
Arga menggenggam tangan mamanya, lalu dia berkata, "Arga sudah melihat Mama bahagia bersama Papa Fras dan kini giliran Arga untuk membahagiakan Papa. Tapi Mama jangan takut, Arga akan mengunjungi Mama setiap hari. Arga janji Ma," ucap Arga sembari mengangkat jari kelingkingnya.
Mirna yang melihat hal itupun tersenyum lalu mengaitkan kelingkingnya ke jari Arga, "Mama percaya kamu kok Nak, kamu selalu bisa meluluhkan hati Mama."
Fras yang mendengar hal itupun bersyukur dan diapun berkata, "Kalau begitu aku akan atur pertemuan kalian dengan Riko. Sekaligus ada yang ingin aku sampaikan kepadanya."
"Iya Pa, mama juga ingin minta maaf. Semua ini sudah takdir dan kita semua harus ikhlas dengan yang sudah digariskan oleh Tuhan. Semoga kita bahagia dengan kehidupan baru masing-masing."
"Alhamdulillah, Papa senang mendengarnya Ma. Meski ngga berjodoh lagi, masih tetap bisa menjadi keluarga, karena ada ikatan anak."
"Terimakasih Pa, Arga salut dengan pemikiran Papa. Kami beruntung memiliki Papa."
Fras pun tersenyum, lalu mengacak rambut Arga, "Kamu bisa saja Nak. Papa juga beruntung memiliki kalian."
Akhirnya merekapun memutuskan untuk beristirahat. Kini Arga bisa tersenyum, dia memiliki tiga orangtua yang sama baik. Kerinduannya akan sosok Papa sudah terobati. Harapan kedepannya adalah bisa melihat Papa Riko nya bahagia meski tanpa sang mama.
Riko yang sudah tiba di rumah sakit, langsung menuju ruangan Rendi dan dia melihat Gisella uring-uringan. Gisella kesal karena berita buruk tentangnya sudah menyebar luas dan dia akan membalas siapapun orang di balik penyebar berita tersebut.
Dan kini Gisella yakin jika itu adalah Mirna dan Arga, tapi dia akan tetap menyembunyikan hal itu dari Riko.
Setelah Rendi keluar dari rumah sakit, Gisella akan mencari dan membuat perhitungan dengan Mirna. Dia tidak mau kebahagiaannya terusik jika sampai Riko mengetahui akan hal itu.
Melihat Riko datang, Gisella langsung memasang muka manis, dia bergelayut manja sembari berkata, "Pa, sebaiknya perawatan Rendi kita pindahkan ke rumah saja. Mungkin dengan begitu dia bisa cepat sembuh, di sini terus, mama rasa makin membuat mentalnya down. Apalagi setiap hari dia melihat ada saja pasien yang meninggal."
"Kita konsultasi dulu dengan dokter, jangan sembarangan mengambil keputusan. Bahaya untuk keadaan Rendi sekarang."
"Ya udah, Papa jaga Rendi dulu, biar Mama yang menemui dokter," ucap Gisella yang sudah tidak sabar ingin keluar dari rumah sakit.
Riko pun menghela nafas, dia tidak bisa menahan jika Gisella sudah punya kemauan.
Kemudian Riko mendekati Rendi yang ternyata baru bangun tidur.
"Bagaimana keadaan mu Nak, apa perut kamu masih terasa sakit?"
"Sepertinya sudah mendingan Pa, Rendi bosan terbaring terus. Rendi ingin pulang Pa. Tolong mintakan izin kepada dokter."
"Oh ya, Mama mana Pa?"
"Ke ruangan dokter, mama mau minta izin agar kamu diperbolehkan pulang."
"Serius Pa! Syukur deh. Aku sudah tidak sabar ingin menghirup udara luar, terutama..." Rendi menghentikan ucapannya, dia hampir saja keceplosan.
"Terutama apa?"
"Ingin tidur di kamarku Pa, di sini tidak enak, aku tidak bisa nyenyak. Lagipula aku juga rindu bertemu teman-teman."
"Kita tunggu mama kamu, mudah-mudahan saja dokter mengizinkan."
