oleh pemilik dan wakilnya, membuat Ney merasa harus membuktikan keseriusannya dalam bekerja dengan semua kemampuan yang dia miliki. Tentu saja Ney juga ada kemungkinan kecil bertemu dengan Rita karena Rita sibuk di bagian depan meja. Mengantarkan, membereskan meja makanan dan kadang diajak mengobrol oleh pembeli juga.
"Kak, dia baru ya?" Tunjuk salah satu pembeli di Cafe itu ke arah Rita.
"Oh iya mbak. Kenapa?" Tanya pegawai sana.
"Kita suka. Ramah banget, dia juga pernah menyarankan saya untuk memilih beberapa Tupperware waktu saya kebingungan!" Katanya sambil tersenyum.
"Oh, begitu iya dia memang suka memberi saran sih. Ada yang mau dipesan?" Tanyanya dengan tersenyum.
"Oh iya!" Pelanggan itu lalu membuka menu dan memesan.
Beberapa pelanggan memang menyukai pada awal melihat Rita karena meski wajahnya jutek ternyata menyenangkan orangnya. Bahkan ada juga yang sampai memberikan banyak tip untuk Cafe yang dibagi bonus untuk semua karyawan. Makanya semuanya bersemangat bekerja meski memang sangat melelahkan. Ney bekerja dengan giat juga karena diawasi oleh pemilik Cafe lalu menilai cara kerjanya. Lalu jam menunjukkan 3 sore saat itu, saatnya istirahat. Cafe pun ditutup sementara waktu kemudian dilanjutkan Ney diperkenalkan kepada pegawai yang ada di Cafe tersebut sama seperti Rita waktu itu.
"Nah, saya mau memperkenalkan kalian asisten saya yang baru selain Aura ya. Namanya Ney Grizelle, dia bekerja di belakang bersama saya dan Aura ya. Jam 3 kita biasanya waktu istirahat jadi bisa dipastikan dari Jam 8 sampai jam 3 kita bekerja tapi tentu saja kita diberi waktu bebas kalau haus atau lapar, silakan ke belakang bergantian. Saat istirahat, Cafe tutup sampai setengah 4an untuk makan kamu bisa beli diluar atau yang ada disini tapi tertentu ya. Aura! Kamu nanti jelaskan ke dia makanan dan minuman apa saja yang bisa dimakan disini," kata Bos menunjuk pada Aura wakilnya.
Ney tentu saja senang apalagi makan sore bisa didapatkan gratis dari cafe ini. Setelah itu Aura lalu memperkenalkan dirinya dan menunjukkan apa saja yang ada di cafe tersebut. Ney bertemu Rita tapi saat Rita senyum kepadanya, Ney mengacuhkannya sama sekali tidak melihat atau membalasnya dan sebagian karyawan melihatnya.
"Sombong sekali. Kami senyum sama sekali tidak dibalas. Dia tahu kan kerja disini hanya 3 bulan?" Tanya pegawai itu ke yang lainnya.
"Pasti tahulah masa sih Bos tidak beri tahu," kata yang lainnya.
Rita mengangguk dia heran kenapa Ney seperti itu? Dia juga tidak mengucapkan terima kasih sama sekali pada Rita yang membantunya bisa diterima di Cafe tersebut. Rita tidak berharap dia mengucapkannya sih toh sudah tahu kalau Ney memang kurang dalam tata Krama. Sejak dulu. Karena tidak mau memperpanjang, Rita memutuskan untuk menuju markas bawah begitu juga yang lainnya.
"Huaaa capeee!" Kata Rita yang langsung rebahan.
"Iya ya hari ini banyak banget yang datang, pinggangku sampai sakit,"
Saat mau merentangkan kakinya, Rita merasa kaki kanannya sakit dan perih lalu dia membuka sepatunya dan terlihat telapak kakinya lecet, dia bergerak kesana kemari membawakan piring kotor ke dapur lalu membantu karyawan yang lain.
"Rita, kaki kamu berdarah!" Teriak Sona yang menangkap keanehan Rita dia lalu mengambil kotak P3K.
"Tunggu tunggu," kata Rita yang cemas melihat Sona mengambil Betadine. Pasti perih banget!
"Harus dikasih ini, kalau tidak nanti bisa parah. Kamu ada kuliah kan nanti sore," kata Sona yang mulai meneteskan.
Rita mengiris kesakitan karena perihnya luar biasa. Sona lumayan agak sadis orangnya karena dia tipe Logika jadi agak dingin kalau ada yang kesakitan tapi baik sekali. "Owwowowow!!" Kata Rita menahan rasa sakit.
