
“Baiklah, besok saya berencana menginap di Hotel yang tidak jauh dari sini, kamu bisa menemui saya di sana ,? Ucap Lucki
“Baiklah kalau begitu, hari ini saya akan pulang untuk mengambil Kotak itu dan Percayalah paman aku tidak berbohong kalau aku adalah Putri Pramana Dirgantara,” ujar Kenzia sambil menatap le arah Lucki.
Sebenarnya Lucki tidak melihat kebohongan di mata Kenzia akan tetapi dia juga harus waspada karena wajah bisa menipunya, Lucki tidak ingin kalau Kunci itu jatuh kepada orang jahat, dia harus ekstra waspada agar janjinya kepada sahabatnya itu bisa di penuhinya.
Kenzia tidak membuang banyak waktu lagi , hari itu juga dia kembali ke Jakarta untuk mengambil kotak Tua itu. Kenzia pulang Dengan mengendarai Motornya.
Di Perusahaan Dirgantara...
Arjuna sedang mengamuk karena anak buahnya gagal menemukan Kenzia, sudah seminggu Kenzia menghilang tanpa kabar berita, Arjuna sangat galau dia takut kalau terjadi apa-apa dengan kekasihnya itu.
“Kalian semuanya Bodoh, mencari satu orang saja kalian tidak becus, pergi cari lagi dia sampai ketemu, kalau kalian tidak menemukannya kalian tahu sendiri akibatnya..,” Ancam Arjuna
Arjuna sangat Frustasi, baru saja jadian dia sudah di tinggalkan oleh Kenzia, bermacam-macam dugaan bergentayangan di kepalanya.
“Apa kamu berkhianat sayang, kenapa kamu Melakukan ini sama aku Kenzia, aku tulus mencintaimu sayang, sepertinya aku harus turun tangan sendiri,”
Arjuna mulai menyusuri Kota Jakarta untuk mencari kekasihnya itu, sudah beberapa tempat dia datangi akan tetapi dia tidak menemukan Kenzia di sana, akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke Kontrakannya Kenzia, dia ingin menanyakan kepada tetangganya Kenzia ke mana dia pergi, mungkin Kenzia pernah mengatakan sesuatu pada mereka.
Arjuna kembali melajukan mobilnya menuju ke Kontrakannya Kenzia.
Di perjalanan menuju ke sana Arjuna melihat kalau Kenzia juga melintas di jalanan itu dan mengarah ke Kontrakannya juga, Arjuna segera mengejarnya dan di saat mereka sampai di depan Gang itu Arjuna turun dan langsung memeluk Kenzia dari belakang.
“Sayang...kamu ke mana saja, kenapa kamu tidak menghubungi aku dalam seminggu ini,” tanya Arjuna
“Loh kan aku sudah bilang sama kamu kalau aku pulang kampung, kenapa kamu mesti cemas sih sayang ,” ucap Kenzia menetralkan kekagetannya.
“Iya aku tahu, tapi kenapa Ponsel kamu tidak aktif saat aku telfon, aku kan jadi Khawatir,”
“Oh iya aku lupa bilang sama kamu kalau kampung halamanku itu berada di balik Bukit, jadi di sana tidak ada Jaringan selulernya, maaf ya sayang aku sudah membuat kamu khawatir,” ujar Kenzia memegang kedua pipi Arjuna.
“Ya sudah sayang, yang penting kamu sudah di sini sekarang, aku bahagia sekali karena kamu sudah pulang, jadi kita sudah bisa melihat Rumah yang sudah aku belikan buat kamu ,”
Aduh bagaimana ini, waktunya hanya tinggal besok lagi sebelum Paman Lucki pergi, kalau aku ikut dengan Arjuna pasti tidak akan keburu aku kembali ke Bogor,, batin Kenzia.
“Bagaimana sayang ?” tanya Arjuna
“Baiklah, kita pergi sekarang saja, biar aku melihatnya dulu nanti soal barang-barang aku bisa menyusul,” ucap Ken
“Soal barang-barang kamu tidak usah di bawa sayang , aku sudah menyediakan semua kebutuhan kamu di sana, kamu tinggal ikut aku saja ,” ujar Arjuna
“Tapi aku boleh masuk sebentar enggak, ada yang mau aku ambil, lagian dari tadi aku juga kebelet pengen ke Toilet dulu,”
Kenzia mulai mencari alasan untuk bisa masuk ke Kontrakannya lagi untuk mengambil kotak tua itu , dia hanya memberi alasan yang tepat saja agar Arjuna tidak menaruh curiga padanya.