Rendi pun mengangguk lalu dia fokus dengan ponselnya lagi. Sebenarnya Rendi juga tidak merasa nyaman dengan berita tentang keburukan keluarganya yang sudah menyebar. Dia juga bermaksud untuk mencari Mirna dan Arga. Dia akan menyingkirkan penghalang kebahagiaan keluarganya.
Riko yang mendengar ponselnya berdering segera melihatnya dan di sana tertera nama Fras, lalu diapun pamit kepada Rendi untuk keluar sebentar. Riko beralasan ingin berbicara penting dengan koleganya.
Rendi pun mengangguk, walau dia sedikit curiga. Karena sebelumnya Riko selalu aman saja menerima telepon masuk dari siapapun di hadapan Rendi maupun mamanya.
Fras meminta Riko datang besok ke rumahnya karena Fras tidak ingin Mirna pergi kemanapun yang bisa membuat kondisinya semakin lemah.
Riko setuju dan dia berjanji akan datang sepulang dari kantor.
Wajah Riko berbinar, saat ini dia hanya ingin meminta maaf dan mendapatkan izin untuk tinggal bersama Arga.
Karena Riko tahu, dia tidak akan mungkin bisa lagi memiliki Mirna. Apalagi saat Riko tahu dari Arga jika wanita yang sangat dia cintai itu sedang hamil anak Fras.
Cinta Riko sudah sampai ke batas puncak yaitu merelakan. Dia sudah ikhlas dengan takdir, asalkan Mirna hidup bahagia.
Rendi yang merasa curiga ternyata dengan susah payah turun dari tempat tidur, dia menguping semua pembicaraan Riko di telepon.
Mendengar sang Papa akan menemui Mirna dan Arga tangannya mengepal, dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Agar Riko tidak curiga, Rendi pun kembali ke tempat tidurnya dan pura-pura memejamkan mata. Rendi masih memikirkan cara bagaimana dia akan menghalangi kepergian Riko ke rumah Fras.
Rendi marah dengan kondisinya yang tidak bisa berbuat apapun, satu-satunya cara adalah memberitahu sang Mama untuk menghalangi Riko.
Riko kembali ke kamar dan dia tenang melihat Rendi sudah tertidur lagi. Karena lelah Riko pun membaringkan tubuhnya di sofa sembari menunggu Gisella kembali.
Gisella yang berhasil memaksa dokter akhirnya mendapatkan keinginannya.
Dokter mengizinkan Rendi pulang dengan syarat, Gisella harus menandatangani surat pernyataan yang isinya adalah tidak akan menuntut pihak rumah sakit jika terjadi hal buruk terhadap Rendi.
Gisella pun setuju, lalu tanpa pikir panjang diapun menandatangani surat pernyataan tersebut.
Setelah itu diapun kembali ke ruang rawat Rendi untuk memberitahukan kabar tersebut.
Dokter hanya menggelengkan kepala, beliau tidak bisa memaksa jika keluarga pasien tetap memaksa untuk membawa pulang pasiennya.
Dengan wajah sumringah Gisella mengabarkan hal itu dan Rendi pun pura-pura terbangun dan langsung menimpalin perkataan mamanya.
"Serius Ma, aku boleh pulang?"
"Iya sayang. Sebentar lagi suster akan kesini membuka selang infus. Mama bersiap dulu ya."
Riko hanya memperhatikan keduanya, sebenarnya dia merasa keberatan karena penyakit Rendi bukanlah penyakit biasa, tapi dia juga tidak bisa melarang.
Akhirnya suster pun datang, membuka selang infus dan memberikan obat. Suster hanya berpesan agar Rendi menjaga kondisinya agar tidak ngedrop kembali.
Gisella yang sudah bersiap langsung meminta Riko untuk memindahkan Rendi ke kursi roda.
Riko pun menuruti permintaan Gisella, lalu mereka pun meninggalkan ruangan untuk pulang ke rumah.
Bara yang masih stres mengamuk, dia melempar barang setiap kali ingat hubungannya dengan Cinta.
Kemudian Bara menelepon temannya, agar membawakan obat terlarang untuk menenangkan pikiran. Temannya pun berjanji akan segera datang mengantar pesanan Bara.
Bersambung....