Yang lain ikut meringis melihatnya dan mengibaskan benda - benda apa saja untuk mengurangi rasa perih kaki Rita. Hampir menangis juga. "Perih banget? Tapi kamu tidak menangis, Ri,"
"Lebih sakit dikecewakan oleh orang yang sudah lama dipercaya sejak dulu, Son. Aduuuh," kata Rita yang kemudian meniup - niup.
"Ya ampun, Rita. Kamu terlalu banyak mondar mandir sih padahal kita kan bisa bergantian. Sini aku yang kasih perban supaya obatnya tidak kemana - mana," kata Rei yang bermata lebih sipit dari Rita membantu membungkus kan kaki Rita.
"Tidak usaaah. Kakiku bau," kata Rita menolak tidak enak juga.
"Nih aku semprotkan air ini supaya tak bau. Tenang saja, aku sudah biasa kok," kata Rei yang sudah selesai membungkus dengan cepat.
Rita hanya menurut saja sambil menahan perihnya lecet itu saat Rei membungkusnya. Kemudian Mbak Aura dan Ney datang melihat beberapa karyawan sedang berkerumun.
"Eh, sedang apa?" Tanya Mbak Aura dengan suara khas jawanya.
"Eh, ini mbak kakinya Rita lecet - lecet," kata pegawai lain.
Aura histeris dia paling tidak tahan melihat orang yang terluka bawaannya pasti saja heboh. Ney juga kaget melihat sikap Aura tersebut, baginya dia lebay! "Aduuh Rita ke dokter ya, aku yang telepon!"
"EEH JANGAN!!!" Seru mereka semua mengagetkan Aura.
"Kenapa? Nanti infeksi!" Kata Aura yang cemas. Ney yang melihatnya hanya menunjukkan wajah males.
"Sudah aman kok," kata Rita sambil menunjukkan kakinya yang selesai diperban.
"Tapi kenapa wajah kamu masih sakit?" Tanya Aura.
"Hahaha kamu ini bisa saja. Yo wess kalau begitu," kata Aura menyimpan ponselnya sambil tertawa juga. Ney tentu saja mendengar dia hanya berdiam diri yang dimaksud Rita tentu saja soal dirinya. "Oh iya Ney, ini adalah markas kita dimana kadang kita diskusi soal Cafe ya disini. Di sebelah sini kamu bisa rebahan kalau sedang waktunya istirahat, untuk makan sebelah sini, ini muat untuk 15 orang," jelasnya.
"Hah!? Semuanya!? Asisten juga semuanya disini?" Tanya Ney yang kaget, tampaknya dia enggan bisa bergabung dengan yang lain.
"Iyalah semuanya masuk kok. Kita pernah kan ya rapat disini semua," kata Aura yang dibalas anggukkan semua orang.
"Tapi kan mbak, posisi kita yang paling tinggi masa harus makan bareng sama karyawan juga?" Tanya Ney yang nadanya kurang enak didengar.
"Memangnya masalah, Ney? Kalau tidak suka ya kamu bisa kok duduk di manaaaa begitu asalkan jangan di Cafe," jawab A dengan sebal.
"Ya memang begitu. Memangnya kamu mau bagaimana?" Tanya Aura.
"Begini saja deh ya mbak, aku kasih saran saja. Supaya kita semua tahu posisi dan jabatan kita masing - masing, sebelah sini yang lumayan besar ya untuk karyawan semuanya, lalu yang tengah untuk Bos, dan kita sebagai asistennya. Masa posisi kita yang tinggi harus makan dengan pegawai sih?" Tanya Ney sambil menunjukkan ruang mana saja yang enak.
"Aduh untuk kita berempat itu terlalu ruangan ini terlalu besar, Ney. Makanya semuanya disatukan supaya ruangannya tampak lebih besar apalagi karyawan cafe ini lumayan banyak. Tapi nanti deh daku kasih sarannya ke bos. Sekarang kamu bergabung saja ya dengan yang lainnya. Saya mau ke atas," kata Aura sambil mengedipkan mata ke semuanya.
Ney dengan cepat mengikuti Aura dari belakang padahal ada Rita disana, heran banget! Semuanya sudah tentu tidak ada yang menyukai Ney apa lagi baru juga bekerja sudah mengatur - atur.
"Untung hanya 3 bulan ya," kata Rei yang mendelik pada Ney.
"Dia kan teman kamu, Rita kok seperti tidak kenal sih sama kamu?" Tanya yang lainnya.
