
"WOI CEWEK MANIS, NAMANYA SIAPA?! TUNGGU ... GAK MAU KENALAN SAMA GUE, NIH?!" Suara seseorang yang seperti tak asing di telinga Bulan terdengar menggelegar di ruangan tersebut. Tak lama, batang hidung cowok itu nampak. Berjalan mendekat ke arahnya.
Semua orang yang ada di supermarket itu langsung menoleh ke sumber suara, termasuk Bulan dan Mila. Beberapa dari mereka bertanya-tanya siapa yang dimaksud cowok itu. Berbeda dengan Bulan yang tersentak melihat siapa orang dibalik teriakan tadi.
"AHH, ADA COGANNNN!!!"
"OH MY GOD, GANTENG BANGET!!!"
"PACAR GUE ITU!!!"
"BANG, NYARIIN GUE KAN?!"
Pengunjung supermarket mulai rusuh. Mereka bertanya-tanya dan saling tuduh-menuduh mengenai siapa yang dimaksud cogan itu.
"YANG PAKE BAJU MERAH, RAMBUT DIIKAT JADI SATU. DAN SEKARANG LAGI MENENTENG BARANG BELANJAAN DI DEPAN KASIR." Cowok itu kembali berteriak, memberikan ciri-ciri mengenai karakteristik cewek yang tengah diteriakinya.
"Katanya yang pake baju merah. Siapa yang pake baju merah?"
"Siapa sih tuh cewek? Palingan cantikan gue kemana-mana."
"EH, GUE NIH YANG PAKE BAJU MERAH! PASTI GUE NIH YANG DICARIIN," teriak seorang gadis secara tiba-tiba.
"Tapi lo gak berdiri di depan kasir sambil bawa barang belanjaan goblok!" Cewek lain yang berdiri di sampingnya menabok kepala sahabatnya itu.
Gadis yang berteriak barusan mengelus kepalanya yang berdenyut sakit. "Santai dong!" cibirnya kesal.
Keadaan kembali rusuh. Semua pasang mata mencari-cari orang yang dimaksud sesuai dengan ciri-ciri yang diberikan cowok itu. Hingga semua pasang mata menangkap siluet seorang gadis yang sama persis dengan ciri-ciri yang disebutkan si cowok.
"Kayaknya itu, deh ..." ucap gadis yang berteriak tadi sembari menunjuk Bulan.
"Iya, ciri-cirinya sama persis," celetuk temannya yang lain ikut menimpali.
"Fiks, dia orangnya. Tapi, cantik juga sih."
"Kayaknya, mereka pacaran deh. Cocok sih."
"Bulan ... ka-kamu?!" Mila menatap putrinya bingung. Mulutnya terasa keluh tak dapat berkata-kata.
Bulan melebarkan bola matanya. Kini, dirinya menjadi pusat perhatian. Dalam hati, dia mengumpat kasar karena cowok itu telah meneriakinya dan berhasil membuatnya malu. Bisik-bisik tentangnya mulai terdengar.
"Ma, ayo kita pergi," ajak Bulan tergesa-gesa, menarik pergelangan tangan sang ibu menjauh dari tempat itu.
"Eh, tapi bukannya itu ..." Mila mencoba bertahan di tempat ketika Bulan menarik pergelangan tangannya untuk pergi. Dia yakin kalau putrinya ini yang sedang diteriaki cowok yang kian mendekat ke arah mereka.
"Ma, ayok!" Suara Bulan kian meninggi.
"I-iya ..." Mila pasrah, dia mengikuti kemana Bulan membawanya pergi. Tetapi, matanya masih sesekali mengawasi cowok itu.
Baru saja dua perempuan beda usia itu hendak melangkahkan kakinya keluar dari supermarket, cowok itu sudah lebih dulu datang dan menghadang jalann mereka.
"Eits, tunggu dulu ..." Tahu-tahu, cowok itu sudah berdiri di depannya sambil mengumbar senyum manis. "Cantik-cantik kok main lari-larian, kenalan dulu dong sama aa' tampan."
Bulan mendengus lalu membuang muka, tak mau menatap wajah cowok itu.
"Lo bisa minggir gak? Gue sama nyokap gue mau lewat. Lo jadi orang ganggu banget sih," dumel Bulan tak kuasa menahan emosi, kentara sekali nada kesal dalam ucapannya.
"Oh, jadi ini mama-nya ..." Pandangan cowok itu teralih pada wanita paruh baya yang berdiri di samping Bulan.
Dia menelisik penampilan wanita itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Manggut-manggut lalu menyalimi tangan Mila. "Malam, Tante!" sapanya sok ramah, "saya boleh kenalan kan, sama anak tante?"
Bulan yang melihatnya mendengus sebal. Dia memandang sinis cowok itu. Tak lupa berbagai macam cibiran yang dilontarkannya dalam hati. Di depan nyokap-nya aja, sok baik, sok yes.
Mila mengulum senyum. "Malam juga ganteng. Boleh, kok."
Bulan menatap kaget sang ibu. "Loh, Ma ..." protesnya tidak terima.
