Bulan & Bintang (Revisi)

Bulan & Bintang (Revisi)
Bagian 9. Salah Paham


"Assalamualaikum" sapa Bulan sopan.


"Wa'alaikumsalam" balas kedua sosok yang tengah duduk di sofa ruang tamu.


"Bulan, kamu sudah pulang sayang?" tanya seseorang khas suara wanita.


"Iya, Ma." jawab Bulan singkat.


Bulan pun menghampiri kedua sosok tersebut dan menyalami punggung tangannya. Bintang pun tidak hanya tinggal diam. Ia pun melakukan hal yang sama yang dilakukan Bulan. Tentu itu menjadi pertanyaan besar di hati orang tuanya. Bulan itu anak baik baik, tidak biasanya bawa laki laki ke rumah. Jangankan bawa ke rumah, teman laki lakinya pun tidak ada.


"Ohh ya Ma, Pa, ini Bintang teman sekelasnya Bulan." ucap Bulan seraya memperkenalkan Bintang di depan kedua orang tuanya.


"Hallo, Bintang, saya Tante Mila, ibunya Bulan." ucap Bu Mila memperkenalkan ditinya. "Dan ini suami tante, Om Irwan" sambungnya sembari memperkenalkan Pak Irwan kepada Bintang.


"Halo tante, om" sapanya disertai dengan anggukan dan senyuman manis.


"Benar kata Bulan, mama-nya baika banget. Tapi papa-nya...." batin Bintang saat melihat ayahnya Bulan memandangnya sinis.


"Tidak biasanya Bulan punya teman laki laki. Setahu saya, ia itu alergi banget sama yang namanya laki laki. Dan selama ini pun,  ia hanya berteman dengan Tata. Sejak kapan ia mempunyai teman laki laki?" batin Bu Mila penasaran. "Tapi anak ini juga keliatan baik dan sopan." sambungnya sembari memperhatikan sosok pemuda yang tengah berdiri di depannya tersebut.


Bintang yang mendapat perlakuan seperti itu pun merasa sedikit takut. Takut jika ia dimarahi oleh orang tuanya Bulan. Dan yang lebih parahnya, ia takut jika mereka dilarang untuk berteman lagi. Bintang pasti akan benar benar hancur dan sedih jika harus kehilangan Bulan.


"Bintang, duduk dulu!" ucap Bulan yang melihat Bintang dari tadi berdiri terus.


Bintang pun tersenyum kecil ke arah Bulan kemudian duduk di sampingnya.


Bu Mila terus menatap Bintang tiada hentinya. Hingga tatapannya jagih pada luka Bintang yang masih berbekas di wajah tampannya itu. "Itu, wajahnya kenapa Bintang? Kok babak belur gitu?" tanya Bu Mila penasaran.


"Ini tante, Bintang habis..." jawabnya yang belum selesai berbicara langsung dipotong oleh Pak Irwan.


"Pasti habis berantem kan." tebak Pak Irwan ketus. "


Bintang hanya menunduk. Tak ada elakan darinya, karena itulah kenyataanya.


"Lebih baik kamu pergi dan jangan pernah berteman lagi dengan putri saya".


"Tapi Pa... ".  Ucap Bulan yang langsung dipotong oleh ayahnya.


"Gak ada tapi tapian Bulan." potong Pak Irwan tegas.


"Kenapa Om?" tanya Bintang.


"Karena saya tak sudi anak saya punya teman macam kamu, anak yang suka berantem." jawab Pak Irwan tanpa memperhatikan perasaan sang penerima alasan.


"Pergi!" bentaknya sekali lagi mengusir Bintang dengan kasar. "Sebelum saya pake kekerasan".


Sementara itu, Bulan yang tengah menahan tangisnya karena sebentar lagi akan kehilangan seseorang yang berharga dalam hidupnya. Ia hanya bisa diam menjadi pendengar setia. Ingin sekali ia angkat bicara untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Tapi apalah daya, suaranya serasa tertahan ditenggorokannya.


