
"Bagaimana Nak, kamu mau kan tinggal dengan Papa?"
"Maaf Pa, Arga tidak bisa memutuskan sekarang. Arga akan bicara dulu dengan mama dan juga papa Fras. Arga harap Papa paham."
"Baiklah Nak, Papa tunggu keputusan mu. Jika perlu, papa akan minta izin ke mama dan Fras."
"Biar Arga saja yang bicara ke mama, Arga nggak mau mama syock lagi jika bertemu Papa. Arga ingin kita semua bahagia, tapi tidak menyakiti satu belah pihak."
Riko pun mengangguk, dia harus bisa menghargai apapun keputusan Arga dan Mirna. Meski hatinya hancur, tapi Riko akan menemui Fras untuk berterimakasih karena Fras adalah pahlawan bagi keluarganya.
Dan setelah Rendi keluar dari rumah sakit, Riko akan membicarakan perceraiannya dengan Gisella. Dia akan membenahi hidup dengan fokus memikirkan masa depan Arga.
Arga dan Cinta pun pamit, sedangkan Riko akan kembali ke rumah sakit untuk melihat kondisi Rendi.
Mirna menyerahkan urusan warung kuliner untuk sementara kepada Dirta, Artha dan beberapa orang kepercayaannya. Dia akan menenangkan diri beberapa hari dengan tinggal di rumah.
Fras paham akan perasaan Mirna, walau bagaimanapun Riko adalah cinta pertama istrinya. Sedikit banyaknya perasaan itu pasti masih ada, apalagi mereka masih punya ikatan yaitu Arga.
Arga kembali ke rumah setelah mengantar Cinta dan dia langsung mencari keberadaan sang mama yang kata pembantu sedang beristirahat di kamar.
Perlahan Arga mengetuk pintu dan setelah mendapatkan izin barulah dia masuk.
"Masuklah Nak," ucap Mirna saat melihat putranya yang datang.
"Mama sakit?" tanya Arga.
"Nggak kok, hanya lelah sedikit. Bagaimana kuliahmu dan juga pekerjaan di kantor?"
"Alhamdulillah Ma, semuanya beres. Papa kemana Ma?"
"Papa masih mengontrol warung, mungkin sebentar lagi juga pulang, karena tadi Papa telepon Mama katanya mau makan malam bareng kita."
"Oh gitu. Oh ya Ma, Arga mau bicara sesuatu, tapi Arga harap Mama jangan sedih dan salah sangka terhadap Arga."
Mirna mengernyitkan dahi, dia jadi takut dengan apa yang akan Arga bicarakan.
Arga mendekati Mirna dan dia duduk di sisi sang Mama sembari menggenggam tangannya.
"Ma, Arga sebenarnya sudah tahu sejak lama jika Papa Riko masih hidup, tapi saat itu Arga sengaja tidak memberitahu Mama karena Arga takut Mama syock dan sakit. Maafkan Arga ya Ma."
"Kamu sudah tahu Nak?"
Arga pun mengangguk lalu dia berkata, "Sebelumnya Arga sangat membenci Papa dan Arga ingin menghancurkannya bersama dengan Tante Gisella, Rendi dan juga Bara. Arga pikir, papa mengabaikan kita dan memilih hidup bahagia bersama mereka, tapi ternyata dugaan Arga salah."
"Papa tadi ke kampus menemui Arga Ma, dan Papa menjelaskan semuanya, dari mulai Papa kecelakaan, hilang ingatan sampai beliau mencari kita. Dan Arga baru tahu jika Rendi dan Bara ternyata bukan anak Papa."
"Kalau Rendi memang bukan anak Papa tapi Bara Mama tidak tahu. Mama pikir setelah Papa melupakan kita, dia dan Gisella hidup bahagia, hingga lahirlah Bara."
"Bara bukan anak Papa Ma, tapi menurut pengakuan Papa, Rendi dan Bara tidak tahu masalah itu."
"Itulah Papa mu Nak, dia selalu memikirkan perasaan orang lain dan tidak memikirkan kebahagiaannya sendiri. Jika sejak dulu Papa mau menentang keluarganya dan mau menceraikan Gisella, pasti kita hidup bahagia bersama Papa," ucap Mirna.
"Apakah Mama menyesal Ma, telah memutuskan menikah dengan Papa Fras setelah tahu Papa Riko masih hidup?"
"Tidak Nak, Mama tidak pernah menyesal."
"Tapi Ma, apakah Mama membenci Papa?"
