DENDAM SANG PEWARIS

DENDAM SANG PEWARIS
BAB 46. TAWA UNTUK MENUTUPI KESEDIHAN


"Aku kesal banget tadi, sumpah pingin nonjok dia!" ucap Dirta sembari mengepalkan kedua tangannya.


"Iya Dir, aku juga. Bara memang keterlaluan, bisa-bisanya dia cari ribut di saat para tamu sedang asyik menikmati hidangan."


"Kita harus tenang, jalankan rencana berikutnya. Rendi saat ini digerogoti penyakit, Bara hancur dan menjadi pemabuk. Kehancuran keduanya pasti akan membuat Gisella stres, ditambah lagi dengan berita yang beredar di internet."


"Aku sangat senang dan tinggal menunggu kehancuran Gisella. Tapi, aku akan lebih puas saat Riko menangis menyaksikan kehancuran 3 orang yang dia sayangi!" ucap Arga sembari tertawa. Tapi air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.


Dia sebenarnya rindu sosok Riko, tapi Arga sangat kecewa saat mengetahui Papa yang dia rindukan sama sekali tidak peduli dan tidak pernah mencarinya.


Air mata pun menetes dan Arga buru-buru mengelapnya sebelum sang ibu datang dan melihat jika dirinya menangis.


Dirta yang melihat hal itupun merangkul Arga sembari berkata, "Sabar Ga, aku tahu kamu sedih. Mereka pasti akan mendapatkan ganjaran setimpal."


"Mengenai Papa mu, jangan terburu-buru menghukumnya, selidiki dulu Ga, kenapa beliau tidak mencari kalian."


"Bukankah mama Mirna pernah cerita, Papa Riko sangat menyayangi kalian sebelum tragedi itu terjadi."


"Benar kata Dirta Ga, kami akan bantu menyelidiki hal ini. Sekarang kamu fokus dulu membalas perbuatan Tante Gisella biar besok kami coba dekati Papa Riko," ucap Artha.


"Terimakasih teman-teman, kalian memang saudara terbaikku," ucap Arga sembari memeluk kedua sahabatnya.


"Ayo kita kembali ke dalam dan bersihkan dulu sisa air matamu, jangan sampai mama dan papa melihatmu seperti ini."


"Iya Dir," ucap Arga yang buru-buru mengelap wajahnya dengan menggunakan lengan baju.


Saat ketiganya kembali ke dalam warung, Fras dan Mirna sudah bersiap untuk pulang karena mereka masih harus menemani adik-adik Fras yang pulang duluan ke rumah.


"Ga, Papa dan mama pulang dulu dan jangan lupa besok pagi kamu sudah harus hadir pukul 9 pagi. Papa akan mengenalkan mu kepada para staf di sana."


"Iya Pa. Hati-hati ya Pa, Ma."


Fras dan Mirna pun pamit kepada Dirta, Artha dan juga para pekerja lainnya.


Rasa lelah membuat ketiganya tertidur, sementara para pekerja masih bergadang sambil menikmati kopi.


Di rumah kediaman Gisella, Bara tampak kacau, dia membanting semua barang yang ada di dalam kamarnya.


Dengan cara itu kemarahannya sedikit terlampiaskan.


Para pembantu pun tidak ada yang berani mendekat, mereka takut kena sasaran amukan Bara.


Setelah puas mengamuk, tubuh Bara luruh ke lantai dan diapun menangis sembari menyebut nyebut nama Cinta.


Bara merasa kebahagiaannya telah sirna dan tidak ada satu orangpun yang peduli serta menyayangi dirinya.


Papa mamanya menghabiskan waktu di rumah sakit, Cinta memutuskan hubungan dan sebagian teman-teman Bara pun mulai menjauh karena mereka tidak mau terlibat dengan minum-minuman keras serta obat-obatan terlarang.


Riko yang baru saja tiba, menanyakan keberadaan Bara kepada salah seorang pembantu, lalu pembantu itupun menceritakan apa yang baru saja Bara perbuat.


Dengan setengah berlari, Riko menaiki anak tangga menuju kamar putranya. Dia sangat takut, jika terjadi hal buruk terhadap Bara.


Dan saat pintu kamar dia buka, matanya membulat melihat kamar Bara seperti kapal pecah. Barang-barang hancur dan berserakan tak tentu arah.


Perlahan Riko menghampiri Bara yang masih tergeletak di lantai. Dia sedih melihat Bara terpuruk.


Kemudian Riko memeluk Bara dan dia berusaha menenangkannya. Baru setelah itu, Rikopun membawa Bara ke kamar mandi. Riko berharap dengan mandi, tubuh Bara akan segar kembali dan bisa berpikir dengan jernih.


"Nak, ayo bangkit! kamu tidak boleh terpuruk seperti ini. Masa depan mu masih panjang, masih banyak gadis di luaran sana yang pastinya menantimu," ucap Riko sembari memapah Bara menuju kamarnya.


Riko membasahi handuk kecil, kemudian dengan sabar diapun membersihkan area wajah serta leher Bara.


Lalu, Rikopun meminta Bara untuk tidur dan dia menemaninya hingga Bara benar-benar terlelap.


Bersambung.....