Bulan memutar bola mata malas lalu mencibir kesal. "Ck! Gak ganteng sama sekali," gumam Bulan, masih dengan pandangan sinisnya.
"Eh, tante Bilang apa tadi? Bulan?! Jadi nama anak tante, Bulan?" tanya cowok itu beruntun, menghiraukan cibiran Bulan.
"Bukan," sanggah Bulan ketus.
Lain halnya dengan Mila, wanita itu menganggukkan kepalanya mantap.
"Woah, nama saya Bintang tante." Cowok yang ternyata bernama Bintang itu memperkenalkan dirinya di depan Mila dan Bulan. Tampak binar di kedua bola matanya disertai decakan kagum yang keluar dari mulutnya. "Bulan, Bintang. Nama kita klob kan, Tan?" tanya cowok itu heboh.
Lagi-lagi, Mila mengulum senyum lebar. Mengangguk pelan seolah setuju dengan ucapan cowok itu barusan. "Hm, nama yang bagus."
"Ah, udah ah, gue sama nyokap mau pulang. Minggir gak lo!" Bulan menyela percakapan mereka berdua dan menarik pergelangan tangan Mila membawanya pergi dari tempat itu.
"Eh, tapi-" Cowok itu hendak menahannya, tetapi Bulan menepis tangannya kasar sehingga terbebas dari cekalan cowok itu.
Cowok itu berdecak sebal seraya menatap nanar kepergian Bulan dan Mila.
"RUMAH LO DIMANA?! GUE KAN BELUM TAU," teriak cowok itu.
Bulan yang sudah keluar dari pintu supermarket balas berteriak, "GAK USAH CARI TAU."
Dan tinggallah cowok itu garuk-garuk kepala seperti orang bodoh. Di sini, dia serba salah. Dalam hati bertanya-tanya. Kenapa cewek manis pemilik nama Bulan itu tidak terklepek-klepek dengan wajah tampannya?
***
"Siapa?" tanya Mila bersamaan dengan berhentinya laju mobil mereka di bagasi kediaman keluarga Purnama.
Bulan yang hendak membuka pintu mobil berniat untuk turun dari sana, mengurungkan niat. Dia beralih menatap bingung sang ibu yang duduk di bangku kemudi. Satu alisnya terangkat ke atas meminta jawaban lebih dari wanita paruh baya itu.
"Apa?" Bulan bertanya balik.
Tampak, Mila yang menggusah napas kasar. Dia yang semula menatap Bulan beralih mengambil barang belanjaan mereka yang ada di jok tengah. Lalu, Mila membuka pintu mobil dan turun dari sana, mengabaikan pertanyaan Bulan.
Bulan yang semula terdiam memperhatikan gerak-gerik sang mama mengerut kening dalam. Dia sama sekali tidak paham kemana arah pertanyaan Mila barusan. Mengendikkan bahu mencoba acuh, lalu turun dari mobil.
"Ma, tunggu!" Bulan sedikit berlari untuk menyamai langkahnya dengan Mila. Lalu, gadis itu mengambil alih barang belanjaan di tangan Mila.
"Yang tadi." Mila kembali berucap, membuat kerutan di kening Bulan kembali terlihat.
"Hah?" Bulan menatap Mila dalam. Ambigu.
Mila kembali menggusah napas kasar. Wajahnya yang menoleh ke samping beralih menatap Bulan. Dia mengusap surai hitam milik gadis itu dengan penuh sayang. Senyum tipis perlahan terbit di wajahnya yang mulai keriput. Hal itu semakin membuat kerutan di kening Bulan bertambah.
"Cowok yang di supermarket tadi ... teman kamu?!" Akhirnya pertanyaan itu terlontar juga dari mulut Mila.
Bulan melongoh untuk beberapa saat. Dia menatap mamanya tidak percaya. Jadi, sedari tadi, mama membahas cowok itu?
Mengerjap dua kali, seketika dia tersadar dari lamunan. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya seolah menjawab tidak kenal. "Eng-enggak. Bulan kenal aja enggak."
"Bener gak kenal, hm? Kok, mama sedikit gak percaya, ya?" Mila memicingkan matanya seolah tidak percaya dengan jawaban yang diberikan putri semata wayangnya itu. Padahal, niat aslinya untuk menjahilinya. Posisinya sekarang seperti sedang mengintrogasi gadis itu.
Tampak, raut panik menyelimuti wajah gadis itu. "Be-benar kok, Ma. Bu-bulan gak bohong, suer deh!" ujarnya mencoba menyakinkan sang mama.
"Tapi, kok, gugup gitu?" Mila dengan tatapan penuh selidiknya, semakin gencar untuk menjahili gadis itu.
"Au ah, gelap. Mama nyebelin." Bulan yang sudah terlanjur kesal melenggang pergi dari sana-masuk ke dalam rumah duluan. Tampak, mulutnya yang berkomat-kamit tidak jelas, menggerutu kesal.
Mila yang tengah bersedekap dada menggeleng-gelengkan kepalanya melihat reaksi gadis itu. Terkekeh pelan, lalu berlalu dari tempat itu menyusul Bulan.
***