DENDAM SANG PEWARIS

DENDAM SANG PEWARIS
BAB 48. TIDAK MENGAKUI


"Andai kamu tahu Riko, jika Arga adalah putramu, kamu pasti akan menyesal telah mengatakan hal ini," monolog Fras sepeninggal Riko.


Sementara Arga hatinya sangat sakit saat mendengar permintaan Riko kepada Fras agar dia menjauhi Cinta. Arga mengepalkan tangan dan bergegas mengejar Riko, dia ingin tahu apa reaksi Riko saat melihat dirinya yang seperti duplikat Riko saat muda.


Riko masuk ke dalam lift, tapi belum sempat lift tertutup, Arga pun masuk. Riko terpaku saat menatap pemuda yang kini berada di hadapannya.


"Ka-kamu...," ucapannya tercekat sambil menunjuk ke arah Arga.


"Ada apa Om? kenapa Om melihat saya seperti itu?" tanya Arga pura-pura tidak mengenal Riko.


"Kamu Arga? putraku!"


"Maaf, Om salah mengenali orang. Papa saya pemilik perusahaan ini!" ucap Arga cuek.


Riko merengkuh bahu Arga, air matanya mengambang dan dia ingin memeluk putra yang selama ini dia cari dan Riko rindukan.


"Om mau apa? Saya tidak mengenal Om!" tolak Arga. Arga menghempaskan tangan Riko hingga terhuyung.


"Kamu putraku, benar kamu putraku, lihatlah wajah kita mirip, dan kamu sama persis seperti saat aku muda. Sini Nak, papa rindu kamu. Arga...ini Papa Nak, Papa masih hidup!" ucap Riko sembari menghapus air matanya yang meleleh.


"Papa rindu kalian, dimana Mirna, mama mu Nak? Ayo antar Papa menemui mama kamu!" pinta Fras sembari mengguncang bahu Arga.


"Om apaan sih, sudah aku bilang 'kan, aku bukan anak Om. Aku anak Papa Fras! Maaf, aku harus pergi!" ucap Arga sambil melepaskan tangan Riko dari bahunya.


Arga pun buru-buru keluar dari lift, dia setengah berlari menuju parkiran untuk mengambil motornya.


Riko mengejar Arga, dia tidak mau kehilangan jejak putranya lagi. Riko sangat yakin jika pemuda itu adalah Arga. Namun Riko kecewa saat melihat Arga sudah naik ke atas motornya dan melaju dengan kencang.


"Arga anakku, kenapa kamu pergi Nak, papa rindu kamu. Maafkan Papa," monolog Riko sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Sepanjang jalan Arga juga menangis, sebenarnya dia ingin sekali memeluk Papanya, tapi ego dan rasa sakit lebih kuat dalam hatinya.


"Seandainya saja Papa tidak tinggal dengan Tante Gisella, mungkin aku bisa memaafkan Papa, meskipun Papa tidak mencariku dan mama."


Arga menggeber motornya dan melajukan lebih kencang.


"Aku akan membalas Papa! Papa sekarang pasti tahu 'kan, bagaimana rasanya dibenci oleh anak dan tidak diakui. Itu belum seberapa dibandingkan yang kami rasakan!" monolog Arga lagi.


Sementara Riko yang perasaannya sudah mulai tenang bermaksud pergi ke warung kuliner Mirna.


Dia yakin Mirna pemilik warung kuliner itu adalah istrinya. Apalagi setelah Arga mengatakan jika dia adalah putra Fras.


Riko bergegas mengendarai mobilnya, dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Mirna.


Dengan mengikuti petunjuk maps, Riko pun tiba dilokasi dan dia melihat warung itu sangat ramai karena tepat jam makan siang.


Riko berjalan masuk dan diapun mencari tempat duduk yang kosong. Pelayan pun menghampiri Riko sembari membawa buku menu. Riko memilih menu andalan di sana yang kebetulan adalah makanan pavoritnya.


Sambil menunggu pesanannya datang, mata Riko celingukan kesana kemari, dia tidak sabar ingin mencari Mirna di sana.


Karena pelanggan terlalu ramai tentu saja Mirna juga sedang sibuk di dapur bersama para koki dan asistennya, dia belum sempat ke depan untuk memperhatikan para tamu.


Pesanan Riko pun tiba, mencium aromanya dia jadi teringat masa-masa saat bersama Mirna. Riko dulu sering meminta Mirna untuk membuat masakan tersebut.


Air mata kembali menetes saat Riko menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Dia berhenti mengunyah dan meresapi rasa masakan tersebut.


Artha yang sedang melintas, membantu menyajikan makanan ke meja di depan Riko, berdiri mematung, saat melihat Riko sedang menghapus air matanya dengan sapu tangan yang ada di tangan kirinya.


Dengan setengah berlari, Artha pun mencari Dirta dan dia menceritakan apa yang baru saja dia lihat.


Dirta pun ikut terkejut dan saking penasaran diapun berjalan menuju meja yang Artha tunjuk.


Bersambung.....