
Selesai makan malam, Fras menjelaskan jika lusa usaha baru mereka akan segera dibuka. Fras sudah mendapatkan seorang koki yang akan membantu tugas Mirna.
"Nah itu tugas kalian ya Dir, Artha, untuk membantu Mama dan juga Cinta."
"Beres Pa," jawab keduanya serempak.
"Kamu juga Ga, Lusa sudah harus ke kantor. Kita akan ada rapat untuk pergantian manajer. Ada satu manajer resain."
"Iya kah Pa, dia mundur sendiri atau Papa yang pecat?"
"Dia mundur sendiri Ga. Pokoknya kita musti hati-hati, barangkali masih ada orang-orang yang pro Rendi, yang kapanpun bisa mengkhianati kita."
"Iya Pa."
"Bagaimana Ma, Mama sudah siap 'kan? Kita akan buat promo gratis di hari pertama, untuk mengenalkan usaha Mama."
"Iya Pa, mama siap. Dan tugas kamu Dirta serta Artha, memperbanyak brosur serta mencari orang yang bisa menyebarkannya."
"Papa juga sudah tempah beberapa spanduk untuk promosi."
"Oke Pa, kami semua siap."
Berarti semua rencana sudah matang, besok kita semua ke sana untuk mempersiapkan acara pembukaan.
"Tapi Arga pagi ke kampus dulu ya Pa, nanti Arga menyusul bersama Cinta."
"Iya Nak, utamakan saja kuliahmu dulu."
"Iya Pa. Kami ke teras dulu ya Pa. Mau ajak mamang main catur."
"Iya, tapi jangan malam kali tidurnya, nanti kita kesiangan. Soalnya besok kita akan berangkat pagi."
Ketiganya pun mengangguk, lalu mengambil papan catur. Sementara Mamang sudah menunggu karena siang tadi mereka telah membuat janji.
Setelah pukul sebelas malam, mereka pun kembali ke kamar untuk beristirahat.
Pagi-pagi mereka bangun untuk menjalankan kewajiban seperti biasa, lalu Fras meminta daftar belanjaan kepada Mirna.
Fras akan kepasar bersama Dirta serta Artha sementara Mirna menyiapkan sarapan bersama simbok.
Masing-masing berbagi tugas, sementara Arga bersiap untuk pergi ke kampus.
Dalam perjalanan ke kampus, Arga tidak menyangka jika dia kembali diikuti oleh orang-orangnya Bara.
Motor Arga di salip, hingga sedikit oleng. Hari ini Arga memang sengaja menggunakan motor agar cepat sampai dan memudahkan dirinya untuk ke warung kuliner sang mama.
Arga menambah kecepatan, dia malas meladeni Bara yang kian hari makin menjadi-jadi ulahnya.
Tapi Arga tidak menduga jika sebuah mobil menerobos disamping motornya hingga tak ayal lagi, Arga terjerembab dan motornya masuk ke dalam parit.
Dua orang turun dari atas mobil, lalu menghampiri Arga dan memukulnya.
Arga melawan, dia tidak ingin menyerah apalagi di hadapan Bara.
Bara juga turun dari mobilnya, dia tertawa melihat tubuh Arga kotor terkena air parit.
Melihat hal itu, Arga menggeram, dia menghampiri Bara dan berkata, "Jangan senang dulu, sebentar lagi kamu bakalan menangis. Ingat perkataan ku Bara!"
Bara kesal, lalu dia menghampiri Arga dan menarik kerah bajunya.
Saat pukulan Bara hampir mengenai wajah Arga, Arga pun berkelit lalu dia mendorong Bara hingga masuk ke dalam parit.
Kini bukan hanya tubuh yang kotor, tapi juga wajah Bara menghitam.
Anak buah Bara tidak membiarkan Arga pergi, mereka menyerangnya dengan menggunakan pisau.
Arga geram, mereka beraninya keroyokan. Lalu dia mengambil rantai dari dalam jok motor dan memutar-mutarkan ke arah anak buah Bara.
Keduanya merasa takut jika kena sabetan rantai tersebut. Lalu mereka pun kabur. Sementara yang lain masih menolong Bara, membersihkan wajah serta pakaiannya.
