DENDAM SANG PEWARIS

DENDAM SANG PEWARIS
BAB 40. MEMBUAT KERUSUHAN


Riko menenangkan Gisella, dia tidak mau Rendi sampai melihat sisi rapuh sang mama hingga bisa membuat semangatnya ngedrop.


"Ayo Ma kita keluar dulu, dokter akan melakukan pemeriksaan."


Gisella pun menurut dan mereka pun menunggu di luar ruangan.


Orang-orang kepercayaan Gisella pun mulai bergerak menuju lokasi, mereka mencari info dari beberapa sumber tentang Mirna dan usaha barunya.


Setelah mendapatkan info, mereka pun melaporkan semuanya kepada Gisella.


Gisella tidak berani mengangkat panggilan tersebut karena Riko ada di sampingnya. Dia merijek panggilan, lalu menonaktifkan ponsel.


Saat Riko ingin ke kantin membeli kopi, itulah kesempatan bagi Gisella untuk menelepon balik anak buahnya.


"Hallo, cepat katakan ada apa tadi menelepon ku! Aku nggak bisa berlama-lama, bahaya! saat ini suamiku sedang ada di sini!"


Anak buah Gisella pun menjelaskan temuan mereka hingga membuat Gisella geram. Kemudian Gisella pun memerintahkan mereka agar menghancurkan tempat itu, malam ini juga, tanpa meninggalkan jejak.


Setelah menutup ponselnya, Gishella pun duduk manis menunggu Riko kembali.


Di warung kuliner Mirna, Arga, Artha dan Dirta sedang duduk menikmati suasana malam sambil minum teh dan berkelakar bersama para koki serta beberapa orang anggotanya.


Mereka tidak menyangka jika musuh sedang mengintai untuk mencari kelengahan.


Setelah melihat Arga bersama yang lain masuk, mereka pun mulai melancarkan aksinya.


Pertama mereka menghancurkan tempat-tempat yang bakal di gunakan oleh pengunjung untuk duduk.


Lalu menggedor pintu sekuatnya hingga membuat Arga dan yang lain merasa terkejut.


Salah seorang pengawal Fras pun membuka pintu dan mereka terkejut ketika dua orang nyelonong masuk dengan begitu sombong.


Arga menghampiri Keduanya dan menanyakan siapa mereka dan apa tujuan mereka datang ke warung yang belum resmi dibuka.


Tanpa menjawab, keduanya mulai beraksi dengan menendang peralatan masak yang baru saja dibersihkan.


Dengan gerakan meliuk, Arga berhasil membekuk seorang lawan dan akhirnya dia memberikan pukulan telak di ulu hatinya.


Satu lawan tersungkur dan tidak sadarkan diri dan satu lagi berhasil dibekuk oleh pengawal Fras.


Pengawal Fras menginterogasi, menanyakan siapa yang meminta keduanya untuk membuat kerusakan disana.


Pengawal itupun bungkam, dia memilih dihajar dan ditampar daripada memberitahu siapa dalang dibalik kerusuhan itu.


Arga yang merasa kesal, menarik pengawal itu dan memberikan pukulan di dada serta perut.


"Kalian masih juga belum mau mengaku! Jangan salahkan kami jika memberikan penyiksaan yang lebih kejam."


"Dir, tolong kamu ambil, pisau dan jeruk nipis di sana, aku ingin tahu seberapa pemberaninya mereka melawan dua benda itu!"


Dirta pun bergegas menuju dapur, dia mencari apa yang Arga minta.


Setelah mendapatkannya, Arga pun meminta pengawal untuk menggores sedikit tubuh keduanya dan Arga sudah memotong jeruk asam untuk mengucuri luka tersebut.


Membayangkan saja sudah ngeri, apalagi sampai hal itu benar dilakukan oleh Arga.


Pengawal Fras menarik tubuh pengawal dan menggores lengannya. Seketika darah mengucur ke lantai dan jeritan pun terdengar saat air jeruk asam itupun mengenai lukanya.


Pengawal Gisella memohon ampun dan minta dilepaskan, tapi Arga tidak mengindahkan permintaan itu sebelum mereka mengaku.


Kembali siksaan dilakukan dan kali ini jeritan terdengar lebih memilukan, akhirnya pengawal itupun menyerah dan berjanji akan mengatakan siapa yang memerintahkan mereka untuk melakukan pengerusakan warung kuliner Mirna.


Arga memberi kode agar pengawal Fras melepaskan cengkeraman tangannya, lalu Arga mencengkeram rahang orang tersebut sambil berkata lantang.


"Sekarang katakan, siapa yang telah menyuruh kalian! Ayo cepat, sebelum aku menyayat wajah ini satu persatu dan mengucurkan air jeruk ke semua luka!"


Akhirnya mereka pun mengaku jika Gisella yang meminta untuk menghancurkan warung kuliner itu sebelum acara pembukaan besok dilakukan.