
Lagi dan untuk yang ke sekian kalinya. SMA Mahardika kembali viral karena prestasi yang diukir oleh murid-muridnya.
Di akhir tahun, sebelum pelaksanaan ujian semester gasal. Dua murid dari kelas XI IPS 1 berhasil mengharumkan nama baik sekolah dan menjadikannya topic trending di berbagai sosial media dengan sebuah karya tulis karangan mereka.
Baru kemarin buku novel itu melakukan open pre order, tetapi jumlah pemesanan sudah lebih dari 2.000 eksemplar. Sebuah novel yang diterbitkan tahun lalu di salah satu penerbit besar di Indonesia, diterbitkan ulang dengan alur cerita yang berbeda. Dikabarkan alur cerita edisi terbarunya lebih seru dan penuh plot twist dari versi yang sebelumnya.
Lagi dan lagi. Ini tentang Roy dan Rani. Penulis pemula yang mencapai puncak kejayaan di usia muda.
Bisik-bisik terdengar di sekitar mereka begitu melintasi koridor sekolah.
“Eh, itu mereka bukan, sih?” tunjuk seorang murid ke ujung koridor saat menyadari kedatangan keduanya.
“Mana, mana?” seru murid lainnya heboh.
“Itu, loh! Masa enggak liat, sih?!” tunjuk murid itu lagi. Nada suaranya kini terdengar lebih greget dari sebelumnya.
“Iya, itu Roy dan Rani,” sahut beberapa murid secara serempak.
”Kita samperin, yuk!” ajak murid yang tadi pertama kali menyadari keberadaan Roy dan Rani.
Teman-temannya mengangguk setuju, kemudian dengan heboh menghampiri kedua sosok yang sedang berjalan ke arah mereka.
“Hai, Kak. Bisa minta fotonya enggak?” Salah satu dari kelima murid itu menyapa begitu berdiri tepat di hadapan dua penulis muda itu.
“Boleh, dong!” sahut Rani, direspons antusias oleh kelima murid perempuan itu.
Sementara Roy hanya menampilkan raut wajah tanpa ekspresi. Tidak mengiyakan dan tidak menolak juga saat kelima murid itu mengerumuni mereka.
Seutas senyum terbit di bibir Rani. Si fotografer dadakan yang merupakan seorang murid lain yang tak sengaja lewat mereka mintai tolong, menyuruh mereka memasang gaya pose.
Lanjut memberi aba-aba, “Satu... Dua...”
Dan, “Cheese.”
Begitu terus diserukan beberapa kali sampai mendapat beberapa gambar dengan pose yang berbeda. Setelah beberapa jepretan, mereka menyudahi hal itu.
“Makasih, ya,” ujar Rani pada si fotografer dadakan begitu handphone yang digunakan untuk memotret diambil alih kembali oleh salah satu dari kelima murid itu.
Murid laki-laki itu mengangguk singkat, kemudian bergegas pergi. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.
Rani beralih melirik kelima murid di depannya yang kini tampak saling berebut handphone untuk melihat hasil foto mereka.
“Udah, kan?” tanyanya berhasil menarik atensi kelima gadis itu.
Serempak mengangkat wajah dan mengangguk. “Makasih, Kak.” Wajah mereka tampak berseri-seri saat berkata demikian.
Anggukan singkat dia dapat dari Rani sebelum gadis itu beranjak pergi. Tergesa-gesa menyusul Roy yang entah sejak kapan tahu-tahu sudah menghilang dari pandangan.
“Keren banget, ya, jadi mereka. Defenisi sukses di usia muda. Pasti orang tuanya bangga banget punya anak kayak mereka.”
“Walau masih pemula, tapi novelnya emang keren banget, sih. Gue udah baca dan enggak mengecewakan. Alur dan tata bahasa kepenulisannya udah kayak sekelas penulis-penulis besar. Pasti versi terbarunya lebih keren.”
“Eh, emang lo enggak liat spoiler ceritanya di postingan IG penerbitnya kemarin? Emang ceritanya lebih greget, nj*r!”
