
Riko yang baru saja merebahkan diri sembari mengecek ponselnya merasa terkejut, saat melihat video yang dikirim oleh Fras.
Tanpa pamit membangunkan Gisella yang sedang tidur, Riko langsung meninggalkan ruang rawat Bara. Dia tidak sabar untuk menunggu hari esok.
Saat ini juga Riko akan ke rumah Fras untuk bertemu anak dan mantan istrinya. Riko penasaran sebenarnya apa yang terjadi di dalam rekaman itu karena Fras tidak menjelaskan secara detail.
Riko melajukan mobilnya dengan kencang, sunyinya malam membuat kenderaannya melaju tanpa hambatan.
Sekitar empat puluh menit Riko pun tiba di depan rumah Fras. Rumah itu masih ramai dengan tetangga yang terbangun dan berduyun-duyun datang ingin mengetahui kejadian di sana.
Riko menerobos masuk, dan saat melihat Mirna, Arga tidak terluka diapun merasa lega. Fras yang melihat kedatangan Riko langsung menghampiri, lalu mengajaknya duduk.
Mirna tidak berani menatap Riko sementara Arga memberi salam kepada Papanya.
Pelayan pun menyajikan minuman sesuai perintah Fras dan para tetangga satu persatu juga telah meninggalkan tempat tersebut.
Riko pun bertanya kepada Fras tentang video yang dia share tadi dan Fras menjelaskan jika menurut pengakuan pelaku kepada polisi semua itu adalah perbuatan Gisella. Gisella yang ingin menyingkirkan Mirna dan Arga.
Tangan Riko mengepal, dia tidak menyangka jika Gisella bisa setega itu terhadap keluarganya.
Padahal selama ini Riko mulai menyayanginya dan juga telah menganggap anak-anak Gisella seperti putranya sendiri.
Riko meraup wajahnya dengan kasar, lalu dia meminta maaf kepada Mirna dan juga Arga yang telah lalai hingga membuat mereka menderita.
Saat Riko berbicara dengan Mirna, Fras meninggalkan mereka sebentar, dia ingin memberikan waktu untuk Riko menyelesaikan masa lalunya.
Riko menatap Mirna, lalu diapun mengatupkan kedua tangan di depan dadanya dan berkata, "Mir, demi Allah aku tidak bermaksud meninggalkan kalian. Aku mencintaimu dan Arga sampai kapanpun."
"Takdir telah menentukan jalannya, kamu sekarang bukan milikku lagi. Aku ikhlas Mir, maaf jika selama ini kalian hidup menderita gara-gara aku."
"Aku berjanji, disisa hidupku ini akan menebus waktu yang hilang dengan membahagiakan putra kita. Jadi aku mohon Mir, berilah aku kesempatan untuk bersamanya."
Mata Mirna berkaca-kaca, walau bagaimanapun cinta Riko masih ada di relung hatinya terdalam. Riko cinta pertama Mirna dan itu tidak mungkin bisa dia pungkiri.
"Jangan menangis Mir, kamu ibu hebat, kamu berhasil menjadikan Arga menjadi putra yang hebat. Aku berterima kasih kepadamu dan juga Fras."
"Bagaimana Mir, bolehkah Arga tinggal bersamaku?" tanya Riko sembari merangkul Arga dan menarik ke dalam pelukannya.
Air mata Mirna jatuh dan sambil mengusap air mata itu, diapun berkata, "Aku izinkan kamu membawa Arga tapi dengan syarat, jika sampai Gisella dan anak-anaknya menyakiti Arga lagi, aku tidak akan pernah memaafkanmu dan tidak akan membiarkan kamu menemui Arga lagi."
"Bagaimana Mas, apa kamu sanggup?"
"Ya, aku sanggup. Aku akan melindungi Arga dari siapapun yang ingin mencelakai dia termasuk Gisella dan anak-anaknya."
"Dan bukan itu saja, aku telah mengalihkan perusahaan serta hartaku yang lain untuk putra kita. Namun karena Rendi dan Bara sudah seperti putra ku sendiri aku ingin memberikan sedikit bagian untuk mereka itupun jika kamu dan Arga tidak keberatan."
"Bagaimana Mir dan kamu Nak?"
"Baiklah aku tidak keberatan dan kamu bagaimana Nak?" tanya Mirna kepada Arga.
"Arga juga tidak keberatan Ma, meski Arga saat ini masih membenci mereka. Arga belum bisa melupakan perlakuan buruk mereka terhadap kita."
"Baiklah Nak, Papa paham. Besok pengacara akan kesini untuk membawa surat surat yang harus Arga tandatangani. Dan lusa Papa akan menjemput kamu dan kita akan tinggal di rumah yang telah papa beli buatmu."
