
“Bagaimana keadaanmu sekarang?”
Malam itu, selepas makan malam di kediaman Irawan. Setelah keheningan melanda mereka selama acara makan malam berlangsung, suasana mencekam itu cair begitu sang kepala keluarga membuka suara.
Dua tatapan sekaligus mengintimidasi Bulan seolah meminta jawaban darinya. Gadis itu meneguk saliva gugup, langsung menenggak segelas air dalam gelas untuk menghalau rasa itu. Dia tidak tahu hendak menjawab apa karena yang sebenarnya terjadi dia tidak sedang sakit. Memangnya kapan dia sakit? Bulan tidak ingat hal itu.
Hal yang membuatnya terus bertanya-tanya sedari tadi karena orang rumah terus mempertanyakan kondisinya. Bahkan Renata teman kelasnya sekalipun mengatakan bahwa dia tidak masuk sekolah karena sakit.
“U-Udah baikan, Pa,” sahutnya terpaksa berbohong. Dia tidak boleh mengatakan yang sejujurnya atau Irawan akan memarahinya. Lebih baik dia mengikuti alur cerita ini yang membuat kepalanya pusing.
“Syukurlah, sayang.”
Bulan melirik ke arah sang bunda. Seutas senyum teduh Bulan dapat di wajah wanita itu. Seketika membuat hati was-was itu perlahan tenang. Ya, bukan Irawan yang merespons ucapannya barusan, melainkan Mila.
“Makasih, Ma.” Bulan bergumam pelan.
Hening sejenak sebelum Bulan beranjak dari tempat duduknya.
“Ma, Pa. Bulan ke kamar duluan, ya,” pamit gadis itu.
Diangguki oleh Mila, sementara Irawan hanya memasang wajah datar seperti biasanya. Bulan menggusah napas lelah saat tak sengaja bola mata mereka bertubrukan.
Kemudian gadis itu berlalu meninggalkan kedua orang tuanya yang masih betah duduk di meja makan. Bulan sedikit berlari saat menaiki tangga. Suara derap langkah kaki bergema nyaring di ruangan megah itu.
Langkahnya berhenti tepat di undakan tangga terakhir saat mendengar teriakan sang ayah dari lantai bawah.
“Bulan, obatnya jangan lupa minum. Papa liat kondisi kamu belum pulih total!”
Sudut bibir gadis itu perlahan melengkung ke atas. Dia berbalik tepat saat membentuk sebuah senyuman yang lebar. “Iya, Pa,” sahutnya ceria dari sebelumnya.
Setelah sekian lama Bulan tidak mendengar kata-kata itu dari bibir sang ayah, tetapi spesial untuk malam ini. Bulan melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar dengan hati berbunga-bunga.
***
“Jadi, gimana target lo yang selanjutnya? Berhasil?”
Cangkir keramik yang baru saja ditenggaknya itu ditaruh kembali di atas meja. Dua cangkir chocolate hot tertata di atas meja cafe. Sangat cocok ditemani sebagai teman nongkrong di cuaca dingin seperti ini.
Malam kian larut. Pengunjung di cafe pinggir jalan itu mulai sepi. Hanya terlihat beberapa pengunjung yang terpencar di beberapa tempat. Seperti dua pemuda yang duduk di bangku pojok dekat pintu masuk sudah mengobrol sejak satu jam yang lalu dan sampai sekarang belum ada tanda-tanda untuk mengakhiri perbincangan yang kian seru.
Seringai tipis melengkung di bibir pemuda yang ditanya. Tatapan matanya dalam. Terlihat begitu mengerikan jika diperhatikan dari sudut yang berbeda. Badan yang disandarkan ke sofa cafe seiring dengan suara yang terlontar bibirnya.
“Bulan Purnamasari,” ujarnya menyebut nama itu membuat si penanya tadi mengernyit merasa tak asing dengan nama itu.
“Percobaan pertama berhasil, dan gue cuma tunggu waktu yang tepat untuk percobaan-percobaan selanjutnya. Sebelum sampai di puncak game,” lanjut pemuda itu masih dengan seringai di bibir.
Alis pemuda yang satunya terangkat ke atas. Kata-kata terakhir si pemuda berwajah mengerikan itu tampak menarik perhatiannya. Tegukan terakhir pada chocolate hot pesanan mereka sejam yang lalu pertanda seberapa panjangnya obrolan mereka.
“Sepertinya target kali ini berbeda dari korban-korban sebelumnya. Biasanya lo langsung ke puncak game,” katanya menyadari kejanggalan itu.