“Ya sudah kalau begitu kamu masuk sana, aku tunggu kamu di sini saja ,” ucap Arjuna yang memang risih masuk ke dalam area kontrakannya Ken.
Kenzia segera berjalan menuju ke Kontrakannya, dia mengambil tas kecilnya dan memasukkannya ke dalam tasnya lalu segera menuju ke tempat Arjuna.
Mereka pun akhirnya memulai perjalanan menuju ke Rumah baru yang di beli oleh Arjuna, Kini Kenzia sudah berdiri di depan sebuah rumah yang cukup besar, dia tidak menyangka kalau Arjuna membelikan rumah sebesar itu untuknya.
“Mas, apa ini tidak berlebihan, ini terlalu besar buat aku mas,” ujar Kenzia menatap ke arah Arjuna
“Sayang..ini belum apa-apa loh, aku tidak mau kalau kamu tinggal di Kontrakan yang sangat kecil dan terlihat Kumuh seperti tadi, aku mau kamu menerimanya ,” ujar Arjuna
“Tapi Mas...
“Tidak ada tapi-tapian Sayang, kamu pantas mendapatkan ini semua sayang dan kamu cocok tinggal di rumah ini dari pada di Kontrakan kecil itu,” ujar Arjuna
Kamu benar Arjuna, seharusnya aku sekarang tinggal di Mansion yang kalian tempati bersama Ayah dan Ibuku, tapi Papa kamu merebut semuanya dari aku termasuk Nyawa Ayah dan Ibuku, dan sekarang aku akan mengambil semuanya secara pelan-pelan dari kalian, aku tidak akan meninggalkan sepeser pun Harta buat kalian dan aku akan membuat kalian merasakan apa yang aku rasakan selama ini,, Batin Kenzia.
“Sayang kamu suka kan Rumah ini ?” tanya Arjuna
“Eh.. Aku suka kok,” ucap Kenzia
“Syukurlah, kalau kamu tidak suka Aku bisa membelikan rumah yang lain buat kamu, Ayo sayang kita masuk,” ajak Arjuna
Kenzia dan Arjuna mulai memasuki Rumah besar itu, Kenzia merasa takjub dengan pemandangan di dalam rumah tersebut, Furniturenya sangat sesuai dengan selera Kenzia, tidak terlalu mencolok tapi kelihatan mewah.
“Apa kamu suka dekornya sayang ?” tanya Arjuna
“Iya.. kamu kok tahu sih selera aku mas ?”
“Aku hanya menebaknya saja dan kalau kamu suka aku juga senang ,”
“Makasih ya Mas, aku tidak tahu harus berkata apa lagi untuk berterima kasih sama kamu,” ujar Kenzia pura-pura senang.
“Kamu cukup selalu berada di sisiku saja sayang, aku akan memberikan apa pun yang kamu mau,” ujar Arjuna berharap Kenzia memeluknya, tapi harapannya tinggal harapan saja, Kenzia tidak bergeming, dia terus saja melihat ke seluruh ruangan sambil sesekali memegang pajangan yang tertata rapi di sana.
Arjuna hendak memeluk Kenzia dari belakang namun suara ponselnya menghentikan niatnya, dia segera melihat siapa yang menelfonnya.
Arjuna kaget melihat kalau Papanya yang menelfonnya, dia menjauhi Kenzia lalu mengangkatnya.
“Halo Pa, ada apa Papa Nelfon aku ?” tanya Arjuna
“Di mana kamu sekarang, cepat pulang ke Mansion,” suruh Bramantyo dengan nada sedikit tinggi, Arjuna yakin kalau Papanya itu sedang marah, dia lalu kembali ke Tempat Kenzia tadi.
“Sayang sepertinya aku tidak bisa menemani kamu malam ini, Papa tadi menyuruhku pulang ke Mansion,” ujar Arjuna, kenzia sangat senang mendengarnya. Itu yang dia inginkan, jadi dia bisa pergi ke Bogor malam ini untuk bertemu dengan Lucki.
“Enggak apa-apa kok sayang, aku mengerti kok. Sudah sana pergi nanti Papa kamu marah lagi ,” ujar Kenzia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...