Bara begitu kesal dan dia janji akan kembali dengan membawa teman yang lebih banyak untuk melawan Arga.
Arga hanya menanggapi omongan Bara dengan tersenyum, lalu dia meminta tolong orang yang melintas di sana untuk membantu menaikkan motor dari dalam parit.
Cinta yang melintas di sana dan melihat Arga, menepikan mobil. Dia menghampiri Arga dan ikut membantu.
"Kamu kenapa Ga? kok bisa masuk ke dalam parit?"
"Seperti biasa, Bara dan teman-temannya kembali hendak mencelakaiku."
"Ya sudah, kita bawa motor ini ke bengkel, lalu kita barengan ke kampus dengan mobilku. Nanti sepulang dari kampus baru kita ambil."
"Iya Cin."
Arga mendorong motor hingga ke bengkel yang letaknya tidak jauh dari sana. Setelah itu, diapun menumpang toilet untuk membersihkan celana serta kakinya yang kotor.
Cinta dan Arga pun putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke kampus. Dan hari ini keputusan Arga untuk menghancurkan hati Bara semakin besar.
Pikiran Bara juga sudah di penuhi dendam, siang ini diapun datang kembali ke area kampus untuk menunggu Cinta maupun Arga.
Sesuai janji mereka kemaren, Cinta dan Arga pun menuju cafe terdekat, sepulang dari kampus, sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke warung kuliner Mirna.
Bara yang mengikuti keduanya, makin geram saat melihat Cinta tertawa dan bercanda ria dengan Arga. Sementara saat bersamanya, mereka lebih sering berdebat.
Kecemburuan Bara makin meningkat saat melihat keduanya turun dan memasuki sebuah cafe.
Arga yang tahu jika Bara mengikuti mereka, sengaja ingin memancing amarah Bara dengan menggandeng tangan Cinta.
Cinta terkejut Sekaligus senang, dia berharap jika itu bukanlah mimpi. Cinta telah jatuh hati kepada Arga dan dia sudah bertekad ingin memutuskan Bara.
Memiliki hubungan dengan Bara hanya membuatnya tertekan, tidak ada kebahagiaan seperti yang cinta rasakan sekarang saat bersama Arga.
Bara menyusul masuk ke dalam cafe, dengan amarahnya yang memuncak diapun menghampiri Arga dan Cinta.
"Pengkhianat kamu Cin! Kamu itu pacarku kenapa malah kesini bersama musuhku!"
"Maaf Bar, hubungan kita sudah selesai. Bukankah sudah berulangkali aku katakan jika diantara kita sudah tidak ada kecocokan."
"Aku tidak terima kamu perlakukan aku seperti ini Cin. Aku akan bicara dengan Papamu!"
"Silakan, aku sudah tentukan pilihan, jadi apapun resikonya akan aku tanggung termasuk pergi dari rumah," ucap Cinta dengan tegas.
Bara hendak menarik Cinta, tapi Arga menghalangi. Arga memelintir tangan Bara hingga Bara menyeringai kesakitan.
"Awas kalian berdua, aku akan balas perlakuan kalian! Jika Cinta tidak bisa menjadi milikku, maka siapapun tidak akan memilikinya!" ancam Bara sambil berusaha melepaskan diri dari pelintiran Arga.
Arga melepaskan Bara, lalu dia berkata, "Jangan coba-coba kamu menyakiti Cinta, karena aku tidak akan pernah mengalah lagi. Satu persatu keluargamu sedang menunggu kehancuran kalian masing-masing!"
Bara tidak memahami apa maksud perkataan Arga, yang ada di pikirannya saat ini adalah menyusun rencana untuk menyulik Cinta.
Apapun akan Bara lakukan untuk mendapatkan Cintanya kembali.
Bara pun meninggalkan tempat itu, saat ini tujuan utamanya adalah ke kantor Papa Cinta. Dia akan mendesak agar Papa Cinta menjauhkan putrinya dari Arga.
Setelah kepergian Bara, Argapun memesan makanan, dia ingin merilekskan suasana dulu sebelum mengutarakan isi hatinya terhadap Cinta.