
happy reading all 😍
.
.
.
.
.
.
.
bismillah
.
.
.
.
" ya Allah....!!!"
pekik ketiganya melihat Bayu tengah duduk di pinggiran jalan dengan luka lebam di sekitaran wajahnya , mereka langsung ikut turun dari mobil.
"pak ini ongkosnya maaf ya pak kita turun disini aja ga apa-apa saya bayar sesuai aplikasi... "ucapku
"makasih neng...." jawabnya lalu mobil pun pergi.
.
.
.
" Bayu....!!!" panggilku , Bayu tergelonjak kaget... melihat ku seperti melihat sosok tak kasat mata saja...ia langsung tertunduk ,pandangan nya dialihkan ke arah lain.
" ya Allah bay....ai kamu nanaonan (kamu ngapain)....kamu berantem ????" tanya Vina terlihat khawatir , terlihat para warga membubarkan kerumunan warga yg melihat ,lalu memisahkan antara pihak Bayu dan pihak lawan, malahan mereka membawa beberapa pihak lawan yg membawa senjata tajam ke kantor polisi untuk diamankan karena meresahkan.
" loe ga apa-apa kan bay??? Rama , sama Gilang dimana???" tanyaku mulai khawatir dengan keselamatan Rama melihat keadaan Bayu yg tampak menyedihkan,
Bayu hanya mengangguk ragu tanpa menatapku ,ada apa sih ini....
" sini gue obatin..." Vina dan Rika menarik Bayu setelah Mita membeli obat merah dan beberapa plester.
"Rama mana ,bay....??? tanyaku sedikit menaikkan intonasi suaraku.
"emmm...itu emmm.... Rama...." apa karena ditonjok kini Bayu berubah menjadi gagap , seberapa kuat tonjokan nya sampai menyebabkan saraf Bayu putus.
Bayu mendongak melihat wajahku ragu ragu "udah bay...ngomong aja ga usah takut..." ucapku menepuk pundaknya.
" Rama lagi bawa Ridwan ke RS bareng Gilang.... cicitnya.
"apa??? " pekikku dan yang lain,jujur perasaan ku kini tak karuan.
" Ridwan kenapa ???"
" Ridwan kena tusukan di bahunya..." ucap Bayu sedikit ketakutan dengan tampang kami , dibanding dengan tampang sosok wanita yg senang duduk di atas pohon duren di tengah malam Jum'at lebih menakutkan lagi tampang gadis gadis dihadapannya saat ini .
" ampuni gue Ram...." batin Bayu mengaduh .
" hah!!!! kenapa loe ga bilang dari tadi sii .. rumah sakit mana???"
" RS xxxxx "
" ya udah buruan yu...." ajakku yg cemas akan keadaan Rama dan yg lainnya .
langkahku berhenti saat sosok yg ku cari sedang duduk manis menunggu di luar ruang UGD.
kuatur nafasku yg terasa sesak "hoff..hoff...." aku mengusap wajahku kasar, ada sedikit kelegaan melihat Rama baik-baik saja sedang menyampirkan jaketnya di bahunya hanya terlihat beberapa goresan di lengan dan pipinya ,and totally semuanya baik baik saja tidak ada yg kurang... baguslah sebentar lagi aku yg akan menghabisinya.
rasa khawatir dan takut berubah menjadi rasa kesal dan marah ,,,,bahkan kecewa mendominasi.
" Nara..." gumamnya terkejut melihat kedatanganku wajahnya datar namun tak lama ia tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. Hebat sekali apa perlu aku beri piala citra untuk aktingnya.
ia menghampiriku dan meraih kedua tanganku " ko bisa disini ???" tanyanya.
aku menatapnya datar ,wajah dengan anak rambut yg dibasahi peluh , beberapa luka goresan yg dar*hnya belum mengering dan bercak kotor di bajunya ,aku sangat kecewa pada Rama ternyata seorang aku bahkan tidak bisa melarang nya ,aku merasa tak di dengar dan dihargai , bagaimana rasanya jika orang yg kamu khawatirkan justru tidak mendengarkan permintaan mu orang yg menganggap dirimu orang spesial dan melebeli dirinya sebagai pacar tapi tak mendengar keluhan mu.
" harusnya aku yg nanya kamu ....jadi ini urusan penting kamu ??? tanyaku menahan emosi yg mungkin sebentar lagi akan meledak dan mengeluarkan lelehan air dari mataku "berantem???" tambahku lagi ,ia terdiam ,namun kini perhatiannya teralih ke arah belakang ku dimana Vina dan yang lain menyusul netra nya tertuju pada Bayu ,menajam meminta penjelasan , Bayu mengatupkan tangan di depannya meminta maaf seraya meringis.