Bintang pun menatap tajam ke arah Bulan. Gadis itu hanya diam saja. Tak membelanya sedikitpun dan memberikan penjelasan yang sesungguhnya kepada ayahnya. Kalau boleh jujur, hati Bintang serasa terpukul saat itu. Ia sudah menolong Bulan mati matian, bahkan nyawanya hampir terancam. Namun apa balasan yang didapat dari gadis itu? TAK MENGANGGAPNYA SEKALIPUN. Sungguh, Bintang benar benar kecewa.


"Dasar cewek tak tau terima kasih" batin Bintang sebelum berlalu dari tempat itu dengan wajah yang tampak marah. Tampak dari raut wajahnya ia sepertinya sedang menahan emosinya. Dan Bulan, ia hanya meratapi kepergian laki laki tersebut dengan rasa bersalah.


"Lan, kenapa lho **** banget sih? Bintang itu udah nolongin lho, kenapa lho gak belain dia. Kamu itu bodoh Bulan. Bodoh"Assalamualaikum" sapa Bulan sopan.


Bulan pun menghampiri kedua sosok tersebut dan menyalami punggung tangannya. Bintang pun tidak hanya tinggal diam. Ia pun melakukan hal yang sama yang dilakukan Bulan. Tentu itu menjafi pertanyaan besar di hati orang tuanya. Bulan itu anak baik baik, tidak biasanya bawa laki laki ke rumah. Jangankan bawa ke rumah, teman laki lakinya pun tidak ada. Trus wajah babak beli di wajah Bintang, ada apakah gerangan?


"Ohh ya Ma, Pa, ini Bintang teman sekelasnya Bulan." ucap Bulan seraya memperkenalkan Bintang di depan kedua orang tuanya.


"Hallo, Bintang, saya Tante Mila, ibunya Bulan" ucap Bu Mila memperkenalkan ditinya. "Dan ini suami tante, Om Irwan" sambungnya sembari memperkenalkan Pak Irwan kepada Bintang.


"Halo tante, om" sapanya disertai dengan anggukan dan senyuman manis.


"Tidak biasanya Bulan punya teman laki laki. Setahu saya, ia itu alergi banget sama yang namanya laki laki. Dan selama ini pun,  ia hanya berteman dengan Tata. Sejak kapankah ia mempunyai teman laki laki?" batin Bu Mila sembari memperhatikan sosok laki laki yang ada di depannya tersebut. Bintang yang mendapat perlakuan seperti itu pun mulai merasa takut. Takut jika ia dimarahi oleh orang tuanya Bulan. Dan yang lebih parahnya, ia takut jika mereka dilarang untuk berteman lagi. Bintang pasti akan benar benar hancur jika harus diperhadapkan dengan hal tersebut. Sementara itu, Bulan sedang setengah mati menahan tawanya agar tak kedengaran, melihat wajah laki laki di sampingnya tiba tiba berubah jadi pucat pasi. Ia tahu kalau laki laki itu sedang merasa ketakutan dan sedang berusaha keras untuk menyembunyikannya. "Tapi kalau diperhatikan, anak ini juga kelihatannya baik. Gak papalah Bupan sesekali punya teman laki laki. Tapi muoanya kenapa babak belur begini ya? Ada apa gerangan? Habiskah ia berantam? Tapi apa penyebabnya?"


"Itu, wajahnya kenapa Bintang? Kok babak belur gitu?" tanya Bu Mila penasaran.


"Ini tante, Bintang habis..." jawabnya yang belum selesai berbicara langsung dipotong oleh Pak Irwan.


"Pasti habis berantem kan." ucap pak Irwan yang sudah tak bisa menahan amarahnya lagi. "Mending kamu pergi dari sini dan jangan pernah berteman lagi dengan putri saya".


"Tapi om... ". Bintang benar benar berharap agar Om Irwan memberinya sedijit kesempatan u tuk menjelaskannya dan membiarkan ia untuk dekat dengan Bulan.