"Aku juga heran kenapa dia jadi begitu? Biarlah dia kan sekarang jadi asisten Bos mungkin malu kenal temannya yang jadi pegawai bawah," kata Rita yang kemudian mengambil tempat air.
"Tapi jelek lah masa dia keterima disini terus kamu dianggap bukan teman dia. Berarti dia cuma cari posisi tinggi buat merendahkan temannya sendiri,"
Rita hanya terdiam, dia sama sekali tidak tahu kalau Ney akan menjadi seperti itu, dia hanya membantu sebisanya.
"Saya ikut Mbak saja deh! Atau saya makan di kantor saja," kata Ney.
"Kantor itu bukan tempat untuk makan sudah! Kamu kan pegawai baru ya taati peraturan kami ya." Kata Aura lalu pergi ke atas meninggalkan Ney. Dia berdiri lalu Rita lewat tanpa menyapanya begitu juga dengan yang lain. Ney melihat beberapa karyawan menggantungkan tangannya pada bahu Rita dan mereka berjalan bersama - sama. Akhirnya Ney kembali ke kantornya sendiri.
Di atas pun Ney tidak pernah melemparkan senyuman hanya kepada Rita, Rita merasa tidak enak hati apa ini Ney yang sebenarnya? Tampaknya dia harus bertanya pada Arnila tapi nanti saja. Rita dan pegawai lainnya memesan makanan yang boleh mereka pesan dan duduk di tempat makan belakang bersama yang lainnya. Ney melihat Rita memesan katsu yang porsinya lumayan besar.
"Hei kamu, bukannya kalau pesan selain di menu karyawan artinya harus bayar?" Tanya Ney mencolek Rita. Rita yang mendengar dirinya dengan sebutan 'Kamu', tampak aneh lalu tidak menjawab pertanyaan Ney.
"Memang bayar sudah terbiasa Rita pasti bayar untuk katsu saja. Dia penggemar Katsu sih," kata yang lain menjawab kan.
Chef yang membuatnya memang sengaja membuatkan yang agak besar lalu diberi parutan keju dan mayones dua rasa. Dia sangat senang melihat cara makannya Rita yang semangat memakan masakan buatannya. Rita juga sangat menyukai mayonaise keju dan yang original makanya chef membuat mix mayonya.
"Yummyyy!! Terima kasih Chef!" Seru Rita yang kemudian duduk dengan karyawan lain. Yang lainnya tampak menunggu mereka untuk mencicipi tapi sedikit saja.
"Iya, sama - sama!" Kata Chefnya yang senang melihat Rita tertawa.
Ney juga makan bareng meskipun agak menjaga jarak dengan Rita. Dia memilik steak ayam katena yang sapi tidak dianjurkan karena untuk keperluan dagang saja.
"Eh, mbak Ney gabung sini. Daripada makan disana sendirian!" Ajak Bos yang juga membawa nampan.
Mau tak mau dia harus menurut dan bergabung anehnya dia duduk sejajar dengan Rita yang makan dengan lahap Katsunya. Bunyi Katsunya yang renyah dan penuh balutan mayo membuat Ney mengiler tapi dia sadar dia harus jaga wibawanya di hadapan Rita. Apalagi Rita dan dia jabatannya berbeda jauh. Makan pun Ney berbeda dengan yang lainnya.
"Nah yang masih baru memang harus bergabung dengan yang sudah senior. Rita dan Ney ini baru ya jadi kalau kalian butuh apa - apa tanyakan sama dengan mereka," kata Bosnya.
"Siap, Bos!" Kata Rita dengan ceria sambil makan.
Ney memperhatikan Rita dengan sikap sok. "Kamu tidak sopan ya bicara begitu sama pemilik Cafe. Tidak diajari tata krama ya?"
Mereka semua memandangi Ney dengan keheranan. Tapi Bos hanya tertawa keras mendengar apa yang dikatakan oleh Ney.
"Saya yang bilang pada semuanya tidak perlu terlalu formal. Biar enak, anggap saja semua rata ya hanya sopan kalau kalian ada ide kreatif dan bisa katakan kepada saya atau Aura. Tidak apa - apa saya lebih suka orang seperti Rita dan yang lain juga begitu. Daripada yang pura - pura nampak akrab. Hari ini keluar lagi, Rita?" Tanya Bos sambil mencelupkan cemilannya.
"Iya Bos. Seperti biasanya." Kata Rita. Bosnya mengangguk tahu kalau hari ini pun kuliahnya sore sampai jam 9 malam. Jadi tidak heran kalau Rita selalu memesan makanan yang porsinya banyak.
BERSAMBUNG ...