Kekehan ringan yang dia dapat membuat pemuda itu kian bingung dengan tingkah sahabatnya.
***
Koridor sekolah sedang ramai-ramainya saat Bulan melintas di pagi itu. Namun, ada yang aneh pagi ini. Semua pasang mata tertuju padanya. Bukan dengan pandangan memuja seperti hari pertama Bulan masuk sekolah, melainkan kebalikannya.
Cibiran berupa bisik-bisik tak sekali dua kali Bulan terima. Bahkan dengan terang-terangan dilayangkan padanya tanpa memikirkan bagaimana perasaan gadis itu.
Sepanjang koridor menuju kelas Bulan hanya memasang wajah datar mencoba abai dengan sekitar yang sedang panas-panasnya. Karena jika Bulan sampai terbakar oleh ucapan mereka maka suasana akan semakin panas. Meski dalam hati terus bertanya-tanya tentang kesalahan apa lagi yang sudah dia perbuat sampai mendapat perlakuan buruk seperti ini.
Di ujung koridor perbelokan ke gedung kelasnya berdiri seorang gadis dengan kedua tangan terlipat di dada sambil bersandar ke tiang gedung. Pandangannya lurus ke depan menelisik penampilan Bulan dari atas ke bawah. Seringai tipis yang terukir di bibir seolah menjadi sebuah petunjuk bagi Bulan dari jawaban pertanyaan dalam hatinya.
Caci maki yang Bulan terima pagi ini tampaknya bersumber dari gadis licik yang kini menghadang jalannya. Mentari, dialah dalangnya.
“Minggir! Gue mau lewat,” kata Bulan ketus. Enggan meladeni sikap semena-mena Mentari.
Mentari menaikkan satu alis dengan senyum remeh tersungging di bibir. “Emang gue peduli?” balasnya sinis.
“Minggir gue bilang!” tekan Bulan di setiap katanya. Tatapan gadis itu menelisik tajam, tampaknya mulai muak dengan tingkah Mentari.
Mentari berdecak, lanjut tertawa renyah. “Lo berani sama gue?” tanya Mentari dengan nada songongnya.
Bulan mengabaikan pertanyaan gadis itu. Dia membuang muka saat Mentari mengintimidasinya lewat tatapan. Tidak minat merespons-nya meski dalam hati sudah berontak ingin berteriak, “Iya, memang siapa yang takut sama lo?!”
Mentari memiringkan kepalanya lanjut memicingkan mata. “Gue perhatiin makin hari lo makin songong, ya. Baru juga dua minggu sekolah di sini udah belagu aja lo. Awalnya aja yang keliatan sok polos, aslinya setan lo, ya!”
Bulan menghela napas gusar. Dia menatap Mentari dengan sayu. “Udah, ngomongnya? Kalo udah, minggir! Gue mau lewat.”
Lepas mengatakan itu, Bulan berlalu dan melewati Mentari begitu saja. Bahkan dengan sengaja menubruk badan Mentari yang menghalangi jalannya.
Sembari memegangi pundaknya yang sedikit perih, Mentari memelototkan matanya menatap berang kepergian murid baru itu.
“Sialan lo, ya! Awas aja kalo ketemu gue lagi!” pekik Mentari kesal.
Tahu-tahu Renata yang sedari tadi menyaksikan adu cekcok dua gadis itu perlahan berjalan mendekati Mentari dengan kedua tangan bersedekap dada. Tawa meledek yang langsung tersembur dari mulutnya membuat Mentari seketika menoleh sinis.
“Gimana rasanya diperlakukan buruk oleh Bulan?” Masih dengan sisa-sisa tawanya, Renata melayangkan pertanyaan. Satu alis terangkat menatap remeh Mentari.
“Enggak usah ikut campur lo, sialan!” desis Mentari murka. Rasanya amarah yang belum reda karena Bulan, kini kembali meletup-letup oleh kedatangan Renata.
Menghiraukan raut kesal lawan bicara, Renata kembali menceletuk. “Tapi gue salut, sih, sama Bulan. Dia murid baru tapi berani sama lo, enggak kayak korban-korban bullying lo sebelumnya.”
Renata memasang seringai lepas mengatakan itu, kemudian berlalu pergi dengan gaya anggun. Melewati badan Mentari persis yang dilakukan Bulan.
Mentari mengepalkan tangannya sampai-sampai buku-buku tangannya terlihat.
“Brengs*k lo, Renata! Kalian berdua tuh sama aja, ya!”
***