"ikut aku..." ajaknya keluar dari gedung dan menuju taman rumah sakit.
angin sejuk menerpa wajahku mengibas ngibaskan rambutku tak beraturan
" aku kecewa...." ucapku
langkah Rama terhenti atas ucapan singkatku
tak ada ekspresi berarti , Rama menangkup pipiku dengan wajah tertunduk ,lelehan air mata sudah siap mengalir tak tertahan semua rasa takut,khawatir dan kecewa bercampur jadi satu saat melihat wajah Rama.
" kamu liat kan apa yg terjadi sama Ridwan ....dan ga menutup kemungkinan kamu juga bakal ada di posisi Ridwan ,masih mau tawuran ??" akhirnya sudah tak tertahan lagi ,mataku yg kabur oleh air mata akhir nya menetes juga di pipiku .
"hey...hey...suutt jangan nangis...iya maaf ....maafin aku , Ra...." ia mencoba menenangkan ku yg sesenggukan,ibu jarinya menghapus jejak air mata dan sebelah tangannya yg bebas menggenggam tanganku yg kini beralih ke punggung ku menarikku ke dalam pelukannya .
" apa dengan cara membalas mereka adalah cara terbaik untuk mempertahankan sebuah harga diri...??" suara ku yg berat tersendat karena sesenggukan.
Rama menepuk-nepuk punggung ku ,tanganku membalas pelukannya dan mencengkram kaos hitamnya .
" sorry...." bisiknya di telingaku sambil menunduk karena perbedaan tinggi aku dan Rama ,aku yg hanya sebatas dada nya menyerukkan lebih dalam ke dada bidangnya .
aku menjauhkan wajahku dan memberi jarak
" ternyata aku tidak cukup berarti buat kamu ,untuk melarang mu berantem saja aku tak bisa ..." cicitku sambil mengusap air dari hidungku yg ikut meleleh ,ntah keberanian darimana tiba tiba saja mulutku mengeluarkan semua isi hatiku ,wajah Rama bergeming dan menautkan alisnya " ko gitu ngomongnya....kamu sangat berarti buatku , Ra..." jawabnya tak terima.
" duduk dulu yu...,aku beliin minum ya...sebentar..." ia membawaku duduk di sebuah bangku taman lalu ia berlari kecil menuju kantin rumah sakit .
kalau begitu untuk apa aku menjadi pacarnya jika untuk melarang nya saja aku tak mampu ,bukankah sebuah hubungan itu saling menghargai dan saling mendengarkan,dan kurasa hal itu kini tidak berlaku untukku..
"minum...." Rama menyerahkan air mineral botol membuyarkan semua lamunanku.
aku meraih nya "makasih...."
" maaf... sudah mengecewakan mu , Ra....tapi sungguh ini diluar dugaanku dan yang lain , awalnya niat kita cuman mau berdamai dan meminta maaf atas kejadian tempo hari tapi ternyata mereka tak terima dan malah menyerang , ternyata tujuan mereka juga ingin menguasai pasar , Ra..." jelas Rama
" sungguh tidak ada niat untuk memulai permusuhan," Rama tertunduk
memang saat itu Rama dan yg lain berniat meluruskan masalah dan berdamai karena ternyata masalah tempo hari meluas , beberapa berandalan itu memanggil dan melaporkan masalah pertengkaran mereka di pasar pada teman temannya yg lain,namun ternyata niat baik Rama dkk malah dibalas dengan penusukan Ridwan membuat Rama dan yg lain naik pitam dan membalas ,walaupun jumlah mereka yg banyak dan berbagai senjata tajam ,namun Rama dkk tak kalah ,justru mereka lah yg dibuat kewalahan .
" aku takut ......takut kamu kenapa-napa Ram...." tanpa malu aku menaruh kepalaku di bahunya dari samping .
senyum kecil terbit dari wajah Rama ,ia mengusap kepalaku " aku ga apa-apa,,,,makasih sudah khawatir..." ucapnya
"maafkan aku sudah buat kamu khawatir , insyaallah ini yang terakhir..." ucapnya lalu menarikku ke dalam pelukannya,membuatku blushing
" cuppp.....". Rama mengecup pucuk kepalaku dalam
" aku pikir kamu bakal mutusin aku..." ujar Rama malah merusak suasana romantis .
" oh jadi kamu mau???" ucapku yg melencang depankan bibirku dan menarik kepalaku
" ya engga lah...justru aku keingetan sama ucapan kamu kemaren yg ngancem minta putus kalo aku berantem..." goda Rama
"emang ....." jawabku melipat kedua tangan ku di dada mana bisa gue minta putus ,kalo baru di gombali saja gue langsung blushing...sehari ga ketemu aja udah kaya setaun ga ketemu ,semurahan itu gue sekarang sama cowo....aduhhh tobat Nara....kayanya otak lu dah geser deh gara gara cowo tengil satu ini .
"please Ra,,jangan pergi...stay with me...." ucapnya menangkup kedua pipiku dan menatap manik mataku jauh menerawang menyampaikan rasa takut kehilangannya.