“Woiii, kemarin pas PO gue hampir kehabisan stok nj*r! Suvenirnya enggak gue dapat karena paketnya udah habis selain paket hemat yang cuma novelnya doang. Tapi enggak papa, sih, yang penting udah dapet bukunya.”
“Untung kemarin gue gercep.”
***
Sementara di antara keriuhan murid-murid pagi itu. Di depan sebuah kelas yang menghadap langsung ke koridor utama. Tepatnya di pintu kelas, berdiri dua orang murid sambil bersandar ke tiang pintu. Tangan saling melipat di depan dada.
Bulan dan Renata. Dua gadis itu hanya menyaksikan dari kejauhan, meski hati menggebu-gebu sangat ingin menghampiri Roy dan Rani, lalu meminta foto seperti yang lain. Tepatnya, hanya Renata yang se-excited itu. Sementara Bulan bersikap biasa saja karena tidak terlalu mengerti keadaan. Bahkan, dia baru tahu sekarang bahwa di sekolah barunya ada murid yang bertalenta di dunia kepenulisan.
“Roy dan Rani. Mereka saudara kembar. Tahun kemarin, mereka viral karena novel perdananya yang di tulis di sebuah platform online berhasil naik cetak oleh penerbit besar. Viral-nya bukan cuma di sekolah, tetapi sampai di luar. Itu suatu kebanggan buat SMA Mahardika. Bahkan, saking senangnya kepsek, biaya sekolah mereka berdua dibebaskan.”
Renata menoleh ke samping usai bercerita panjang lebar. Satu hal yang berhasil menyulut emosinya karena tak sekalipun Bulan mengindahkan ucapannya. Gadis itu hanya diam melamun dengan pandangan lurus ke depan.
“Ihhh, Bulan! Lo dengar enggak, sih, omongan gue?” celetuknya sebal.
Bulan bergumam, lalu menyahut malas. “Iya, dengar.”
Renata membelalakkan matanya sampai-sampai rasanya hendak terjungkal keluar. “Lo enggak ada respons berupa wow, begitu?” tanyanya excited.
Bulan menatap Renata sekilas, lalu melengoskan pandangannya kembali. Hanya endikan bahu sebelah yang Renata terima.
Renata menarik napas dalam. Mulai emosi melihat respons Bulan yang menurutnya kelewat santai. “Sumpah lo, Lan,” gumamnya geleng-geleng, tak habis pikir lagi.
Bersamaan dengan dua murid yang menjadi sorotan hangat pagi itu menghilang di balik pintu kelasnya, Bulan pun berbalik badan dan melangkah ke dalam kelas. Menghiraukan Renata yang masih mencak-mencak di tempat.
Riuh kelas yang didominasi oleh murid-murid cowok di pojok belakang sedang berulah, menyambut Bulan. Juga teriakan histeris beberapa murid perempuan—melebihi lengkingan kuntilanak—ketika murid laki-laki menjahili mereka.
Di antara kericuhan yang terjadi di pagi itu, seorang murid yang duduk di bangku kedua dari depan, tepatnya di barisan seberang tempat duduknya sedikit menarik perhatian. Seorang murid laki-laki yang sedang menelungkupkan wajahnya di atas meja. Mungkin sedang tidur, pikir Bulan.
Tumben, datang pagi. Biasanya juga jadi buronan Pak Andre karena terlambat, batin Bulan mencibir.
Merasa diperhatikan, murid laki-laki itu mengangkat wajah. Bola mata merah itu menatapnya gamang. Namun, bukan itu yang menjadi fokusnya Bulan. Rambut acak-acakan, seperti tak pernah dikenai sisir. Dan... beberapa luka lebam yang belum kering tampak mencuat dan merusak wajah tampannya.
Mencoba bodoh amat, Bulan memalingkan pandangan dan berjalan ke tempat duduknya. Tanpa menghiraukan lagi tatapan cowok itu yang terus mengawasi gerak-geriknya.
Meski, terus bertanya-tanya dalam hati apa yang terjadi padanya? Memang penampilan cowok itu tidak perlu dipertanyakan lagi. Selalunya acak-acakan dan tak pernah rapi setiap hari. Tetapi rasanya, penampilannya hari ini sedikit berbeda.
***