DENDAM SANG PEWARIS

DENDAM SANG PEWARIS
BAB 45. MENGATUR PERTEMUAN


"Bagaimana Ma, apakah Papa pergi sendirian saja?"


"Pa, sebaiknya kita kesana saat Rendi sudah pulih. Kalau Papa mau minta maaf via telepon saja atau langsung ke perusahaan Fras. Jika ke warung, paling istrinya yang di sana, ngga etis 'kan?"


"Iya Mama benar. Ya udah deh, besok aku ke perusahaan saja. Sekaligus minta maaf tentang Rendi. Dan mau minta tolong agar Fras jangan memperberat tuntutan. Kasihan Rendi, jika pun sembuh harus tetap kembali ke terali besi."


"Iya Pa. Mama serahkan semua kepada Papa, mama mau yang terbaik untuk Rendi."


"Ma, papa mau pulang dulu lihat Bara, payah anak satu itu jika kita lengah. Kalau hanya minum-minuman keras masih mending, yang Papa takutkan dia stres dan beralih ke obat terlarang."


"Aduh, jangan sampai Pa, bisa hancur masa depan Bara."


"Iya, makanya mulai sekarang Papa akan pantau Bara. Bila perlu kita kirim dia ke asrama."


"Jangan Pa, nanti mama kesepian. Siapa yang akan temani Mama jika Papa ke luar kota."


"Iya deh Ma. Papa pulang dulu ya. Jika ada apa-apa dengan Rendi, cepat kabari Papa."


Setelah pamit, Riko pun bergegas menuju parkiran, tapi langkahnya terhenti saat ponselnya berdering.


Riko melihat siapa yang memanggil dan ternyata tertera nama Fras di sana.


"Hallo Fras, kebetulan kamu telepon. Sebenarnya sejak tadi aku ingin menghubungimu dan aku ingin minta maaf mewakili Bara. Karena kelakuan putraku acaramu jadi terganggu dan nyaris berantakan. Kamu dan keluargamu pasti malu."


"Sudahlah Riko, eh...om Riko, aku tidak akan memperpanjag masalah. Cuma aku mohon jangan sampai Bara menginjakkan kakinya lagi di warung makanan istri saya. Dan jika sampai Bara menyakiti istri serta putra saya, saya tidak akan segan untuk menindaknya!"


"Iya Fras, sekali lagi aku minta maaf. Aku janji akan lebih memantau tindak tanduk Bara."


"Oh ya Fras, besok kamu ada waktu? Aku ingin membawa Bara untuk langsung meminta maaf serta aku ingin membahas masalah Rendi."


"Baiklah, datang saja ke perusahaan, lebih enak kita ngobrol di sana," pinta Fras yang tidak ingin Riko datang ke warung kuliner. Dia takut Rendi melihat Mirna dan berusaha mengambil hatinya kembali.


"Baiklah, aku tunggu ya."


Fras pun menutup panggilan, lalu dia menatap Mirna yang sejak tadi ada di dekatnya.


"Maaf ya Sayang, Riko ingin bertemu dan aku mengarahkannya ke perusahaan. Aku belum siap jika dia sampai melihatmu. Nggak apa-apa kan Sayang?"


"Nggak apa-apa Mas. Terbaik menurutmu, Inshaallah terbaik juga untuk aku dan Arga."


"Tapi, Arga sebaiknya kita beritahu jika papanya masih hidup. Dia berhak mendapatkan kasih sayang dari Riko."


"Jangan dulu Mas, aku takut jika sampai Gisella dan anak-anaknya tahu, Arga bisa celaka. Perempuan itu tidak akan pernah mengizinkan Arga bertemu Papanya."


"Ya sudah, jika memang takdir menentukan kalian harus bertemu, pasti suatu saat akan bertemu dan siapapun tidak akan bisa menghalangi termasuk aku."


"Ayo kita kesana, Mas mau bantu Artha dan Dirta."


"Oh ya Sayang, bagaimana mengenai hubungan Arga dan Cinta, apa kamu setuju?"


"Aku setuju saja Mas, asal keduanya sama-sama suka dan bisa saling menjaga. Cinta tidak bisa dipaksakan, jadi biarkan saja, tumbuh seiring berjalannya waktu dan Arga siap untuk menikah."


Fras senang, istrinya mampu berfikir jernih dalam menyikapi masalah, meski hal itu pasti berat untuknya.


Mereka pun membantu Artha dan Dirta melayani tamu yang baru hadir.


Senyum mengembang di wajah Mirna saat melihat antusias orang-orang dalam menikmati menu makanan di sana.


Bersambung....