Cintaku Dipalak Preman Pasar Soleh

Cintaku Dipalak Preman Pasar Soleh
Mama Nara berbadan dua lagi


Author pov


"Ra, loe gendutan deh sekarang !" ucap Airin.


"Ah masa sih ?!" Nara melihat pantulan dirinya di cermin kelas. Nara sudah masuk semester 5, hanya tinggal 1,5 tahun lagi ia akan menyabet gelar sarjananya.


"Jadi loe bilang gue gendut gitu ?" Nara kesal karena Airin mengatainya gendut, walaupun secara tidak langsung.


"Engga gitu, cuma keliatan berisi aja dari sebelumnya !" jawab Airin hati hati, salah salah ia berucap Nara bisa tersinggung. Airin tak mengerti Nara belakangan ini begitu sensitif dan cepat tersinggung.


"Hay sayang, hay Ra...widihhh mamanya Azka makin mont..." Airin secepatnya membekap mulut lemes kekasihnya itu. Jangan sampai gara gara lidahnya yang tidak bertulang mengucapkan kata mon*tok lantas ia akan menjadi umpan untuk singa di kebun binatang Bandung nanti.


"Kenapa? " tanya Satria menggumam.


"Lagi sensi, " bisik Airin.


"Lagi datang bulan?" Airin menggeleng tak tau.


Rama akhirnya datang, motornya parkir di depan kampus Nara.


"Sayang, " pekiknya lantang, bukan hanya Nara yang menoleh, tapi yang lain ikut menoleh.


"Rin, bang Sat gue balik dulu daddy nya Azka udah jemput !" ucap Nara.


"Iya, hati hati !" ucap keduanya melambaikan tangannya.


Nara diam sepanjang jalan. Tak ada kata yang keluar dari mulut manisnya. Rama melirik, pasti ada yang salah dengan istri gemoynya ini. Biasanya ia akan cerewet walaupun itu hanya hal sepele, pasti ia akan menceritakannya pada Rama.


Rama menghentikan motornya di depan taman Panda.


"Kenapa?" tanya Rama.


"Apanya?"


"Pasti ada yang salah ?" tanya Rama peka, menjadi suami dan ayah satu orang anak, membuat kepekaannya berkali kali lipat, ia tak akan membiarkan bagian dari hidupnya terluka atau tersakiti.


Nara tiba tiba menangis, sontak saja Rama kebingungan, jika orang orang melihatnya begini, yang ada orang orang akan berfikir jika Rama adalah lelaki br3ngs3k.


"Loh kok nangis ?! jangan nangis gini, nanti dikira daddy ngapa ngapain bunda, kalo mau nangis nanti aja malem !" jawabnya. Yang benar saja, menangis pun harus di jadwal.


"Maksudnya?"


"Nangisnya barengan sama yang sering nongkrong di pohon nangka !" kelakar Rama, bukannya tertawa atau cemberut, tapi Nara semakin berurai air mata sampai sesenggukan, membuat Rama semakin merasa bersalah.


"Ehh..ehh..maaf canda sayang !" Rama menangkup pipi Nara yang semakin terlihat menggemaskan, kedua ibu jarinya mengusap air mata di pipi Nara.


"Jangan nangis atuh, nanti Bandung hujan !" ucap Rama.


"Ko bisa ?" tanya Nara sesenggukan.


"Soalnya bidadarinya Allah nangis, " jawabnya tersenyum terkekeh.


"Biarin ! masih mau nangis juga !" ketus Nara.


"Jangan, kasian atuh yang pacaran kalo dikasih ujan ! ga bisa jalan jalan keliling Bandung, " jawab Rama.


"Bundanya Azka kenapa?" tanya Rama.


"Orang orang bilang aku gendut," jawab Nara, Rama mengangkat kedua alisnya, tak percaya perempuan yang sudah melewati kerasnya hidup bersamanya selama hampir 2 tahun ini menangis hanya gara gara disebut gendut.


"Coba kamu bilang jujur, apa aku gendutan sekarang?" tanya Nara meminta Rama jujur, jika oleh Airin saja ia sampai menangis, apalagi olehnya, bisa bisa jatah malamnya di cancel untuk beberapa minggu ke depan.


"Memangnya salah kalo gendut?" tanya Rama.


"Engga, tapi aku ga gendut kan ?" tanya Nara.


"Kamu bahagia kalo disebut apa?" tanya Rama.


Nara bingung, ia ingin sebuah kejujuran tapi jika jawabannya adalah gendut, bye bye tidur seranjang. Memang disitulah terkadang Rama merasa sedih. Laki laki selalu salah di mata wanita, bohong dosa pasti jawabannya jujur aja, walaupun menyakitkan..aku lebih menghargai kejujuran. Tapi jika benar benar jujur maka bukan main ancamannya, mungkin pedangnya akan benar benar tumpul dan berkarat.


"Kamu sexy, kamu ideal, dan kamu sehat itu yang penting ! bagian bagian tertentu kamu makin enak dipegang !" kata kata terakhir itu Rama bisikkan pelan di telinga Nara, agar orang orang dibawah 18 tahun tak mendengarnya, bisa bisa Rama ditampar warga satu kota Bandung, mengucapkan kalimat itu di depan umum.


Akhirnya Nara lega mendengar jawaban dari suaminya, padahal jika dipikir pikir sama saja artinya, Rama memang pawangnya kata kata manis, entah ditaruh gula berapa kilo dalam mulutnya. Apapun yang ia ucapkan manis seperti kue cucur.


