
“Aku jadi tidak enak hati nih sayang, kamu enggak apa-apa kan aku tinggal sendiri ,” tanya Arjuna
“Enggak apa-apa sayang, sudah sana pergi , jangan membuat Papa kamu menunggu terlalu lama Loh ,” ujar Ken
“Aku pergi dulu ya,” ucap Arjuna lalu mencium kening Kenzia, kenzia yang kaget langsung meninju perut Arjunaa dengan keras.
Awwww....
“Maafkan aku mas, aku kaget dan reflek meninju kamu ,” ucap Ken was-was, dia takut Arjuna marah.
“Tidak apa-apa sayang, aku tau kalau kamu tidak sengaja,” ucap Arjuna pura-pura tidak kesakitan padahal perutnya sudah seperti terbentur benda yang sangat keras, ingin sekali dia berteriak dengan keras agar rasa sakitnya berkurang namun dia tidak mau kalau Kenzia menganggapnya pria lemah.
“Apa tidak apa-apa mas, itu tadi aku tonjoknya keras banget loh ,” ucap Ken hendak memeriksa perut Arjuna
“Tidak apa-apa kok sayang, itu hanya benturan kecil saja bagiku, kalau begitu aku pergi dulu ya ,” ujar Arjuna.
Masak sih hanya benturan kecil, aku nonjoknya keras banget loh, apa kulit perutnya terbuat dari baja ya sehingga dia tidak Merasa kesakitan aku tonjok begitu,, Batin Kenzia
Arjuna sudah berada di mobilnya, dia berteriak cukup keras menumpahkan rasa sakit di perutnya itu. Perlahan Arjuna menyibak bajunya dan melihat kalau kulit perutnya membiru.
“Dia pakai tenaga apa sih saat meninjuku, sampai kulit perut aku memar begini, kuat sekali tenaganya, Agghh sakit sekali, aku harus segera ke Rumah sakit untuk memeriksanya,” ucap Arjuna lalu melajukan mobilnya.
Sementara Kenzia masih penasaran karena tidak mungkin Arjuna tidak merasa sakit terkena Bogem mentahnya, kenzia heran apa Arjuna beneran atu membohonginya.
“Ah itu gak usah aku pikirkan, lebih baik aku segera pergi ke Bogor untuk bertemu Paman Lucki,” ucapnya lalu menekan Hadle pintu itu.
“Astagfirullah...ngagetin saja deh, bapak ini siapa ?” kenzia heran kenapa tiba-tiba ada bapak-bapak di depan Rumah barunya itu.
“Saya Joko satpam di rumah ini Non, Non ini Non Kenzia kan ?”Bapak itu bertanya dan menatap serius ke arah Kenzia.
“Iya..Oh jadi bapak Satpam rumah ini ya, bagus deh jadi saya tidak perlu khawatir untuk pergi, kan sudah ada bapak yang jagain Rumahnya,” Satpam itu mengerutkan keningnya.
“Si Non mau ke mana ? Apa saya kasih tahu pak Arjuna kalau si Non mau pergi ?
“jangan...!!
Joko mengerutkan keningnya, dia menatap tajam ke arah Kenzia, Kenzia tahu apa yang ada di pikiran Joko.
“Maksud saya jangan bapak yang memberitahukannya, biar saya sendiri yang kasih tahu sama dia ,” ujar Kenzia, terlihat wajah Joko merasa lega.
“Baiklah Non, kalau begitu saya ke Pos dulu ,” ujar Joko, Kenzia mengangguk dan berpura-pura mengambil ponselnya seolah-olah akan menghubungi Arjuna.
Setelah kepergian Joko Kenzia segera pergi dengan menggunakan Taksi Online yang sudah di pesannya, kebetulan taksi itu sudah sampai di depan Gerbang Rumahnya.
Dengan buru-buru Kenzia memasuki taksi tersebut.
“Pak, ayo jalan ,” suruhnya, supir taksi itu pun melajukan Mobilnya, Kenzia bernafas lega karena sudah terlepas dari pantauan Joko yang memantau gerak-geriknya dari tadi, dia yakin kalau Joko adalah salah satu orang suruhan Arjuna untuk memata-matai ke mana saja dia pergi.