"Gak ada tapi tapian. Saya tidak sudi anak saya punya teman macam kamu, suka berantem" bentak Pak Irwan lagi, memotong ucapan Bintang.


"Pergi!" bentaknya sekali lagi mengusir Bintang dengan kasar. "Sebelum saya pake kekerasan".


Sementara itu, Bulan yang tengah menahan tangisnya karena sebenatar lagi akan kehilangan seorang teman, hanya bisa diam menjadi pendengar setia. Ingin sekali ia angkat bicara untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Tapi apalah daya, suaranya serasa tertahan ditenggorokannya.


Bintang menatap tajam ke arah Bulan. Wanita itu hanya diam saja. Tak membelanya dan memberikan penjelasan yang sesungguhnya kepada ayahnya. Kalau boleh jujur, hati Bintang serasa terpukul waktu itu. Ia sudah menolong Bulan magi matian. Bahkan nyawanya hampir terancam. Namun apa balasan yang didapat dari gadis itu? TAK MENGANGGAPNYA SEKALIPUN. Sungguh, Bintang benar benar kecewa. "Dasar cewek tak tau terima kasih" batin Bintang sebelum berlalu dari tempat itu dengan wajah yang tampak marah. Tampak dari raut wajahnya ia sepertinya sedang menahan emosinya. Dan Bulan, ia hanya meratapi kepergian laki laki tersebut dengan rasa bersalah.


"Lan, kenapa lho **** banget sih? Bintang itu udah nolongin lho, kenapa lho gak belain dia di depan bokap lho sendiri."  ucap Bulan kesal sambil merutuki dirinya sendiri atas kebodohannya. Malam ini, ia menangis sejadi jadinya. Ia melupakan kekesalan dan kesedihannya di dalam kamarnya. Dan sepertinya hanya itu yang bisa dilakukannya, hanya bisa meratapi kepergian Binatang.


Sementara itu, Bintang tak kalah emosinya. Ia meluapkan kemarahan dan kekesalannya di sebuah ruangan dengan meninju ninju tembok. Ia tak peduli kalau tangannya sampai memar. Tiba tiba seseorang datang menghampirinya dan menenangkannya.


"Ada apa, Tang?" tanya sosok laki laki yang tengah duduk berjongkok di depan Bintang.


"Pergi!" bentak Bintang.


"Gue gak akan pergi. Gue bakal selalu ada buat lho. Tolong cerita ke gua, ada apa?" ucap Surya.


"Gue bilang pergi, ya pergi." bentak Bintang.


Surya terdiam setelah itu.


"Please, beri gue waktu sekarang untuk sendiri. Tolong ngertiin gue " ucap Bintang sedikit lembut.


Surya menatap lekat sahabatnya itu kemudian meninggalkannya sendirian di kamar. Ia tau pasti Bintang tengah memiliki masalah sekarang, makanya sampai emosi seperti itu.


Ya, benar. Sepulang dari rumah Bulan, Bintang tak langsung menuju ke rumahnya, melainkan menuju ke rumah Surya. Bisa bisa ia makin stres jika menuju ke rumahnya dalam kondisinya yang sekarang.


"Lan, mau lho apa sih? Lho sendiri gue temanin, lho sedih gue hibur, lho jatuh gue bantu berdiri, lho kesulitan gue bantu. Gue kurang baik apa lagi Lan? Semuanya udah gue berikan sama lho Lan. Tapi apa balasan yang lho berikan?" ucap Bintang sambil tersenyum miring. "Lho bahkan gak ngerhagain semua pemberian gue itu. Gue nyesal Lan, gue nyesel udah kenal cewek kayak lho."


"Arghhh. Gue benci Bulan Purnamasari. Gue benci." teriaknya sambil memegang  kepalanya frustasi. Tanpa ia sadari ada seseorang yang mengintipnya dari balik pintu.