Mirna menggeleng, lalu menggenggam erat tangan putranya dan berkata, "Meskipun Papa Riko misalnya sengaja meninggalkan kita, mama tidak akan pernah membencinya. Dia berhak memilih dan menentukan kebahagiaannya."
"Terimakasih Ma. Arga tadinya khawatir Mama akan membenci Papa, ternyata Arga salah."
"Justru Mama yang sempat khawatir Nak, mama takut malah kamu yang akan membenci dan tidak mengakui papa kandungmu sendiri."
"Awalnya iya Ma, tapi sekarang Arga paham dengan situasi dan kondisi Papa. Bahkan Arga kasihan melihat Papa Riko, Ma, di hari tuanya papa sendirian menghadapi istri dan kelakuan anak-anak rusak yang ternyata bukan anaknya."
"Ya, mau bagaimana lagi. Itu sudah takdir Papa mu. Kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya."
"Tapi kita masih bisa menolongnya Ma, terutama Arga."
"Jangan masuk di kehidupan papa lagi, mama takut Gisella dan anak-anaknya tidak akan terima dan pasti akan menyakitimu."
"Kita sudah melewati semuanya dengan susah payah dan kini kita sudah bahagia bersama Papa Fras jadi biarkan papamu dengan kehidupannya Nak."
"Maaf Ma, Arga tidak bisa membiarkan papa hidup dengan orang-orang seperti itu. Arga mohon Ma, tolong izinkan Arga untuk menolong Papa dan mengeluarkan Papa dari kehidupan orang-orang seperti Gisella, Rendi dan juga Bara."
"Tapi apa yang bisa kamu lakukan? Kukumu belum cukup kuat untuk menjauhkan Papa dari mereka."
"Ada yang bisa Arga lakukan Ma, dan Arga pastikan, mereka akan merasakan yang lebih sakit dari apa yang pernah kita rasakan dulu. Memang sih bukan raga mereka yang bakal sakit, tapi mental mereka."
"Maksudnya bagaimana dan apa yang mau kamu lakukan?"
"Izinkan Arga menerima tawaran Papa. Arga akan tinggal dengan Papa di rumah yang telah Papa Riko sediakan untuk Arga."
"Dengan keluarnya Papa dari rumah, mereka akan merasakan bagaimana sakitnya berpisah dari orang yang mereka sayangi. Dan mereka tidak berhak menikmati serta memiliki seluruh aset yang Papa Riko miliki."
"Mama tidak setuju, mereka pasti akan sakit hati dan Gisella mampu berbuat apapun untuk mencapai tujuannya. Mama nggak mau kamu celaka. Sudahlah Nak, turuti kata Mama, jauhi Papa Riko dan fokus dengan kehidupan kita yang sekarang."
Arga hendak mendebat mamanya lagi, tapi terdengar suara Fras yang muncul di depan pintu.
"Boleh Papa masuk?"
"Eh, Papa. Masuklah Pa, Mama sedang ngobrol dengan Arga."
Fras pun masuk, lalu dia duduk di antara keduanya.
"Papa sudah mendengar semuanya. Terimakasih Ma, Mama tidak menyesal telah menikah dengan Papa. Tapi, Mama juga tidak bisa mengabaikan Riko begitu saja."
Sejenak Fras terdiam mengatur nafas, lalu diapun berkata lagi, "Walau bagaimana pun, Riko itu Papanya Arga dan Arga memiliki kewajiban untuk melindungi papanya dari Gisella dan anak-anaknya. Aku lebih mengenal Gisella, jauh sebelum Mama. Jadi berilah kesempatan kepada Arga untuk menunjukkan baktinya sebagai anak."
"Tapi Mas, aku nggak mau jauh dari Arga dan aku juga nggak mau jika Arga celaka."
"Mama percaya kan sama Papa? Papa tidak akan tinggal diam jika ada orang yang ingin menyakiti putraku. Jadi, tolong Ma, izinkan Arga. Biarkan dia menyelamatkan Riko dari Gisella dan kedua putranya. Lagipula, mereka sudah cukup lama merampas hak yang seharusnya Arga nikmati dan miliki."
Mirna pun terdiam, dia masih berat untuk membiarkan Arga tinggal bersama Riko, tapi dia juga tidak berhak melarang papa dan anak untuk saling bertemu.
Akhirnya Mirna minta waktu untuk berpikir karena dia tidak ingin salah dalam mengambil keputusan.
Bersambung....