“Mbak...apa mbak yakin kalau kita akan ke Bogor Larut malam seperti ini ?” tanya Pak Supir.
“Iya pak, saya akan membayar berapa pun asal saya sampai tepat waktu ke sana,” ucap Kenzia.
“Pasti akan sampai Mbak, mbak tenang saja dua jam kita akan sampai di sana ,” ucap Pak supir itu.
“Semoga ya pak, soalnya saya harus bisa kembali ke Jakarta sebelum Fajar ,” ucap Kenzia, Supir itu kaget ketika mendengar ucapan Kenzia itu, berarti dia harus menyetir pulang pergi tanpa istirahat.
“Kenapa pak, kok diam ?” tanya Kenzia
“Eh enggak Mbak, berarti saya tidak sempat istirahat dong,” ucap Supir itu terus terang.
“Eh Iya Mbak,” ucap Supir itu cepat, Kenzia bernafas lega. Dia merebahkan tubuhnya di sandaran Jok mobil itu sambil memejamkan matanya.
“Mbak.. mbak.. bangun mbak kita sudah sampai ,” pak supir Membangunkan Kenzia yang masih terbuai mimpi.
“Uugghhh sudah sampai ya pak, kok cepat sekali sih ?” tanya Kenzia sambil merenggangkan ototnya.
“Enggak cepat kali mbak, mbak aja yang tidurnya nyenyak sekali,”
“Kalau begitu saya turun dulu ya pak, bapak istirahat saja dulu,”
“Baik mbak ,” Kenzia memasuki Hotel itu dan melihat kalau Resepsionisnya sudah tertidur di kursinya.
“Permisi mas...mas....bangun dong,” Kenzia mencoba membangunkan Resepsionis itu tapi tidak ada tanda-tanda kalau dia akan bangun.
Kenzia memencet bel yang ada di meja itu, tapi tetap saja dia tidak bangun.
“Bagaimana ini, aku enggak punya Nomor ponsel paman Lucki lagi, enggak mungkin kan aku mengecek satu persatu kamar Hotel yang ada di sini, sampai lusa pun enggak bakalan ketemu,” guman Ken.
Tiba-tiba muncul Ide di kepala Kenzia.
“Banjir...banjir....!
“Mana banjir...mana banjir,” ucap Resepsionis itu seraya naik ke atas Kursinya. Kenzia tertawa terbahak-bahak, tubuh macho ternyata ngondek.
“Iiih nakal deh, bikin jantungan saja,” ucap Resepsionis itu.
“Ha.. ha.. ha.. Habisnya sih di bangunin enggak bangun-bangun, ya...aku kerjain aja ,” ucap Ken masih saja tertawa
“Ada yang bisa saya bantu ?”
“Iya ada, saya mau bertanya kalau Paman saya menginap di kamar berapa ?” tanya Kenzia
“Paman yang mana, di sini banyak paman-paman yang menginap, bisa di sebutkan namanya ?” ucap Pemuda itu.
“Eh maksud saya MR Lucki,”
“Tunggu sebentar ya saya cek dulu,” terlihat Resepsionis itu mengetik- ngetik sesuatu di Komputernya dan dia mulai mencari nama tersebut.
“Atas nama Pak Lucki Purwanto ya ?” Ken mengangguk, padahal dia tidak tahu nama panjang Lucki.
“Di Lantai Lima kamar 127,”
“Makasih ya mas,” Kenzia segera menuju ke Lantai 5 dengan buru-buru, dia tidak ingin membuang-buang waktu lagi.
Kini Ia sudah berada di depan kamar 127, dengan perasaan deg-degan Ia mulai mengetuk pintu Kamar itu. Sudah beberapa kali Ia mengetuknya akan tetapi belum di buka juga oleh Lucki
“Ayolah Paman.. cepat buka pintunya,” Kenzia semakin tidak tenang, waktu terus bergulir dan Ia semakin gencar mengetuk pintu itu.
Tiba-tiba Pintu kamar di sebelahnya terbuka dan keluarlah seorang wanita dengan wajah bantalnya.
“Heh berisik tau gak, ngapain sih jam segini gedor-gedor pintu, Kamar itu tidak berpenghuni,” ucap Wanita itu.
Jedarr...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...