
"Ada apa Pa? Kepala Papa sakit lagi?" tanya Gisella.
Riko buru-buru menutup ponsel, dia tidak mau Gisella sampai tahu berita yang baru saja Riko lihat. Dia ingin memastikan dulu kebenaran berita tersebut.
"Pa, kenapa diam? Kepala Papa sakit lagi?"
"Iya Ma, nggak tahu nih kenapa sakit sekali."
"Papa temui dokter deh, biar mama tunggu tentang kabar Rendi di sini."
"Iya Ma. Nggak apa-apa kan jika Papa tinggal?"
"Pergilah Pa, daripada Papa nanti pingsan lebih repot kan."
Kemudian Riko pun beranjak pergi, tapi dia bukannya mencari dokter tapi Riko menelepon anak buahnya.
"Hallo Bos," ucap Titan saat mengangkat panggilan dari Riko.
"Tan, aku punya tugas untuk mu, tolong kamu selidiki siapa pemilik warung kuliner Mirna! Hari ini mereka sedang membuat acara pembukaan, jadi kamu bisa menyusup kesana sebagai tamu. Aku curiga warung itu ada hubungannya dengan istri dan putraku. Aku tunggu kabar darimu secepatnya!" perintah Riko.
"Baik Bos! secepatnya saya akan beri kabar."
Setelah memberi perintah, Riko pun pergi ke kantin dia ingin menenangkan diri sambil meredakan rasa sakit kepalanya.
"Jika keadaan Rendi tidak seperti ini, mungkin aku yang akan kesana sendiri mencari tahu. Mirna, Arga...dimana kalian, apa kalian masih hidup? kenapa susah sekali mendapatkan info tentang kalian. Aku merindukan kalian," monolog Riko sambil terus memegangi kepalanya yang sakit.
Riko memesan kopi dan dia menyulut rokok untuk menenangkan pikirannya.
Sambil menunggu pesanan datang, Riko kembali menggulir ponselnya, dia berharap ada berita lain tentang keluarganya.
Satu jam berlalu dan Riko masih betah duduk di kantin, hingga masuk panggilan dari Gisella yang khawatir mencarinya karena tidak juga kembali.
Riko pun meninggalkan kantin, dia harus kembali menemani Gisella yang saat ini sedang rapuh dan membutuhkan dukungannya.
"Papa dari mana saja, kenapa lama sekali menemui dokter?"
"Papa baru dari kantin Ma, minum kopi untuk mengurangi sakit kepala ini. Ini...papa bawain jus, minumlah!"
Gisella merasa tenang, dia masih khawatir jika Riko mengetahui kabar tentang Mirna.
"Belum selesai juga operasi Rendi?"
"Entahlah Pa, kenapa begitu lama, mama khawatir."
"Bara tidak bisa di harap Pa, mama nggak mengerti dengan jalan pikiran anak itu. Dia tidak peduli dengan kondisi kakaknya. Padahal selama ini Rendi sangat menyayangi dia. Yang ada di otaknya saat ini hanya Cinta, gadis yang tidak terlalu penting bagi Mama."
"Papa harus tegas dan katakan pada Bara, jika masih banyak gadis lain yang lebih cantik dan kaya. Untuk apa mengejar gadis yang hanya membuat masalah."
"Mama sih selama ini selalu menuruti kemauan dia. Jadinya Bara besar kepala dan egois, selalu ingin memaksakan kehendaknya."
"Papa kok jadi menyalahkan mama sih! Papa selama ini terlalu asyik dengan dunia Papa dan sering mengabaikan kami. Giliran Bara seperti ini Papa malah menyalahkan mama," bantah Gisella yang tidak mau di salahkan.
Riko akhirnya malas berdebat, lalu dia mencoba menghubungi Bara. Tapi ponsel Bara sedang tidak aktif.
"Papa mau cari Bara Ma! Ponselnya tidak aktif, Papa takut dia mabuk-mabukan lagi seperti kemaren."
Mirna yang takut Riko pergi, mencoba menahannya.
"Nggak usah di cari Pa, nanti dia juga bakal pulang. Papa temani mama saja, mama khawatir Rendi kenapa-kenapa."
Riko pun mengurungkan niatnya dan kembali duduk di samping Gisella.
Gisella yang sejak tadi memperhatikan lampu ruang operasi pun berkata, "Pa, lihat lampu ruang operasi sudah padam, berarti operasi sudah selesai. Ayo kita kesana Pa, kita tanyakan bagaimana kabar Rendi."
Riko dan Gisella pun mendekat ke pintu ruangan operasi saat melihat dokter keluar.
"Dok, bagaimana keadaan anak saya?"
"Saat ini operasi berjalan lancar tapi kita berdoa saja, kankernya tidak akan menjalar lagi. Karena kemungkinan itu tetap ada," terang dokter.
Gisella meraup wajahnya, dia sedih, kenapa musti Rendi yang mengalami hal ini.
"Tenanglah Ma, kita serahkan semua kepada Allah."
"Tapi ini tidak adil Pa, Rendi masih terlalu muda untuk mendapatkan cobaan berat seperti ini. Dia masih memiliki banyak impian untuk menjadi pengusaha sukses seperti Papa."
"Ya... mau bagaimana lagi Ma, yang bisa kita lakukan hanya berusaha memberikan pengobatan terbaik dan terutama berdoa."
"Ayo kita tunggu di sana, nanti setelah Rendi sadar, dokter pasti memanggil kita."
Gisella pun menuruti perkataan Riko dan Riko pamit keluar saat Titan menelepon. Dia tidak ingin Gisella sampai tahu, jika dirinya menyelidiki warung yang Riko curigai ada hubungannya dengan istri dan juga putranya.
Bersambung.....