*************


Rama masuk ke dalam kamar setelah lelahnya bekerja, tapi apa yang ia temukan, istrinya tengah menangis lagi di ranjang.


"Kenapa lagi sayang?" Rama bahkan belum memakai baju, rambutnya masih acak acakan.


"Tadi aku coba kilo berat badan, ternyata bb ku naik 4 kilo !" begitu mudahnya ia sesenggukan.


"Ambu juga bilang gini, neng semenjak pulang dari pangandaran neng gendutan, seneng makan !" ucapnya terbata layaknya anak kecil yang menangis karena disakiti temannya.


Lama Rama menenangkan Nara, akhirnya Nara tertidur bersama Azka, Rama turun dari kamar membawa laptopnya.


"A, teh Nara kenapa? lagi datang bulan ya?" tanya Nia.


"Kenapa emangnya?"


"Lebih diem, dia juga kayanya kesel dibilang berisi sama Wawan tadi sore, padahal kan teteh jarang marah sama orang lain kecuali sama suaminya, " Nia tertawa. Rama pun merasakan ada yang aneh dengan Nara nya sejak tadi siang.


"A ! mau kemana?" tanya Nia.


"Ke apotek !" jawab Rama menyambar jaketnya.


Rama menyunggingkan senyumnya melihat benda pipih kecil yang terbungkus sempurna dalam kemasan.


**********************


Pagi pagi Rama sudah dibuat pusing 7 keliling dengan Nara yang manja dan menginginkan bubur ayam dengan 10 topping. Sebenarnya itu permintaan mudah, tapi yang benar saja pukul 3 dini hari, mungkin tukang buburnya saja baru menaruh berasnya di dalam kuali.


"Aa, udah ga sayang lagi aku !"


"Aa udah punya yang baru ya?!"


"Apa bener kata orang kalo aku gendut, terus aa lirik cewek lain, gadis pula !"


"Aa mau poligami? aku ga mau !!!"


"Daripada dimadu mendingan diracun aja sekalian !"


"Aa jahat, ga nyangka janjinya palsu !! kaya gula biang !" tangis Nara.


Harus menjawab apa Rama sekarang, nyawanya saja baru berkumpul. Rama memeluk Nara yang berontak, ibu satu anak ini masih saja menangis, hidungnya bahkan sudah memerah seperti badut, Rama menarik dagu Nara dan mengecup bibirnya berkali kali.


"Nih, udah diracun !" jawabnya setelah mencium Nara.


"Sayang coba pake ini," Rama memberikan barang yang semalam ia beli.


"Apa ini ?" tanya Nara.


"Itu racun !!" jawab Rama, membuat bibir Nara mengerucut.


"Ya masa dikasih racun atuh ?!" jawab Rama. Nara masuk ke kamar mandi, ia bukan tak mengerti, ia tau ini alat apa, tapi ia kan tak muntah muntah seperti saat mengandung Azka dulu.


Rama harap harap cemas menunggu hasilnya.


Akhirnya 5 menit kemudian Nara keluar.


"Gimana ?!" tanya Rama.


"Ga tau, belum aku liat..barusan abis poop !" jawab Nara.


Rama masuk untuk melihat hasilnya. Baru saja masuk, Rama sudah berteriak.


"Alhamdulillah !!!!"


*************


Setelah mengetahui jika Nara tengah mengandung anak keduanya, yang dilakukan pertama kali adalah menyembunyikan semua timbangan berat badan dan membuat semua orang mengh4ramkan kata gendut, ataupun mon*tok. Jika tidak cekik saja ia, maka hari harinya akan dipenuhi dengan drama menguras air mata dari bidadari surganya.


Pagi ini Nara sarapan dengan bubur 10 topping, ia benar benar menghabiskannya.


"A, teteh kalo ga dikontrol makannya, nanti gen...semox," ralat Nia.


"Kalo ngaca, nanti aa juga yang kena !" bisik Nia.


"Apa perlu aa umpetin juga kaca yang ada di rumah ini ?" tanya Rama pada Nia.


"Kalian bisik bisik ngomongin apa sih ?" tanya Nara dengan mata tajamnya. Ambu tertawa melihat kedua anaknya yang sawan melihat wajah menantunya.


"Engga yank, lagi ngomongin si ucup !" jawab Rama.


"Kayanya aa siap siap jadi perkedel kalo sampe bikin salah !" kikik Nia.


"Selamat ya A, selamat bersusah susah ria ! jangan mau pas bikinnya aja, " tambah Nia.


"Neng, nanti mau periksa ke bidan sama aa apa sama ambu ?!" tanya Ambu.


"Sama ambu aja, lagi ga mau deket deket aa, bawaannya eneg kalo liat playboy !" jawab Nara, Nia sampai menyemburkan susunya, dan Rama melongo disebut playboy oleh istrinya sendiri, dan Azka tergelak gemas melihat tantenya menyemburkan susu yang tengah diminumnya. Seakan tak tau jika daddynya tengah menelan air ludah dengan susah payah.


"Hahahaha, puas alias sokorrr ! mulai nanti malam sampai neng Nara normal lagi ngeronda aja bareng Wawan, anak aa yang ini ga mau deket deket bapaknya !" jawab abah.


kasiannya daddy Azka



.


.


.


Kalo kamu kangen sama kelasnya Aa sama Nara, MIPA3 yang absurd, chat story MIPA 3 aku update lagi loh !!!! bisa pantengin keabsurdan masa lawas mereka sambil nostalgia.


Jangan lupa mampir ke karyaku yang baru ya 😘😘