DENDAM SANG PEWARIS

DENDAM SANG PEWARIS
BAB 50. KEHANCURAN HATI RIKO


Dengan langkah gontai Riko meninggalkan warung kuliner Mirna, hatinya sakit telah mendapat penolakan dari istri yang selama ini dia cari-cari keberadaannya.


Tapi Riko tidak akan menyerah, dia akan berusaha agar Mirna dan Arga suatu hari nanti kembali kepadanya.


Riko tidak kembali ke rumah sakit, melainkan pergi ke taman di mana dirinya dulu sering datang bersama Mirna dan Arga kecil untuk bermain-main di sana.


Kenangan demi kenangan terlintas silih berganti, tawa Mirna dan Arga saat itu merupakan momen bahagia yang paling Riko tunggu setiap akhir pekan.


Riko menangis, dia ingat janji terakhir sebelum terjadi kecelakaan yang memisahkan dia dengan Mirna dan Arga. Janji akan pindah rumah dan mengungkapkan identitas Mirna serta Arga di depan keluarganya.


Kini Riko sudah menemukan Mirna dan Arga, dan dia akan memenuhi janjinya itu meski terlambat.


Riko bangkit dan kembali ke mobil, lalu dia pergi menemui pengacaranya. Riko ingin Mirna dan Arga mendapatkan hak yang selama ini dinikmati oleh Gisella dan anak-anaknya.


Sesampainya di kantor pengacara, Riko pun dipersilakan masuk, lalu dia menjelaskan maksud kedatangannya saat ini.


Riko meminta pengacara untuk mengurus surat menyurat pengalihan harta, terutama perusahaan serta rumah yang secara diam-diam telah Riko beli untuk kejutan bila dia menemukan Mirna dan Arga.


Pengacara terkejut dan beliau menanyakan kenapa hal itu tidak di berikan kepada Gisella dan kedua putranya. Karena selama ini yang pengacara tahu mereka lah keluarga Riko.


Riko pun menjelaskan jika Rendi dan Bara bukanlah putra kandungnya meski Gisella adalah istrinya. Gisella sedang hamil tua, saat dia menemukan Riko secara tidak sengaja.


Bisa dipastikan jika Bara juga bukan putranya, karena sebelum kecelakaan itu terjadi Riko sama sekali tidak pernah menyentuh Gisella. Dia selalu tidur bersama Mirna dan juga bayi Arga.


Namun hilangnya ingatan Riko saat itu telah dimanfaatkan oleh Gisella hingga mereka menjadi satu keluarga yang utuh. Rendi dan Bara sampai saat ini hanya tahu jika Riko adalah papa mereka.


Dan seiring berjalannya waktu, Riko pun perlahan mencoba membuka hati untuk Gisella.


Riko saat itu sudah putus asa karena usahanya untuk menemukan Mirna serta Arga selalu gagal. Akhirnya perhatian Gisella, Rendi dan Bara meluluhkan hati Riko hingga diapun menghentikan pencariannya.


Pengacara pun tidak mau membuat Riko sedih karena telah mengungkit cerita masa lalu kliennya. Kemudian beliau berjanji akan secepatnya mengurus masalah tersebut.


Tapi Riko tetap seorang papa bagi Rendi dan juga Bara, maka diapun memberikan bagian harta untuk keduanya meski tidak sebanyak yang Arga terima.


Setelah urusannya beres, Riko pun pamit, dia akan mencari Arga dan menjelaskan semuanya. Riko berharap Arga akan mengerti dan mau memaafkannya, meski tadi Arga sempat tidak mengakuinya sebagai Papa.


Riko ingat Bara pernah berkelahi dengan Arga di kampus mereka, lalu Riko pun melajukan mobilnya ke arah kampus. Dia berharap bisa menemukan putranya di sana.


Dengan kencang Riko melajukan mobilnya, hingga dalam waktu setengah jam saja dia sudah sampai di tempat tujuannya.


Ternyata kelas Arga baru saja berakhir, hingga Riko pun pamit, dia bermaksud keliling kampus untuk mencari Arga.


Riko berharap Arga masih berada di sana bersama teman-temannya.


Usaha Riko tidak sia-sia, dia melihat Arga sedang nongkrong bersama Cinta dan dua temannya.


Riko pun mendekati mereka, hingga membuat Cinta yang melihat Riko, menyenggol lengan Arga yang masih asyik ngobrol dengan teman sekelasnya.


"Ga, lihat! Bukankah itu Om Riko? Ngapain beliau kesini? Sepertinya beliau mau menyamperin kita. Jangan-jangan ini tidak ada hubungannya dengan Bara," ucap Cinta yang merasa cemas.


"Oh, dia akhirnya kesini! Hemm, kamu nggak perlu takut. Dia pasti mencariku."


Cinta makin bingung, dia takut Riko akan menekan Arga demi Bara. Meski selama ini cinta tahu, Riko tidak pernah memaksakan kehendaknya terhadap hubungan mereka.


"Nak, maaf sebelumnya, papa terpaksa ke sini, ada yang ingin Papa bicarakan denganmu," ucap Riko yang langsung membuka identitasnya di hadapan Arga dan teman-temannya.


Semua bingung mendengar Riko menyebut dirinya Papa terhadap Arga, terutama Cinta. Tapi, Arga yang memang dasarnya anak baik tidak ingin marah terhadap Riko di depan teman-temannya.


Arga pamit kepada Cinta dan teman-temannya, dia mengatakan akan segera kembali setelah berbicara sebentar dengan Riko.


Cinta pun mengangguk, meski dirinya masih penasaran dengan sikap Riko tadi.


Arga mengajak Riko untuk menjauh dari tempat itu, lalu diapun memulai percakapan.


"Ngapain Anda mencari saya? Anda salah orang! Aku bukan putra Anda, jadi sekarang pergilah. Aku masih ada urusan dengan teman-teman ku," ucap Arga sembari berbalik dan hendak melangkah pergi.


Riko menarik lengan Arga dan berkata, "Tunggu Nak, aku akan menjelaskan semuanya. Dari sikapmu menunjukkan jika kamu sudah mengetahui jika aku Papamu."


"Kamu pasti membenciku, karena kamu pasti berpikir jika aku selama ini tidak mencari dan mengabaikan kalian."


Arga terdiam, tapi kemarahannya kembali memuncak saat dia teringat, kehidupan Riko bersama Gisella, Rendi dan Bara sangat bahagia, sedangkan dia dan mamanya hidup menderita.


Dia menghempaskan tangan Riko lalu berbalik dan matanya pun berkaca-kaca sembari berkata, "Kamu tidak mencintai kami, jadi pergilah sebelum aku membalasmu! Jangan usik kebahagiaan yang sudah susah payah aku dan mama ku dapatkan."


"Aku dan Mama sangat membencimu!" seru Arga, lalu diapun berlari meninggalkan Riko sambil menangis.


Bersambung....