"Besok Papa akan bicarakan hal ini kepada Bara dan Rendi, mereka sudah dewasa, papa harap mereka bisa memahami semuanya."
Arga pun membawa Riko menemui Fras yang saat ini sedang berada di teras dan saat melihat Riko datang Fras pun bangkit.
Riko memeluk Fras, "Terimakasih sahabat, kau telah membahagiakan Mirna dan Arga."
"Aku berhutang banyak terhadapmu. Semoga kebahagiaan terus menyertai rumah tangga kalian. Maaf, jika aku egois meminta Arga untuk tinggal bersama ku. Aku ingin menebus kesalahan atas ketidakberdayaan ku."
"Sama-sama Riko, aku juga minta maaf. Aku janji akan membahagiakan Mirna hingga nafas terakhir ku. Dan Arga juga putraku, aku akan selalu mendukung apapun untuk kebaikannya. Dia berhak tinggal bersama mu dan rumah ini juga akan tetap terbuka untuk Arga setiap saat."
Setelah melepas pelukannya, Fras pun memeluk Arga, lalu berkata, "Kamu putra yang hebat Nak, seperti Papa Riko. Papa yakin di manapun kamu tinggal akan membawa kebahagiaan dan kebaikan. Jangan lupakan kami ya, kami sangat menyayangimu."
"Arga tidak akan pernah melupakan kalian Pa. Arga sayang Papa Fras, Arga sayang mama dan sayang dengan calon adik-adik."
Riko lega telah menyelesaikan masalah dari masa lalunya, kini dia yakin akan membuka lembaran hidup baru bersama Arga meski tanpa seorang istri.
Setelah mengacak rambut Arga, Riko pun pamit, dia akan kembali ke rumah sakit untuk menuntaskan masalahnya dengan Gisella serta Rendi dan Bara.
Riko sangat kecewa dengan apa yang Gisella lakukan dan sesuai janjinya dulu Riko akan menceraikan Gisella dan memperkenalkan Arga di hadapan keluarga besarnya meski tanpa Mirna.
Sesampainya di rumah sakit Riko langsung menarik Gisella keluar ruangan hingga membuat Gisella yang baru terbangun merasa terkejut.
"Ada apa Pa? kenapa Papa kasar sekali. Memangnya Mama salah apa?"
"Kamu masih nanya salahmu apa? Kamu masih ingat janjiku dulu? Mulai saat ini aku Riko menceraikan kamu!" teriak Riko dengan lantang.
Bara yang terbangun mendengar hal itu dan dia turun serta mengintip pertengkaran mama papanya dari balik pintu.
"Pa! kenapa Papa tega melakukan hal ini, selama ini kami yang telah merawat Papa, jadi ini balasan Papa terhadap Mama!" teriak Gisella yang tak kalah lantang sambil menangis.
"Aku berterima kasih atas semua itu, tapi kau telah melanggar semuanya. Dulu kau siksa anak dan istriku dan sekarang kau ingin menyingkirkan mereka. Aku pernah mengatakan bukan, jika sampai kau usik kedua orang tercinta ku maka saat itu juga aku tidak punya hubungan apapun dengan mu."
"Masalah Rendi dan Bara, mereka sudah besar, sudah saatnya mereka harus tahu siapa Papa kandung mereka sebenarnya."
"Aku mencintai mereka seperti putraku sendiri dan aku tidak akan lupa itu. Untuk mereka aku sudah siapkan masing-masing satu perusahaan, tinggal mereka mengembangkan untuk masa depannya masing-masing."
"Dan untuk mu, kamu telah mengambil hak Mirna dan Arga sejak dulu, jadi maaf aku tidak bisa memberimu apa-apa lagi."
Gisella menangis histeris, kini hidupnya makin hancur. Ditengah cobaan melanda dia malah menjadi janda.
"Mirna! Arga! Aku benci kalian!" teriak Gisella hingga membuat para perawat penjaga malam keluar menghampiri mereka.
Bara menangis dan dia terduduk di lantai saat mengetahui kenyataan jika dirinya bukan anak dari Riko.
Kini makin hancur hati Bara, satu satunya orang yang mencintai dan dicintainya ternyata tidak memiliki ikatan darah.
Dengan terseok-seok Bara meninggalkan ruangannya tanpa Riko dan Gisella ketahui. Bara kecewa dengan kenyataan hidupnya.
Sementara di rumah, Rendi mengalami sakit perut lagi dan kali ini dia tidak sanggup menahannya hingga pingsan.
Pembantu mencoba menghubungi Riko dan Gisella tapi tidak tersambung. Akhirnya mereka menelepon dokter keluarga dan dokterlah yang membawa Rendi ke rumah sakit.
Bersambung.....